May 01, 2015

AFIKS DERIVASI BA- DALAM BAHASA MINANGKABAU (KAJIAN MORFOLOGI)

Posted by Retya Elsivia at 9:50 PM


PENDAHULUAN
Bahasa adalah sistem bunyi yang arbiter, konvensional yang digunakan oleh manusia sebagai sarana komunikasi. Bahasa pertama yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah bahasa ibu atau bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan bahasa pertama atau bahasa ibu yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat kedaerahan sesuai dengan kebudayaan daerah masyarakat pemakainnya (Samsuri, 1991). Bahasa daerah adalah identitas sebuah bangsa yang perlu dipelihara dan dilestarikan. Salah satu usaha untuk pelestarian bahasa dapat dilaksanakan dengan penelitian terhadap bahasa daerah, karena dengan demikian bahasa daerah akan tetap berkembang seiring perkembangan bahasa Indonesia dan asing lainnya. Salah satu bahasa daerah di Nusantara adalah bahasa Minangkabau.  Bahasa Minangkabau adalah bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi oleh masyarakat Sumatera Barat dalam kehidupan sehari-hari. Berpijak dari pentingnya kedudukan bahasa daerah, maka kajian tentang bahasa Minangkabau perlu mendapat perhatian khusus, yaitu dengan penelitian kajian morfologi. 
Morfologi ialah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan bentuk kata atau struktur kata dan pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap jenis kata dan makna kata (Yasin, 1988). Salah satu bentuk morfologis adalah afiksasi. Menurut Kridalaksana (2009), afiksasi adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Sedangkan afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata (Chaer, 2012).Jadi proses afikasasi merupakan suatu proses pembubuhan atau penambahan afiks pada bentuk dasar sehingga menjadi bentuk kompleks. Bentuk dasar yang dimaksud bisa dalam bentuk akar maupun frase, sedangkan proses afiksasi ini dapat berupa derivasi maupun infleksi. Derivasi dan infleksi merupakan bagian dari proses morfologis yang terdapat pada setiap bahasa dan sangat penting untuk dipelajari untuk melihat pengkategorian kelas kata dan kekonsistensistenan proses tersebut di dalam suatu bahasa.
Penelitian ini terbatas pada afiksasi yang berderivasi. Katamba (1993:7) mengatakan bahwa derivasi berarti terdapat perbedaan antara input (bentuk dasar)  dan output (bentuk jadian) sebagai hasil dari proses afiksasi. Perbedaan yang dimaksud meliputi (i) kategori kata (ii) makna leksikal kedua yang dimaksud. Sedangkan menurut Chaer (2012), pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan dengan kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa derivasi adalah pembentukan kata dengan menambahkan afiks pada kata dasar sehingga membentuk kata baru yang berbeda identitas leksikalnya.
PEMBAHASAN
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N dapat menurunkan:
1.      Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + N tindakan à V tindakan
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N akan menurunkan V tindakan. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi tindakan. Hal ini dinyatakan dalam bentuk rumusan berikut ini:
 ba- + N tindakan  à V tindakan
Afiks derivasi ba- yang menurunkan V tindakan dari N tindakan (baik N dasar maupun N turunan) adalah seperti berikut.
a.      Ndak tau nyo kalau awak bahutang banyak
(Dia tidak tahu kalau saya punya banyak hutang)
b.      Kami sadang bapuaso hari ko
(hari ini kami sedang berpuasa)
c.       inyo pai barubek ka rumah sakik patang
(kemaren dia pergi berobat ke rumah sakit)
d.      iyo, si Ita lah bacarito tantang masalah ko
(iya, Ita sudah bercerita tentang masalah ini)
e.       tipenyo kalau bajanji kancang
(dia tipe orang yang suka cepat bikin janji)
Pada contoh di atas terdapat V tindakan bahutang, bapuaso, barubek, bacarito, bajanji. Proses afikasasi derivasi ini adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N tindakan seperti hutang, puaso, ubek, carito, janji. Pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N tindakan (baik N dasar maupun N turunan) berfungsi menurunkan V tindakan atau verbalisasi tindakan (N tindakan à V tindakan). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR                PROSES AFIKSASI                                                VERBA
N tindakan                                                                                   V tindakan                
hutang (N)             afiks derivasi ba- + N tindakan                      Bahutang (V)
puaso (N)              afiks derivasi ba- + N tindakan                      Bapuaso (V)
ubek (N)                afiks derivasi ba- + N tindakan                      Barubek (V)
carito (N)              afiks derivasi ba- + N tindakan                      Bacarito (V)
janji (N)                 afiks derivasi ba- + N tindakan                      Bajanji (V)
Berdasarkan identifikasi dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N tindakan menjadi V tindakan (Ntindà Vtind.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N hutang, puaso, ubek, carito, janji menjadi leksem V bahutang, bapuaso, barubek, bacarito, bajanji.
2.      Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + N keadaan  = V keadaan
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N akan menurunkan V keadaan. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi keadaan. Hal ini dinyatakan dalam bentuk rumusan berikut ini:
 ba- + N keadaan  à V keadaan
Afiks derivasi ba- yang menurunkan V keadaan dari N keadaan (baik N dasar maupun N turunan) adalah seperti berikut.
a.         Banyak jalan nan lah balubang
(banyak jalan yang sudah berlubang)
b.         Baa kok duduak bajarak takah ko?
(kenapa duduknya berjarak seperti ini?)
c.         Basaba lah dulu yo, beko den carian
(sabar dulu ya, nanti saya carikan)
d.         Rumah den bajauahan jo rumahnyo.
(rumahku berjauhan dengan rumahnya)
e.         Basiso sadonyo makanan nan ado di rumah ko
(semua makanan bersisa di rumah ini)
Pada contoh di atas terdapat V keadaan balubang, bajarak, basaba, bajauahan, basiso. Proses afikasasi derivasi ini adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N keadaan seperti lubang, jarak, saba, jauah, siso. Pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N keadaan (baik N dasar maupun N turunan) berfungsi menurunkan V keadaan atau verbalisasi keadaan (N keadaan à V keadaan). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR                PROSES AFIKSASI                                                VERBA
N keadaan                                                                                    V keadaan                 
lubang (N)             afiks derivasi ba- + N keadaan                       Balubang (V)
jarak (N)               afiks derivasi ba- + N keadaan                       Bajarak (V)
saba (N)                afiks derivasi ba- + N keadaan                       Basaba (V)
jauah (N)               afiks derivasi ba- + N keadaan                       Bajauahan (V)
siso (N)                  afiks derivasi ba- + N keadaan                       Basiso (V)
Berdasarkan identifikasi dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N keadaan menjadi V keadaan (Nkeaà Vkea.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N lubang, jarak, saba, jauah, siso menjadi leksem V balubang, bajarak, basaba, bajauhan, basiso.
3.      Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + Nabstrak = V abstrak
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N akan menurunkan V abstrak. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi abstrak. Hal ini dinyatakan dalam bentuk rumusan berikut ini:
 ba- + N abstrak  à V abstrak
Afiks derivasi ba- yang menurunkan V abstrak dari N abstrak (baik N dasar maupun N turunan) adalah seperti berikut.
a.      Gambar kau ndak babantuak baa ko
(gambarmu tidak berbentuk seperti ini)
b.         Balam bawujuik kahitaman.
(Balam berwujud kehitaman)
c.         Alah lamo den ndak bahubungan jo Riri.
(sudah lama aku tidak berhubungan dengan Riri)
d.         Wak ndak bamukasuik bantuak tu tadi do
(aku tidak bermaksud seperti itu tadi)
e.         Awak bamimpi tantang carito yang dikecekan Uni patang
(saya bermimpi tentang cerita yang Uni bilang kemaren)
Pada contoh di atas terdapat V abstrak babantuak, bawujuik, bahubungan, bamukasuik, bamimpi. Proses afikasasi derivasi ini adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N abstrak seperti bantuak, wujuik, hubungan, mukasuik, mimpi. Pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N abstrak (baik N dasar maupun N turunan) berfungsi menurunkan V abstrak atau verbalisasi abstrak (N abstrak à V abstrak). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR                PROSES AFIKSASI                                                VERBA
N abstrak                                                                                     V abstrak                  
bantuak (N)           afiks derivasi ba- + N abstrak                         Babantuak (V)
wujuik (N)             afiks derivasi ba- + N abstrak                         Bawujuik (V)
hubungan (N)        afiks derivasi ba- + N abstrak                         Bahubungan (V)
mukasuik (N)         afiks derivasi ba- + N abstrak                         Bamukasuik (V)
mimpi (N)              afiks derivasi ba- + N abstrak                         Bamimpi (V)
Berdasarkan identifikasi dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N abstrak menjadi V abstrak (Nabsà Vabs.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N bantuak, wujuik, hubungan, mukasuik, mimpi menjadi leksem V babantuak, bawujuik, bahubungan, bamukasuik, bamimpi.
4.      Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + N = V kepemilikan
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N akan menurunkan V kepemilikan. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi kepemilikan. Hal ini dinyatakan dalam bentuk rumusan berikut ini:
 ba- +      N   à V kepemilikan
Afiks derivasi ba- yang menurunkan V kepemilikan dari N adalah seperti berikut.
a.         Urang kayo tantulah baoto rancaknyo
(orang kaya pasti bermobil bagus)
b.         Karajo den basawah salamo ko
(kerja saya bersawah selama ini)
c.         Ndak disangko kironyo inyo babini duo
(tidak disangka ternyata dia beristri dua)
d.         Anak ketek baru lahia ko alun banamo
(anak kecil baru lahir ini belum bernama)
e.         Abak suko bana basaluang di muko rumah.
(ayah suka sekali bersalung di depan rumah)
Pada contoh di atas terdapat V kepemilikan baoto, basawah, babini, banamo, basaluang. Proses afikasasi derivasi ini adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N seperti oto, sawah, bini, namo, saluang. Pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N berfungsi menurunkan V kepemilikan atau verbalisasi kepemilikan ( N à V kepemilikan). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR                PROSES AFIKSASI                                                VERBA
N                                                                                                   V kepemilikan
oto (N)                   afiks derivasi ba- + N kepemilikan                 Baoto (V)
sawah (N)             afiks derivasi ba- + N kepemilikan                 Basawah (V)
bini (N)                  afiks derivasi ba- + N kepemilikan                 Babini (V)
namo (N)               afiks derivasi ba- + N kepemilikan                 Banamo (V)
saluang (N)           afiks derivasi ba- + N kepemilikan                 Basaluang (V)
Berdasarkan identifikasi dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N menjadi V kepemilikan (Nà Vkep.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N oto, sawah, bini, namo, saluang menjadi leksem V baoto, basawah, babini, banamo, basaluang.

REFERERENSI
1.      Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
2.      Kamus Besar Bahasa Indonesia [Online] Tersedia: http://kbbi.web.id/
3.      Kridalaksana, H. 2009. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
4.      Yasin, Sulchan. 1988. Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Surabaya: Usana Offset Printing.


 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea