December 18, 2016

Career in NGO, Why Not?

Posted by Retya Elsivia at 6:06 AM


Bulan ini sudah terhitung masuk bulan ke-empat saya bekerja. Yes, time flies so fast, n here I am. Alhamdulillahirabbilalamin sekarang saya sudah mendapat pekerjaan setelah saya sempat sedikit galau dengan aktivitas tidak jelas selepas wisuda pascasarjana. Even this is not my wishlist for future job, atau tak pernah sekalipun terpikirkan akan bekerja disini but one thing for sure, Allah take me in the right place. Saya selalu bersyukur dengan pekerjaan sekarang karena saya percaya bahwa akan selalu ada pembelajaran dari setiap pengalaman. Yes, saya bekerja sekarang di salah satu NGO/LSM internasional yang berasal dari negara Jerman. Sounds good, right? Ini di luar dari ekspektasi, di luar dari cita dan harapan kedua orangtua. Bahkan ketika saya mendapatkan offering letter, orangtua saya tidak merestui pekerjaan ini 100% (saya yakin sepertinya persentase itu 60:40 :D). Mungkin dikarenakan orangtua terlalu berharap agar saya bisa menjadi seperti yang diinginkan oleh mereka, atau mungkin karena kami belum akrab dengan dunia per-NGO-an sehingga orangtua saya (terutama ibu) sangat mengkhawatirkan profesi ini untuk saya ke depan (meskipun saya hanya pegawai kontrak untuk beberapa tahun :P).
Memang tidak ada yang salah dan menurut hemat saya sejauh ini, tidak ada yang perlu diragukan ketika Anda mendapat tawaran untuk bekerja di NGO. And that’s why I am writing about that here. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman (at least selama 4 bulan bekerja di dunia NGO internasional). Semoga ini dapat sedikit menjelaskan kekaburan yang mungkin sedang teman-teman rasakan sekarang.  


1. Job = A piece of cake
Sepertinya poin pertama ini memang agak sedikit lebay. Hahaha. Karena bagaimanapun tidak ada pekerjaan yang gampang untuk dilakukan. Setiap hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, isn’t it? Jangan berharap dapat hidup mewah dan makan enak kalau pekerjaan yang dilakukan hanya goyang-goyang kaki di depan meja. Poin pertama ini maksudnya adalah ketika bekerja di NGO, saya merasa pekerjaan itu bukanlah seperti momok yang menakutkan, karena saya sering sekali mendengar bahwa bangku kuliah lebih meng-asyikan daripada bekerja, atau  mungkin ungkapan-ungkapan yang mengatakan bahwa ‘kamu akan merasakan under pressure yang amat dahsyat ketika di dunia kerja’, atau mungkin ‘kamu harus tunduk dengan semua yang dikatakan oleh pimpinan/boss’. Nothing. Mungkin saya bisa katakan ini tidak berlaku di tempat saya bekerja sekarang (and I don’t know how about another NGO but I guess it would be similar). Saya malah merasakan bahwa ketika bekerja di NGO, maka kita akan melakukan hal yang sama atau hampir sama setiap harinya seperti harus buat laporan, harus sosialisasi, harus pelatihan dan segala macam. Ketika kita mulai merasa bosan, ya kita harus berkreasi semampu dan sebisanya, mungkin berkreasi dari segi teknik atau penyampaian. Ketika kuliah? Boro-boro akan seperti itu, deadline demi deadline menunggu, tugas kuliah, persentasi, kuis, ujian tengah semester, ujian semester. Dan tentunya tugas dan bahan kuliah sangat variatif :”) Apalagi bagi teman-teman yang sedang menjalani kuliah di tingkat pasca sarjana, yang harus dipikirkan adalah mini riset, penelitian demi penelitian. Biasanya pertanyaannya adalah apa yang harus diteliti? Tugas kemaren apa kabar? Buku mana yang harus dibaca? Yes, that’s life. 
2.  Flexible.
Ketika bekerja di NGO, kita merasa menjadi bagian yang lepas dan tidak terikat oleh segudang aturan-aturan yang biasanya berlaku di dunia kerja. Dari segi pakaian, you can wear everything what you want as long as it is still acceptable in your environment. Kamu tidak perlu takut masuk kantor di hari Senin karena seragam yang belum kering. Kamu tidak perlu malu nongkrong ke mall karena takut salah kostum. Dari segi pekerjaan, kamu bebas mau melakukan apapun yang kamu inginkan tanpa diatur harus begini dan begitu, asalkan pekerjaanmu beres dan boss hanya tinggal menunggu laporan. Dari segi waktu, kamu tidak diperlakukan dengan peraturan strict seperti jam istirahat mulai pukul 12.00-13.00. Kamu tidak boleh telat 5 menit atau harus kembali kantor tepat pukul 13.00 teng teng, jika tidak kembali dalam waktu yang ditentukan maka akan ada sanksi, SP atau bla bla sebagainya. BIG NO!!!!
3. Travelling
Sepertinya ini menjadi interesting point. Yes, it was. Saya sering ditanya kenapa pekerjaannya selalu terlihat jalan-jalan kesana kemari, saya sering ditanya kenapa pekerjaannya terlihat tidak jelas kareana tidak harus stay di kantor setiap hari. Yup, ketika bekerja di NGO, khususnya ketika menjadi tim program, kita akan sering turun ke lapangan, bisa langsung balik hari, menginap 2 hari atau bahkan 5 hari, dan pastinya kita akan menjelajah berbagai hal. Saya pribadi selama hidup saya belum pernah naik boat yang lumayan kecil untuk mengarungi samudera atau mungkin hanya sekedar muara (karena tidak bisa berenang :P), namun saya tidak menolak kesempatan itu, jadilah itu pengalaman pertama, kedua dan ketiga saya dengan judul ‘bermain dengan boat’.  Pekerjaan ini cocok untuk orang-orang yang menyukai tantangan dan ingin merasakan warna-warni dunia. Singkat kata, ketika bekerja di NGO, kita akan sering jalan-jalan. Kebetulan program NGO saya kali ini berada di wilayah pesisir, jadi saya selalu menikmati pemandangan berlatar pantai, laut, kapal dan ikan-ikan. Tapi siap-siap gosong yaaa, karena sun block sudah tidak ampuh memecahkan masalah ini. Wkwkwk. 
4.  Networking
Ketika bekerja di NGO, selain jalan-jalan, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang baru. Kita akan bertemu dengan semua lapisan masyarakat, dari mulai pejabat teras hingga masyarakat biasa di pelosok-pelosok negeri. Ketika bekerja di NGO, pastikan bahwa Anda siap untuk terjun ke kampung-kampung, berhadapan dan berinteraksi dengan semua orang tanpa memandang status mereka. Selain itu kita juga akan bergaul dengan semua usia, baik nenek kakek, bapak ibuk, muda mudi dan anak-anak.  Disitu kita semakin belajar bagaimana mengenal karakter manusia dan pastinya membangun hubungan persaudaraan dengan banyak orang. Bukannya membangun ukhuwah itu berpahala? 
5. Caring
Ketika bekerja di NGO, sebagian besar kita akan bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pekerjaan ini membuat kita untuk dapat lebih membuka mata. Disini kita belajar peduli dan memikirkan orang lain. Kita belajar memposisikan diri pada orang lain. Jika di zaman perkuliahan, kita mengenal bahwa salah satu dharma perguruan tinggi adalah pengabdian masyarakat, maka biasanya di tahun ketiga, mahasiswa siap-siap menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ketika bekerja di NGO, saya merasakan hal yang sama kurang lebih seperti itu saat  berada di lapangan. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata NGO memiliki visi untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Artinya kita membantu orang lain untuk berdaya atau mampu untuk bertindak sendiri. NGO tempat saya bekerja sekarang ini juga fokus pada penyadang disabilitas. Ini merupakan salah satu hal yang membuat saya selalu termotivasi dan merasa bersyukur ketika saya bersama dengan mereka. Tuhan menciptakan manusia itu unik, pasti ada sisi kelebihan dibalik sisi keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masingnya.

Finally, terlepas dari masalah salary yang lumayan, bekerja di NGO bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk teman-teman yang tertarik dengan poin-poin di atas. Mungkin masih banyak hal-hal lain yang belum terungkapkan karena ini hanyalah pengalaman pribadi yang saya rasakan selama 4 bulan bekerja, and this is my first real job after graduation. Ini hanyalah sedikit gambaran, namun ibarat yin dan yang, hitam atau putih, tentunya setiap pekerjaan memiliki sisi positif dan negatifnya, pastikan saja bahwa You DO what you LOVE and you LOVE what you DO. Dimanapun dan apapun pekerjaan kita sekarang, yakinlah bahwa Allah is the best planer, so what you need just wait and see.


 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea