June 11, 2011

Animal Farm

Posted by Retya Elsivia at 11:13 PM

 Secara umum, tokoh Napoleon melambangkan pemerintah yang akhirnya menjadi diktaktor, bisa jadi Soeharto, Mao Zedong, Fidel Castro, Idi Amin, Saddam Hussein , Augusto Pinochet,Slobodan Milošević dll. Peternakan Hewan juga dapat melambangkan negara-negara yang mereka perintah, baik Indonesia, RRC, Kuba,Uganda, Irak, Chili, Yugoslavia, dll.
George Orwell adalah salah seorang dari kelompok radikal itu. Ia mengarang Animal Farm sebagai sebuah aksi protesnya terhadap keresahan politik yang terjadi pada masanya. Animal Farm memiliki kelebihan satu dimensi dibandingkan karya lain sastra pada umumnya. Dimensi pertama, yang dimiliki semua jenis karya sastra, adalah nilai olahan imajinasi manusia terhadap lingkungannya, sedangkan yang kedua adalah nilai fungsional yang terkandung di dalamnya, yaitu unsur kritik.
        Animal Farm adalah sebuah karya yang benar-benar unik. Sebagai sebuah cerita fabel, ia mampu menghadirkan drama kehidupan sebuah kerajaan binatang yang dipenuhi dengan khayalan yang menyakinkan dan hampir nyata; satu-satunya hal yang mustahil adalah kemampuan para binatang itu untuk berpikir, sementara tindak-tanduk mereka dalam cerita itu merupakan perilaku normal binatang yang diolah sedemikian rupa sehingga mengangkat permasalahan moral antara  baik dan buruk yang biasa muncul dalam cerita-cerita fabel dikalangan anak-anak. Contohnya Orwell dapat saja mengutarakan tentang bahayanya sikap mementingkan kepentingan sendiri yang terjadi pada diri Mr. Jones yang diusir dari peternakannya sendiri atau mungkin memakai ilustrasi diri Old Major sebagai teladan pemimpin yang baik untuk ditiru. 
        Sedangkan bila dilihat melalui kacamata pihak lain, di tangan pembaca yang sedikit lebih dewasa, cerita ini adalah sebuah karya sastra luar biasa yang mengkritik habis-habisan terhadap ide sosialisme yang dipercayai dapat mengatasi masalah ketidakadilan yang terjadi pada masa itu. Para tokoh binatang dalam cerita sebenarnya dapat menjadi perwakilan dari tokoh manusia yang benar-benar hidup di dunia nyata. Tokoh yang paling jelas mewakili seseorang di kehidupan nyata adalah Napoleon, yang secara kebetulan (?) mirip dengan tokoh Napoleon Bonaparte dari Perancis yang telah melakukan banyak perubahan sistem dalam Reformasi Perancis. Walaupun begitu, penafsiran ini tidak hanya berhenti pada Bonaparte saja, melainkan dapat dikembangkan pada tokoh-tokoh sejarah lainnya yang akan dibahas pada beberapa bagian di depan.
        Kisah yang terjadi pada suatu masa di sebuah peternakan di Inggris itu memakai metode penceritaan melalui sudut pandang orang ketiga. Orwell membatasi dirinya pada deskripsi badaniah, tanpa menyentuh alam pikiran para tokoh dalam ceritanya. Pemilihan sudut pandang orang ketiga ini memberikan efek yang cukup bagus karena membuat pembaca dapat mengalir perlahan bersama-sama dengan para binatang yang ada di dalam cerita itu. Sebagaimana para binatang tidak mengetahui perubahan yang terjadi pada kehidupan kaum babi, begitupula pembaca tidak memiliki perkiraan sedikitpun bahwa babi-babi itu dikemudian hari akan menjadi agen pengacau dalam cerita tersebut. Pada bab ketiga, dengan metode ini, Orwell menuliskan seperti ini:
        The pigs did not actually work, but directed and supervised the others. With their superior knowledge it was natural that they should assume the leadership. [halaman 25]
        Pembaca pada umumnya akan menaruh simpati yang cukup besar, apalagi bila mengingat bahwa Old Major juga seekor babi, pada kaum babi yang memiliki sikap kepemimpinan tersebut, sama seperti para binatang lainnya yang pada awalnya sungguh menghormati kaum babi itu di Animal Farm. Kemudian   Orwell melanjutkannya  dengan narasi “the pigs with their cleverness and boxer with his tremendous muscles always pulled them through.” [halaman 26], lalu “It was always the pigs who put forward the resolutions.”  Secara tidak sadar, pembaca dibawa kepada suatu fakta bahwa babi-babi itu berhati mulia, sampai akhirnya pembaca sampai pada kalimat berikut:
        Snowball and Napoleon were far most active in the debates. But it was noticed that these two were never in agreement: whatever suggestion either of them made, the other could be counted on to oppose it. Even when it was resolved – a thing no one could object to in itself – to set aside a small paddock behind the orchard as a home of rest for animals who were past work, there was a stormy debate over the correct retiring age for each class of animal. [halaman 28]
        Masyarakat Rusia dan dunia pada saat itu juga telah melalui beberapa tingkatan yang mirip dengan penguraian Orwell dalam Animal Farm. Sewaktu pertama kali muncul, faham sosialis itu merupakan sebuah balsam sejuk bagi ‘luka-luka’ yang dialami oleh kelas menengah ke bawah. Social gap yang disebabkan oleh prinsip kapitalisme telah membuat kepahitan yang besar, dan ketika seorang yang berlatar belakang agamawan muncul dengan membawakan dunia ideal yang terjamin kesamaan hak, maka orang tersebut beserta dengan faham yang ia bawa akan segera disambut dengan loyalitas yang tinggi. 
        Sampai pada suatu titik, beberapa orang dari kelas bawah itu mulai menyadari bahwa telah terjadi beberapa penyimpangan dan semakin lama justru politik yang dijalankan semakin jauh dari jalan sosialisme yang telah dijanjikan sebelumnya. Orwell adalah salah seorang dari mereka yang memiliki keberanian, kesempatan, dan kemampuan untuk menyuarakan fakta yang sebenarnya terjadi kepada sisa rakyat yang belum tersadarkan.  Animal Farm pertama kali diterbitkan pada tahun 1945. Sebagai sebuah karya satir, Orwell mengalami kesulitan untuk menerbitkannya di Inggris, karena saat itu Rusia masih merupakan negara partner dengan Inggris.
        Dalam novelnya, jika Orwell memakai sudut pandang orang pertama, pasti ia sudah harus menuliskan pikiran dan rencana tokoh utamanya sejak semula dan dengan demikian ia tidak dapat mengadakan sebuah turning point yang mengejutkan bahwa babi-babi itu adalah kaum yang bermasalah; disinilah letak kejelian Orwell dalam memilih sudut pandang orang ketiga tersebut. Lagipula, bila Orwell memakai sudut pandang orang pertama dan memilih untuk berbicara melalui Napoleon (karena dialah yang menjadi tokoh paling sentral dalam cerita), maka Orwell akan mau tidak mau harus menceritakan jalan pikiran Napoleon dan ini membuat pembaca tidak bersimpati pada tokoh ini.
        Selain itu, Orwell juga lebih banyak menggunakan narasi daripada menyajikan kutipan pembicaraan antara para tokoh dalam ceritanya. Kutipan dialog-dialog yang panjang hanya terdapat pada awal dari cerita saja, yaitu bab pertama. Selanjutnya mulai dari bab kedua, Orwell kembali pada metode narasi murni, sambil sesekali mengadakan kutipan pembicaraan demi menjaga jalan cerita tidak terlalu membosankan dan terasa hidup.
        Pengutipan langsung dari dialog biasanya dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu pembicaraan itu dapat dianggap penting. Bila diperhatikan lebih lanjut, ternyata kutipan dialog-dialog yang sedikit tersebut pun memiliki tujuan khusus. Orwell berusaha menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosialisme pun, dimana keadilan dan kesamaan hak dijanjikan dengan penuh semangat, kebebasan berbicara tidak mendapat porsi yang adil. Orwell mengatur agar sebagian besar kutipan langsung dari dialog yang ada dalam novelnya berasal dari ucapan kaum pemimpin (babi). Secara tidak langsung hal ini menggambarkan bahwa kemampuan untuk mengeluarkan pendapat hanya berada pada pihak pemerintah. Lebih lanjut lagi, bila terdapat kutipan dialog dari seekor (atau seorang) binatang yang tidak termasuk kaum babi, maka pembaca dapat menemukan bahwa sang pembicara itu akan segera mendapat sanggahan dari pemerintah yang tidak setuju terhadap ucapannya yang vokal itu. Perhatikan 2 contoh berikut ini:
        ‘He fought bravely at the Battle of Cowshed,’ said somebody.
        ‘Bravery is not enough,’ said Squealer. ‘Loyalty and obedience are more important. And as to the Battle of Cowshed, I believe that the time will come when we shall find that Snowball’s part in it was much exaggerated.’ [halaman 50]
        ‘What victory?’ said Boxer. His knees were bleeding, he had lost a shoe and split his hoof, and a dozen pellets had lodged themselves in his hindleg.
        ‘What victory comrade? Have we not driven the enemy off our soil – the sacred soil of Animal Farm?’ cried Squealer. [halaman 90]
        Bila pembaca berpikir sejenak, sebenarnya pemakaian sudut pandang orang ketiga itu juga merupakan metode yang baik sekali bagi sebuah karya yang mengandung unsur kritik sosial. Hal ini membuat pembaca merasa bahwa deskripsi alur dan penokohan  di sana  dapat sepenuhnya dipercaya karena si pembicara (speaker) bukan berasal dari golongan manusia (pemerintahan pertama), babi (pemerintahan kedua), ataupun dari binatang lainnya yang tinggal di Animal Farm (rakyat). Orwell dengan mudah memanipulasi karakter-karakter binatang di sana untuk memenuhi kriteria seorang pemimpin atau pemerintah (dalam kehidupan nyata).   
        Cara Orwell mengasosiasikan karakter binatang itu dengan manusia di kehidupan nyata sangatlah unik. Novel itu dapat dikatakan sebagai sebuah cara Orwell untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai faham Stalin dan Revolusi Rusia pada tahun 1945.  Oleh sebab itu ia memilih seekor babi bernama Napoleon sebagai major character dalam ceritanya. Sebagaimana telah disebutkan di atas, selain memiliki kemiripan dengan Napoleon Bonaparte dari Perancis, sebenarnya Napoleon dalam fabel Animal Farm merupakan sebuah perbandingan langsung terhadap Joseph Stalin.
        Orwell percaya bahwa sekalipun sosialisme merupakan sebuah pemikiran ideal yang baik, hal itu tidak mungkin dapat tercapai karena keadaan moral manusia yang sudah jatuh dan tak dapat terkendali. Keadaan Napoleon yang berakhir dengan kehausan akan kekuasaan sebenarnya juga dapat terjadi pada diri Snowball yang pada sepertinya memiliki program yang lebih baik. Sebelum menjadi seorang yang bergerak di dunia politik, Stalin adalah seorang anak muda yang menjalani pendidikan di sebuah sekolah teologi. Sampai pada suatu saat ia membaca sebuah buku terlarang yang berjudul Das Kapital, maka ia mulai terjun dalam paham Marxisme Rusia dan terlibat dalam kegerakan-kegerakan revolusioner di masa itu. Tetapi setelah berhasil berjaya, perlahan-lahan ia mulai meninggalkan ideologi sosialis itu dan memfokuskan diri pada ambisi dan kepentingan pribadi, sama seperti yang terjadi pada novel Animal Farm:
        Somehow it seemed as though the farm had grown richer without making the animals themselves any richer--except, of course for the pigs and the dogs.  
        Orwell juga tidak tanggung-tanggung dalam usahanya untuk menyempitkan penafsiran fabelnya pada pribadi Stalin. Dalam Animal Farm,Napoleon selalu di kawal oleh sejumlah anjing-anjing yang tidak pernah berbicara selain menggeram dan membungkam lawan. Ini merupakan  suatu hal yang menarik karena semua binatang di Animal Farm dapat berbicara, kecuali anjing-anjing tersebut. Padahal anjing itu sudah sedari kecil dipisahkan oleh Napoleon untuk dididik secara khusus, lalu mengapa mereka tidak dapat berbicara?
        It happened that Jessie and Bluebell had both whelped soon after the hay harvest, giving birth between them to nine sturdy puppies. As soon as they were weaned, Napoleon took them away from their mothers, saying that he would make himself responsible for their education. [halaman 31]
        Alasan Orwell adalah karena ia ingin mengidentifikasikan mereka dengan agen-agen KGB yang bergerak sebagai pasukan khusus yang ‘mengurusi’ lawan-lawan politik dari Stalin. Kata ‘education’ yang dimaksudkan oleh Napoleon sebenarnya adalah proses indoktrinasi. Napoleon tidak pernah berniat untuk memiliki rakyat yang pintar karena hal itu dapat membahayakan posisinya sebagai penguasa. Bagi para rakyatnya, indoktrinasi diberikan agar mereka tidak percaya dan tunduk terhadap Napoleon, sedangkan bagi anjing-anjing, indoktrinasi dilakukan sedini mungkin agar mereka dibesarkan dengan nilai loyalitas yang tinggi kepada kekuasaan pemimpin. Dalam sejarah, salah seorang lawan politik Stalin, Trotsky, di’bungkam’ dengan bantuan kekuatan pasukan khusus ini. Hal yang sama dilakukan oleh Orwell dalam ceritanya, yaitu Napoleon menyingkirkan keberadaan Snowball melalui pasukan anjingnya.
        Di sisi Napoleon, terdapat seekor tokoh yang sangat berkharisma dalam Animal Farm. Pengaruhnya adalah faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan Napoleon untuk tetap berkuasa hingga akhir cerita:
        The best known among them was a small fat pig named Squealer.... He was a briliant talker, and when he was arguing some difficult point he had a way of skipping from side to side and whisking his tail which was somehow very pesuasive. The others said of Squealer that he could turn black into white. [halaman 16]
        Kekuatan pengaruh perkataan Squealer sangat mengagumkan dan dapat disejajarkan dengan kekuatan media massa di kehidupan nyata. Satu-satunya media massa yang sudah berkembang saat Stalin berkuasa adalah media cetak. Koran menjadi penghubung antara pemerintah dengan rakyat dan melaluinya propanda-propaganda yang mengubah ‘black into white’ ditebarkan ke pikiran masyarakat. Dengan bantuan Squealer, setiap rancangan jahat yang dibangun oleh Napoleon dapat ditutupi dengan perkataan manis sehingga tidak tercium sama sekali. 
        Pekerjaan yang dilakukan oleh Squealer ini merupakan sebuah cara indoktrinasi untuk mendukung politik Napoleon. Sepanjang alur maju yang digunakannya, Orwell terus-menerus menyisipkan proses indoktrinasi tersebut. Pada awalnya ia memakai bahasa yang cukup lembut, yaitu pendidikan. Seiring dengan berkembangnya konflik dan bertambah suramnya kehidupan di Animal Farm (menuju akhir yang antiklimaks), perlahan Orwell mulai menyingkapkan bahwa pendidikan yang dirancang tidaklah lain dari rancangan propaganda semata. Para binatang itu, selain babi, diajari membaca hanya untuk dapat membaca The Seven Commandments, yang dikemudian hari akan diubah menjadi dalil yang menguntungkan para babi.
        Dalam Animal Farm, faktor setting juga memiliki hubungan pararel dengan kehidupan manusia yang sebenarnya. Orwell tampaknya benar-benar berusaha mendekatkan novel kepada kehidupan nyata yang berusaha ia kritik. Bangunan rumah di peternakan yang menjadi tempat dimana para babi tidur, adalah sebuah penyamaran dari Kremlin yang merupakan tempat tinggal Stalin sewaktu berkuasa. Bangunan itu menjadi sebuah markas besar bagi dua buah kekuatan politik yang berusaha saling menjatuhkan satu sama lainnya, Kapitalisme (Mr. Jones) dan Sosialisme (Napoleon). Lalu kincir angin (windmill) adalah sebuah simbol dari kegerakan industri Rusia yang didominasi oleh kelas pekerja. Clover dan Benjamin adalah dua tokoh yangs sangat jelas mewakili kehidupan kelas pekerja. Sedangkan kehancuran yang dialami oleh kincir itu adalah metafor dari kegagalan sebuah program yang bernama Five Year PlanFive Year Plan adalah sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi dan kebudayaan rakyat Rusia; hal ini sejalan dengan rancangan Squealer atas konsep kincirnya. Hampir setiap unsur di ceritanya merupakan hasil pengolahan yang sempurna demi mencapai maksud kritisismenya.
        Seumur hidupnya, Orwell terkenal dengan karya-karyanya yang sarat dengan muatan pararel antara pengalaman dan politik. Bukunya yang pertama, Down and Out in Paris and London, adalah sebuah kisah tentang kemiskinan dan tunawisma yang merupakan hasil observasi yang dilakukannya sendiri. Selanjutnya, Burmese Days bercerita tentang imperialisme Inggris yang ia alami saat di Birma. Buku-buku karangannya terbitannya kerap kali bernada tajam terhadap pemerintah dan gejolak yang terjadi dimasanya. Mungkin itulah sebabnya ia tidak memakai nama aslinya, Eric Arthur Blair. Dalam Animal Farm, ia menyatakan kepesimisannya terhadap gerakan revolusi. Ide atau tema  yang berusaha ia nyatakan adalah bahwa semua bentuk revolusi cenderung gagal karena akan selalu ada seseorang yang terlalu vokal dalam memimpin dan pada akhirnya tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Cerita di atas adalah ringkasan dari satire Animal Farm (Ladang Binatang) yang ditulis Eric Blair alias George Orwell, dan diterbitkan pada tahun yang sama dengan kelahiran Ladang Binatang yang bernama Indonesia, pada 1945. Meskipun cerita tersebut adalah refleksi dari revolusi Bolshevik yang melahirkan kuasa tirani atau totalitarian baru, Uni Soviet, serta kritikan Orwell terhadap Joseph Stalin yang menyingkirkan Leon Trotsky--lawan politik beraliran social democrat itu, akan tetapi tak dapat disanggah bahwa alur cerita tersebut sesungguhnya melukiskan perjalanan sejarah bangsa Acheh. Suatu bangsa yang terlibat dalam setidaknya tiga kali revolusi dengan maksud membangun Ladang Binatang yang merdeka, makmur dan sejahtera, yang kesemuanya berakhir dengan penderitaan. Akibat dari penjajahan baru oleh sekelompok binatang yang berlagak menjadi tuan baru ke atas bangsa kita.   
                 Pada revolusi pertama, para pemimpin kita telah diperdaya oleh sekelompok para chauvanis jawa-majapahit agar bersatu mendirikan Ladang Binatang Indonesia. Setelah penjajah lari--seumpama Napoleon dan kerabat babinya yang mengkhianati amanat bersama para binatang lain--maka Soekarno dan nasionalis jawa-nya telah membuat bermacam deal politik dan ekonomi dengan Belanda untuk kemewahan pribadi dan kemakmuran kaumnya sendiri, dan mempertahankan basis ekonomi penjajah di Nusantara terutama di Sumatra. Sementara itu, pasukan anjingnya Soekarno di kirim ke Acheh dan wilayah lain di Sumatra untuk menakutkan rakyat di sana. Pada saat yang sama ia menghamburkan uang untuk berbagai projek besar di pulau Jawa, di samping mengawini sejumlah perempuan serta memelihara para gundik.
                 Sikap licik dan gaya babi hitam Napoleon juga tercermin dalam diri dan rejim Soeharto. Ketika seluruh sanak keluarga, kerabat dan bangsa jawanya menikmati kekayaan dari hasil alam Nusantara, yang seharusnya digunakan bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Seperti bangsa babi yang menikmati hasil perjuangan dan kerja keras binatang lain, maka kaum jawa telah menikmati pelbagai kemudahan mulai dari jabatan di sektor pemerintahan sivil dan militer sampai kepada transmigrasi yang rumah, lahan dan makanan disediakan. Sebaliknya, sebagai hadiah untuk Acheh, si koruptor mengirimkan pasukan anjing untuk membunuh mereka yang berusaha menyuarakan keadilan, terutama di masa DOM. Para pemimpin serdadu anjing, yang mampu membunuh banyak nyawa, akan mendapat kenaikan pangkat, jabatan, dan limpahan kekayaan. Begitu pula kemudahan yang didapat oleh para penurut dan kolobrator dari jenis bangsa Acheh sendiri.
                 Jika kisah para binatang yang menghuni Ladang Binatang hanya menghadapi sekali pengkhianatan, bangsa kita telah mengalami serangkaian pengkhianatan. Mulai dari zaman Soekarno sampai ke Yudhoyono. Pasukan anjing telah berkali-kali dikirim untuk memangsa rakyat kita. Lalu bangsa kita sendiri bangkit dan mengajak untuk kembali berjuang, dan setelah itu rakyat kembali dikhianati. Bukti itu terpampang mulai dari revolusi Tgk Daud sampai ke Tgk Hasan,  di mana pengkhianatan terus berjalan.Masih terekam di setiap benak rakyat Acheh ketika aktivis seperti M. Nazar berkoar dengan air ludah yang berbuih sewaktu berlakon tentang perjuangan demi keadilan, kebebasan, demokrasi dan bersumpah memperjuangkan semua hak bangsa Acheh. Namun hanya beberapa tahun berselang, ketika kuasa berada di tangannya, maka dari mulut yang sama telah terdengar kata-kata yang begitu mudah menjadikan bangsanya sebagai pelaku kriminal tanpa keinginan untuk meneliti penyebab di balik aksi tersebut.
                 Di lain pihak, para petinggi GAM oligarkhi yang hidup dari darah dan keringat rakyat di masa perjuangan, kini persis seperti babi hitam Napoleon yang ditulis Orwell, bermewah dan berfoya-foya dan bekerja sama dengan golongan penindas. Sementara rakyat biasa dan bekas rekan seperjuangan hanya memakan angin dan mimpi. Malah tiada pembelaan yang didapat sekiranya mereka diterkam oleh pasukan anjing dan milisi, seperti apa yang terjadi di Atu Lintang.  Ketika mereka (bekas gerilyawan) mengambil jalan pintas akibat kecewa dan putus asa, para petinggi GAM oligarkhi telah menuduh mereka sebagai anti perdamaian, perampok dan penjahat. Sedangkan kesalahan atas kebijakan yang dibuat oleh para petinggi Oligarkhi, seperti takluk di Helsinki dan perkara dana reintegrasi yang sumbat, dengan mudah terlupakan. Lantas Squealer, atau Harmoko-Harmoko yang bekerja untuk Pimpinan GAM oligarkhi, masih terus menipu tanpa rasa malu, bahkan mereka masih mengaku memperjuangkan rakyat banyak dan kemerdekaan Acheh, sekalipun mereka telah 
menjadi budak penjajah.
***           
Hikmah lain dari kisah Ladang Binatang ini menjelaskan bahwa pada hakikatnya kekuasaan itu sangat berbahaya, apatah lagi jika ianya tidak terkawal. Hukum dan pelaksana hukum tidak berarti jika ia tidak diawasi. Kita memerlukan hukum, pelaksana, pengawal serta rakyat yang memantau hukum dan keseluruhan dari sistem kekuasaan. Unsur-unsur itulah yang alpa dalam kehidupan di Ladang Binatang maupun di ladang perjuang kita. Akibatnya, seperti apa yang terjadi terhadap penubuhan Ladang Indonesia, atau ketika Gerakan Acheh Merdeka mempunyai kuasa di Acheh, semuanya menjadi tidak terkontrol. Kesempatan itu telah dimanfaatkan oleh para tokoh licik seperti babi hitam Napoleon, untuk merebut kekuasaan dan menyingkirkan lawan politiknya, terutama yang jujur dan berpihak rakyat. Demikian pula yang terjadi ketika kudeta sunyi di puncak organisasi GAM. Semasa para tokoh yang telah bersama Dr. Hasan Tiro sejak awal gerakan itu, harus tersingkir oleh konspirasi ala babi hitam Napoleon, yang melibatkan Zaini dan Malik sebagai otak konspirator. Lalu kepemimpinan beralih pada kebijakan yang mengutamakan perkauman di atas kebersamaan. Dari perjuangan rakyat menjadi perjuangan kelompok dan keturunan. Mengambil gaya klasik Napoleon, dan Soeharto di masa kudeta 1965, para konspirator itu telah menuduh pengikut setia Dr. Hasan sebagai pengkhianat-MP. Langkah itu diikuti pada tingkat yang lebih 
rendah di Malaysia, dan di Acheh, yang membuat beratus nyawa bangsa kita melayang. Di bunuh oleh bangsanya sendiri secara menyedihkan akibat propaganda para konspirator dan pengikutnya.                           
                 Begitulah…Suatu perjuangan akan berakhir tragik apabila tidak diperkuat dengan ketulusan dan pengawasan bersama. Perjuangan memang senantiasa susah dan berat, tetapi bagi kita yang berhasrat untuk memberi yang terbaik kepada kehidupan kita sendiri dan generasi nanti, roda perjuangan tak boleh terhenti. Hanya ada dua patah kata untuk penindasan dan penjajahan: lawan dan lawan!

Pemanfaatan karakter hewan dalam sastra mendapat perhatian besar dalam novel terkenal, Animal Farm, karya George Orwell. Novel terbaik Orwell ini menceritakan kebrengsekan, kelicikan, keserakahan, kesombongan, dan kekejaman manusia dalam meraih kekuasaan dan kekayaan. Animal Farm merupakan bentuk modern dari cerita rakyat, sebab mencerminkan kondisi zaman modern pada abad ke-20 yang diwarnai dengan perang dan dekandensi moral manusia. Orwell memotret itu semua dalam bentuk novel yang kritis, penuh satir, dan menuntut kita untuk sadar diri. Dunia binatang dijadikan cerminan yang pasa untuk merekam situasi zaman, yang membutuhkan imajinasi dan kecerdasan tak sembarangan.
Konon, naskah Animal Farm itu sering ditolak oleh banyak penerbit. Akhirnya, ada sebuah penerbit mau menerbitkan naskah tersebut, tetapi digolongkan sebagai cerita dongeng, bukan novel. Masyarakat Eropa membacanya, kemudian tersentak, ternyata Animal Farm merupakan novel jenius tentang gambaran dunia Eropa. Orwell berhasil mengungkapkan ejekan-ejekan halus dan tajam pada sistem pemerintahan totaliter di Eropa. Masyarakat disadarkan oleh novel tersebut, yang sering dikatakan sebagai buku satir modern. Orwell sudah membuktikan, cerita hewan pada zaman modern masih laku, dan tetap memiliki relevansi dengan banyak masalah kehidupan kita.

 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea