August 09, 2016

APAKAH ADA NAMANYA KEBETULAN? *GWK PART 1

Posted by Retya Elsivia at 12:19 AM
Have you ever had a special friend? yes, it's special, but it doesn’t means that people who fall in love.  Terasa special karena kehadirannya  memang special, baik itu dipertemukan secara sengaja, kebetulan, ataupun karena takdir Allah. Kehadirannya itu menjadi pelengkap kehidupan yang mungkin dulu rasanya hambar-hambar aja dan sekarang menjadi sedikit berasa (:p). Kehadirannya itu menambah semangat untuk menantang hari esok karena kita bisa saling berbagi suka dan duka. Lebih banyaknya sih penuh dengan gelak tawa. Bersama dia (atau mereka), kalian bisa terhindar dari penyakit kegalauan. n the most important thing is kita bisa menjadi diri sendiri. Kalian tidak perlu untuk berpura-pura menjadi diri orang lain because they love you so much as the way you are J  

This is what I mean as special friend. Kalau dalam bahasa Indonesianya sih SAHABAT (hahaha, deskripsi panjang lebar ternyata cuma ini, ini mah gue juga ngerti ---.---). (Pernah) punya sahabat? Kalau punya, satu kata untukmu SELAMAT. Karena punya sahabat itu like God’s greatest gift. It’s honestly because lebih banyak serunya daripada mudhoratnya. Setuju?

Yups selama kurang lebih 2 tahun di Jogjakarta tentunya akan sangat banyak memori yang tidak bisa terlupakan. Satu dari memori itu adalah pernah mempunyai sahabat terbaik yang kita beri nama GWK. Nama GWK itu dicetus ketika kami melakukan perjalanan wisata ke GWK (Garuda Wisnu Kencana) Bali pada bulan Februari 2015. Saat itu founder gang ini (me, Bonna, Dhiya, Mega, Nanas n Riski) mensyahkan label tersebut untuk persahabatan kami. Tapi saya sebagai founder sendiri pun tidak mengetahui pasti apa kepanjangan dari inisial tersebut (hahaha). Hal ini disebabkan karena tersedianya beberapa pilihan yang memungkinkan. wkwkw. Pilihan tersebut antara lain sebagai berikut.
1.      Gue with Kalian
2.      Gowes with Kalian
3.      Go with Kalian
4.      ada beberapa kepanjangan lain yang saya lupa.

Terlepas dari kepanjangannya, intinya adalah kita GWK. Kita menghabiskan waktu bersama. Kita jalan-jalan bersama. Kita gowes bersama karena emang kita hanyalah anak kos-kosan yang hanya mengandalkan sepeda ontel di tengah kehidupan lalu lintas Jogja yang padat dengan sepeda motor. Kita patungan rental motor bersama untuk explore Jogja. Kita patungan untuk acara masak-masak dan kita habiskan makanan tersebut dalam waktu sekejap bersama. Kita melakukan hal-hal gila yang sebelumnya mungkin tidak pernah terlintas dalam planning hidup saya. Oh gosh!!!

Kita (founder) dipertemukan dalam sebuah cerita yang sangat menarik untuk saling mengenal dan bisa dekat sampai sekarang. Founder dibagi dalam 2 kubu dulu ya sebelum saya meneruskan perjalanan cerita ini pada tahap pertemuan 2 kubu founder (cieeeileee).

1.      Founder Kubu Pertama (me, Mega, Nasrul dan *Teguh)
Sebenarnya agak sedikit galau untuk memutuskan kuliah di prodi Linguistik UGM ini. Antara sedih dan bahagia. Saya sedih karena saya harus berjuang kuliah sendiri dikarenakan teman-teman saya yang Sastra Inggris lainnya belum berjodoh dengan kampus ini. Masa saya harus sendiri? Jauh dari orangtua dan keluarga. Masa saya harus sendiri menghadapi anak-anak hebat jebolan kampus lain di pulau Jawa yang tentunya lebih cerdas dari anak pelosok luar pulau Jawa seperti saya ini . Apa saya bisa kuliah di UGM yang notabene kampus terbaik di Indonesia?  Pendidikan master lagi. Hiks. At that time, I do not know what a wonderful plan that will be given by God in my life later. Tapi berkat dukungan keluarga, jadilah saya terbang ke Jogjakarta pada tanggal 18 Agustus 2014 dengan satu visi agar RETYA ELSIVIA lebih CERDAS (hahahaha).  Pada saat itu if I’m not wrong pendaftaran ulangnya tanggal 19 Agustus. Saya ditemani oleh mas-mas Padang domisili Jogja which is sepupu saya yang juga kebetulan lulus prodi s2 Teknik Arsitektur. Satu pesan yang dibekali oleh kakak saya adalah nanti SKSD aja sewaktu daftar ulang biar kamu bisa dapat teman. Oke noted!. Pada saat itu, saya memang belum punya teman, baik teman sejurusan ataupun teman main. Alhasil pada saat pendaftaran ya saya mencoba SKSD dengan mbak-mbak yang duduk di depan saya. Kira-kira beginilah percakapan kami saat itu.

Saya     : Mbak, maaf mau nanya ini berkas pendaftaran diserahin dimana ya?
Mbak   : Oh disitu (sambil menunjuk dan menjawab dengan ramah)
Saya     : Linguistik juga ya mbak?
Mbak   : Iya mbak hehehe
Saya     : Dari daerah mana mbak?
Mbak   : Saya dari Padang
Saya     : (sangat kaget) ha? Padang? Saya juga dari Padang. Dari kampus apa?
Mbak   : Iya? (juga kaget) saya dari Unand (Universitas Andalas)
Saya     : (kaget lagi) ha? fakultas apa?
Mbak   : FIB
Saya     : Saya juga FIB, tapi kok ga pernah tau ya? (nyesek banget)
Mbak   : Saya Sastra Indonesia. Tapi rasanya kenal wajah.
Saya     : Oalah, saya sastra Inggris. Siapa namanya? (sambil mengulurkan tangan)
Mbak   : Mega
Saya     : Tya
Saya (dalam hati )       : ALHAMDULILLAH. Ternyata ini Uni, bukan Mbak :')

Perbincangan kitapun berlanjut.

Apakah ini kebetulan?

Ini satu mukjizat yang diberikan oleh Allah pada saat itu. Orang pertama yang saya ajak kenalan sangat tepat sasaran. Sama-sama urang awak, sama-sama memiliki kampung di Payakumbuh. Sangat senang rasanya apalagi ketika saya tau bahwa Mega juga bersama dua orang teman lainnya yaitu Nasrul dan Teguh yang pada saat itu sedang registrasi. Mega, Nasrul dan Teguh sama-sama mahasiswa Sastra Indonesia. Tapi maafkan atas ketidakpopuleran saya di fakultas sehingga saya tidak pernah kenal dengan Mega dan Nasrul sebelumnya. But for sure, it’s a really good news for my family. Disitulah saya mulai berjalan beriringan dengn Mega, Nasrul dan Teguh. Mega yang selalu setia menemani mencari kos-kosan sampai beli perlengkapan kosan bareng-bareng. Tapi kami terpisahkan saat pembagian kelas. Saya dan Teguh masuk kelas Linguistik A, sedangkan Mega dan Nasrul (yang pada saat itu sepasang kekasih) masuk kelas Linguistik B karena berNIM genap.  

2.      Founder Kubu Kedua (Bonna, Dhiya, Riski)
Berhubung saya tidak terlibat langsung dalam kubu ini, mungkin detail cerita tidak akan sepersis kubu pertama. wkwkwk. Ceritanya Bonna dan Riski adalah teman satu jurusan dan sengkatan. Mereka sama-sama berasal dari jurusan Biologi Universitas Andalas. Mereka memang telah sama-sama memplanningkan untuk kuliah di UGM. Hal ini dibuktikan oleh foto-foto kebersamaan mereka pada saat tes masuk UGM. Sayang mereka tidak berjodoh. hahahahha. Pada saat test di Jogja, mereka dibantu oleh pioneer GWK yang telah dulu satu tahun kuliah di UGM, yaitu Hari dan Sayati. Mereka berempat sama-sama angkatan 2009 prodi Biologi Unand. Yang saya tau, Bonna pada saat itu menginap di kosan Sayati sekaligus menjaga ikan-ikan akuarium Sayati pada saat Sayati liburan semester sampai akhirnya ikan-ikan itu mati di tangan Bonna. Hahahaha. Sedangkan Dhiya adalah mahasiswa fakultas Hukum angkatan 2009. Sebelumnya Dhiya banyak tanya mengenai tes UGM pada Hari yang memang keduanya sudah saling kenal ketika menjalani kursus Bahasa Inggris di Padang. Dhiya juga menanyakan informasi perihal kos-kosan cewek pada Hari. Berhubung Hari kurang mengerti masalah ini, dia pun memberikan no HP Bonna yang juga dinyatakan lulus UGM dengan maksud agar bisa bersama-sama mencari kosan cewek. Jadilah Bonna dan Dhiya saling kenal dan berkomunikasi sampai akhirnya janjian terbang bareng dari Jakarta. Pada saat itu, kebetulan Bonna memang sudah berdomisili di Tangerang (di tempat abang), sedangkan Dhiya adalah seorang gadis pekerja kantoran yang juga berdomisili di Tangerang. Usut punya usut, mereka juga sudah kenal sebelumnya karena pernah KKN dalam satu kecamatan yang sama. Apakah ini kebetulan?

Jadilah mulai sejak itu, Dhiya dan Bonna menjalani hari-hari bersama di Jogjakarta. Untuk sementara, mereka menginap di salah satu kosan teman Dhiya. Bonna, Dhiya dan Riski pun bersatu menjadi satu kubu. Kabarnya sih jalan-jalan dengan transJogja bareng hingga ngemall bareng yang sudah mereka lakukan bersama (cieeeee).

Pertemuan Dua Kubu
Kita (para founder) dipertemukan pada sebuah tempat wisata mahasiswa ala Jogjakarta. Namanya sunmor (Sunday morning) hahahaa. Tempat dimana para penjual menjajakan aneka barang yang serba lengkap untuk orangtua, remaja, anak-anak dan bayi. Tapi jangan bayangkan disana ada bumbu-bumbu masak seperti jahe, kunyit, tomat, cabe dan teman-temannya ya. Disana menjual baju, accessories, tas, sepatu, gorden, hijab, peralatan kos-kosan lainnya beserta aneka sarapan yang menggoda selera. Belum afdhol rasanya kalau sudah di Jogjakarta tapi belum menginjakkan kaki di sunmor. Jadilah kubu pertama saat itu (me, Mega, Nasrul dan Teguh) janjian ke sunmor barengan sekalian cuci mata beli perlengakapan kosan. Ternyata di ujung sana kubu kedua (Bonna, Dhiya, Riski) juga menghabiskan minggu pagi di Sunmor UGM. Kedua kubu ini pun akhirnya saling berkenalan yang diperantarai oleh salaman Riski dan Teguh yang sama-sama anak FPI Unand. Ternyata oh ternyata, Riski tidak hanya kenal Teguh, ia juga kenal Mega yaitu teman KKN pacarnya Riski. Hahaha. Tapi sayang kekuatan memori Mega tidak sampai kesana alias lupa. Hihihihi. Lalu, apakah ini juga disebut kebetulan?

Berhubung sudah saling kenal, saya pun menawarkan kos-kosan saya (read: Kosan Cantik) pada Dhiya dan Bonna. Pada saat itu, di Kosan Cantik hanya saya sendiri yang berasal dari Padang. Saya merasa asing sendiri karena yang lain sudah pada saling kenal, berasal dari jurusan dan daerah yang sama yang tentunya sudah berteman sejak s1. Dhiya dan Bonna pun berjodoh dengan kosan saya, jadilah kami bertiga menjadi penghuni Kosan Cantik. Bonna juga gadis Payakumbuh, sedangkan Dhiya gadis Pariaman yang besar di Batusangkar. Belakangan saya juga tau bahwa Bonna adalah teman SMA sepupu saya di Payakumbuh. Mereka berdua pernah satu kamar pada tahun satu kuliah s1, kemudian saya merebut sepupu saya dari tangan Bonna karena orangtua saya memutuskan untuk menyatukan kosan kami. Am so really sorry ya Bon :* Dan sepupu saya itu juga teman KKN Riski. Semakin kompleks kan? ahhaahha. Apakah ini juga kebetulan?

Untuk penyambung langkah, kami memutuskan untuk beli sepeda bareng (karena disebabkan di Padang tidak mainstream untuk gowes kemana-mana). Me, Mega, Bonna, Dhiya dan Nasrul punya sepeda ontel masing-masing. Meskipun kami membelinya dalam kondisi secondhand, but I love my pink bicycle with a basket in front.

Sejak saat itu, kamipun menjadi semakin akrab. GWKers sering menghabiskan hari untuk gowes bareng. Gowes ke Malioboro? Pernah. Ke alun-alun utara? Jangankan alun-alun utara, ke alun-alun selatan aja pernah :p Pulang malam? Pernah, jam 2 malam aja pernah. Hahaha. Pakai sepeda? Iya, lewat UGM lagi. Ga takut malam2 di kampus? Lumayan sering malah main2 sepeda malam di kampus, foto-foto sekalian sama tidur2an di rumput memandang langit malam. Ih, ga takut? Alhamdulillah sih aman-aman aja, yang penting kami sama-sama dan bahagia.

Terima kasih ya gang atas kenangan luar biasanya. Semoga cerita GWK tidak hanya di Jogjakarta saja, ditunggu cerita-cerita kita berikutnya, ditunggu hal-hal gila yang akan kita lakukan berikutnya. Damn I LOVE YOU so much gang.  

This is GWK personel.
1.      Me (Retya Elsivia, S.Hum, M.A)
2.      Mega Nofria S.Hum, M.A
3.      Bonna Suveltri S.Si, cM.Sc
4.      Arradhiyatul Mardhiyah S.H, M.Kn
5.      Nasrul, S. Hum, cM.A
6.      Riski Andrian Jasmi, S.Si, M.Sc
7.      Hari Marta Saputra, S.Si, M.Sc
8.      Sayati Mandia Lubis, S.Si, M.Sc
9.      Fitria Lonanda , S. Hum, cM.A
1.  Thiska Septa Maiza S. Hum, cM.A

FYI: Fitria Lonanda aka Icy adalah teman seangkatan saya di Sastra Inggris Unand, sedangkan Thiska adalah senior saya di Sastra Inggris Unand. Mereka berdua mencoba peruntungan dengan menjadi MABA UGM tahun 2015. Ditunggu ya cerita GWK part 2 with both of u :p


Finally, this is the closing part. Tidak ada namanya suatu kebetulan dalam hidup ini. Pertemuan saya dengan sahabat GWK merupakan rencana yang sudah dipersiapkan Allah sedari dulu. Bagaimana tidak, pertemanan kita saling kait-mengait satu sama lain, baik itu hanya melibatkan diri kita sendiri maupun orang lain di sekitar kita. Meskipun 5 dari 10 personel GWK sudah balik ke kampung masing-masing, bukan berarti komunikasi kita akan menjadi renggang. Kita sama-sama berjuang dengan satu tujuan di kota Jogjakarta yaitu menyelesaikan pendidikan master dengan sebaik mungkin. Meskipun banyak hujan dan badai, tetap semangat selalu ya sahabat. Ingat pelangi akan datang setelah hujan. This is only a matter of times.




Gowes perdana kita ke Malioboro :') I totally missed it gangs.


 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea