April 29, 2014

Posted by Retya Elsivia at 9:55 PM
Cerita Pengalaman Kuliah Kerja Nyata RETYA ELSIVIA (0910732036) di Nagari Cubadak, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, 04 Juni- 17 Juli 2012

Aku Suka “Cubadak”

Nagari Cubadak, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman.  Sebuah nama daerah yang cukup membuat ku shock saat pertama kali melihatnya. Tak pernah terbayangkan akan tinggal selama berhari-hari di daerah yang sangat jauh dari pusat kota ini, apalagi rumor yang selalu beredar dari tahun ketahun mengatakan bahwa Pasaman terkenal dengan magic-nya. Pikirankupun mulai bercabang saat membayangkan bagaimana kehidupan yang akan kujalani ke depannya nanti. Akupun mulai mencari informasi tentang daerah Cubadak baik dari situs internet, teman ataupun orang tua.  Kepanikanku bertambah saat mengetahui masyarakat Cubadak menggunakan bahasa Mandahiling sebagai bahasa utama mereka. Hanya pikiran negatif yang telintas di benakku hari demi hari ketika teman-teman di kampus mulai membicarakan tentang KKN.  Mahasiswa yang meninggal karena keracunan, mahasiswa yang di makan buaya, mahasiswa yang tak mau kembali pulang saat KKN telah berakhir, hanya itu yang menjadi topik pembicaraan saat teman-teman menanyakan tentang lokasi KKN-ku. “Cobaan apalagi ini !”, pikirku dalam hati.
04 Juni 2012 merupakan titik awal di mulainya kehidupanku sebagai mahasiswa yang siap untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Gambaran sebelumnya mengenai nagari Cubadak sudah lekat dalam pikiranku ketika kami telah melakukan observasi sebelumnya. Medan yang cukup berat dan menantang merupakan satu hambatan baru yang harus kami hadapi lagi. “Life is challenging” mulai menjadi moto penyemangat hidupku. Sebisa mungkin aku akan terus berjuang agar bisa menjadi mahasiswa yang berguna bagi masyarakat nagari Cubadak. Sambutan hangat dari masyarakat, khususnya bapak wali nagari dan kepala jorong sedikit demi sedikit mulai menghapus ketakutanku. Senyuman yang tidak akan pernah ku lupakan sampai kapanpun juga.
 Rasa sedih bercampur bahagia ku rasakan saat di minggu pertama pelaksanaan KKN. Saat itu aku mengetahui bahwa siswa-siswi Sekolah Dasar di jorong kami tinggal belum pernah di perkenalkan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Sungguh pemandangan yang sangat kontras ku rasakan dengan kehidupan kota dimana anak Taman Kanak-kanak di kota sudah mulai lancar berbahasa Inggris. Konon kabarnya, sekolah dasar ini belum pernah memiliki guru Bahasa Inggris yang profesional yang bisa mengajar. Saat itu kepala jorong memintaku agar secepat mungkin melaksanakan program kerja utamaku sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Bahagia rasanya saat programku menjadi kebutuhan prioritas masyarakat jorong Pambangunan. Besar harapanku selepas KKN berakhir nanti siswa-siswi Sekolah Dasar jorong Pembangunan mulai mengerti Bahasa Inggris lebih banyak lagi. 
Setelah meminta izin dari pihak sekolah, aku dan tiga orang temanku mulai mengajar Bahasa Inggris di jam pelajaran berlangsung. Semangat membara dan rasa antusias yang tinggi terlihat dari wajah polos siswa-siswi berseragam merah putih ini. Mereka memperhatikan setiap apapun materi yang kami ajarkan. Seringkali ku dengar  pelafalan kata yang salah dari mulut kecil mereka tapi itu semakin memacu tekadku agar bisa membantu mereka semampuku. Kami belajar di sekolah pada pagi hari dan di lanjutkan dengan belajar privat di sore harinya. Banyak anak-anak sekolah dasar yang memenuhi posko kami, meskipun agak berisik, tapi itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku ketika melihat mereka tertawa saat belajar sambil bermain dengan Bahasa Inggris. Tak tanggung-tanggung siswa-siswi sekolah dasar masih memintaku untuk mengajari mereka  Bahasa Inggris saat minggu ujian berlangsung. Sungguh semangat belajar luar biasa yang jarang ku temui pada anak-anak seusia mereka. Namun keterbatasan waktu membuatku hanya bisa mengajari Bahasa Inggris siswa-siswi sekolah dasar jorong Pembangunan pada tahap Bahasa Inggris permulaan saja seperti huruf, angka, warna, bagian tubuh, perkenalan diri, hari, bulan, binatang, buah dan kosa-kata sehari-hari lainnya. Di minggu-minggu berikutnya aku mulai di sibukkan dengan program kerja utama lain seperti mengajar Bahasa Inggris di dua jorong tetangga yaitu Lanai dan Tanah Putih. Selain itu aku juga mulai membantu teman-temanku untuk mengajar Matematika, kegiatan lomba dan perayaan Isra Mi’raj, rumah pangan mandiri, lomba class meeting, menghadiri perpisahan Paud yang hampir di semua jorong, kegiatan nagari SEHATI, dan berbagai kegiatan dari program-program kami lainnya. 
    Banyak suka dan duka yang kami lewati selama kurang lebih 40 hari menjalani Kuliah Kerja Nyata ini. Kami mahasiswa KKN nagari Cubadak terdiri dari 9 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Selain aku dari jurusan Sastra Inggris, ada Diah dari jurusan Kimia, Sara dari jurusan Sejarah, Selsi dari jurusan Peternakan, Fika dari jurusan Matematika, Yuni dan Ayu dari jurusan teknik pertanian, Eko dari jurusan Pendidikan Dokter, Gera dari jurusan Hukum, Anty dan Andres dari jurusan Agribisnis, Bima dari jurusan Hubungan Internasional, Jevi dari jurusan Teknik Sipil, Inyep dari jurusan Manajemen, Gantha dari jurusan Teknik Mesin dan terakhir Nova dari jurusan Kesehatan Masyarakat. Aku belajar untuk memahami karakter masing-masing karena setiap teman-temanku memiliki karakter yang sangat berbeda-beda, apalagi kami saja baru kenal pada saat KKN ini berlangsung. Kami sering melakukam perbincangan baik sekedar obrolan ringan ataupun serius agar bisa mengenal satu sama lain lebih dekat lagi. Tak jarang kami di beritahukan agar segera kembali pulang ketika rapat masih saja berlangsung pada malam hari. Adapun tujuannya adalah agar tidak menimbulkan gunjingan dalam masyarkat berhubung kami tinggal di rumah berbeda antara perempuan dan laki-laki. Disini kami belajar bagaimana mematuhi norma-norma yang ada pada masyarakat agar tidak di pandang buruk ataupun tidak menyenangkan oleh masyarakat setempat. Sebisa mungkin kami berusaha agar tidak memberikan pengaruh kehidupan kota yang buruk pada mereka. Dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa ku ambil ketika aku hidup bersama 15 orang temanku ini, seperti cara bekerja sama dalam kelompok, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah dan berbaur dengan masyarakat setempat.

But, Life must go on. Ketika aku sudah merasakan kenyamanan dan kesederhanaan hidup di nagari Cubadak, saat itu juga aku harus siap untuk kembali ke kehidupanku semula. Ingin rasanya lebih lama lagi tinggal di daerah asing yang sangat kutakuti dulu ini dan sejenak melupakan beban kuliah yang menunggu di tahun akhir ketika aku menjadi mahasiswa. Perpisahan yang semula ku pikir menjadi kebahagiaan setelah lepas dari kukungan neraka berubah menjadi kesedihan tak kunjung duka. Air mata seakan tak berhenti membanjiri pipiku ketika bus kampus yang kami naiki melewati sepanjang jalan kenangan KKN yang biasanya kami lewati sehari-hari. Lambaian tangan, salam perpisahan, air mata duka dari masyarakat nagari Cubadak turut mengantar kepergian kami. Tidak ada sedikitpun hal aneh yang terjadi saat masa KKN kami berlangsung dan aku menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang baik bagi setiap hambaNya selagi mereka masih terus melakukan kebajikan di jalanNya. Percayalah bahwa keburukan bisa saja terjadi pada siapapun dan dimanapun jika mereka tidak bisa menjaga. Cubadak tidak pernah memberikan kesan buruk sepanjang perjalanan KKN-ku. Tak heran jika aku suka Cubadak, teman. 


 A Time Gone, but Memories Remain, n this is US !!!!

 Memberikan kata sambutan untuk perpisahan PAUD

 Solidarity Forever, Could we? Allahu a'lam

 Tugu yang di buat dengan tangan sendiri. dari KITA untuk KITA. Dan biarkan ia terus berdiri gagah sebagai bukti anak manusia yang pernah menginjak tanah di atasnya.

 Life is never really same again :')

 Semoga ilmu yang kami berikan bermanfaat

pemandangan desa Lanai, semoga terus mengajari kita akan arti bersyukur dengan kehidupan 
 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea