December 29, 2016

Malaikat Tanpa Sayap *Part 1

Posted by Retya Elsivia at 11:57 PM
Tulisan ini saya rangkai sebagai bentuk hormat pada seorang wanita yang telah berjuang untuk melahirkan dan membesarkan saya tanpa pamrih selama 24 tahun ini.
Saya yakin keberhasilan seorang anak tak luput dari doa restu dan didikan dari orangtua, terutama ibu. Saya yakin semua ibu di dunia ini pastilah ibu yang terbaik di mata anak-anaknya, ibu yang rela berjaga di malam hari ketika bayi mungilnya menangis, ibu yang rela bangun pagi demi menyiapkan sarapan anaknya, ibu yang rela menaggung letih dan penat demi mengurus rumah tangga, ibu yang rela bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, ibu yang rela bangun untuk sholat di malam hari demi kesuksesan anaknya. Sungguh teramat banyak pengorbanan malaikat tanpa sayap itu di dalam hidup kita. Saya menulis tulisan ini bukan bermaksud menggurui atau menganggap ibu saya adalah seorang yang sempurna (sekalipun itu benar di mata saya di tengah kekurangan yang dimilikinya sebagai seorang manusia). Mungkin lewat tulisan ini saya bisa berbagi pengalaman sebagai seorang anak yang berhasil dididik oleh seorang ibu yang memiliki kedisiplinan yang cukup tinggi. Dan besar harapan saya semoga tulisan ini dapat menjadi pembelajaran untuk para ibu dan calon ibu, termasuk saya. Ada beberapa poin yang masih melekat jelas di dalam memori ketika saya dilahirkan menjadi anak seorang ibu.


1.       Time schedule is a MUST
Salah satu bentuk kedisiplinan yang diajarkan ibu dimulai dari hal kecil ini. Ibu mengajarkan bagaimana setiap anak mampu mentaati jadwal hidup yang harus dijalani setiap harinya. Saya masih ingat ketika saya dan kedua kakak saya memiliki jadwal detail per waktu mulai dari pagi hingga malam, mulai dari hari Senin hingga Minggu. Kira-kira contohnya seperti ini:
HARI SENIN
05.00-05.05 : Bangun Tidur
05.05-05.15 : Sholat Subuh
05.15-05.30 : Membersihkan tempat tidur
05.30-05.45 : Mempersiapkan kebutuhan sekolah
05.45-06.00 : Mandi + Siap-siap
06.00-06.20 : Sarapan
06.30-07.00 : Berangkat sekolah
07.00-12.00 : Sekolah
12.00-13.00 : Sholat Dzuhur
13.00–13.30 : Makan siang
13.30–16.00 : Istirahat
16.00-16.30 : Mandi
16.30-18.00 : Bermain
18.00-18.30 : Sholat Maghrib
18.30-19.30 : Baca Al-Qur’an
19.30-21.00 : Belajar
21.00             : TIDUR
Itu hanya sebagai bentuk gambaran saja, karena saya pun sudah lupa setiap poin daritime schedule ini. Time schedule mulai diberlakukan oleh ibu sejak kami duduk di bangku SD dan itu ditulis dalam satu papan tulis besar yang ditempel di ruangan keluarga. Jadi setiap anak harus siap-siap kena tegur jika ada poin yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. HAHAHA. Namun sebenarnya jadwal ini tidak harus diberlakukan sedemikian strict seperti itu, kadang-kadang masih ada kelonggaran, namun intinya adalah time schedule ini membantu anak untuk menjawab pertanyaan “What I will do next?”

2.       ISTIRAHAT SIANG adalah KEBUTUHAN
Saya dilahirkan sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara. Ibu saya sudah memiliki tiga orang anak dalam waktu 5 tahun. Kebayangkan bagaimana repotnya memiliki 3 orang anak kecil yang jaraknya dekat-dekat? Karena saat beranjak dewasa dan memahami kehidupan seperti sekarang ini, dengan membayangkan 1 orang anak kecil saja sudah lelah rasanya. Kebetulan ibu juga seorang wanita karier, sehingga banyak hal lain yang harus diurus selain rumah tangga. Ketika masih kecil, kami dibantu oleh asisten rumah tangga yang selalu berbeda-beda dengan masalah yang juga berbeda-beda. Hehehe. Ketiga balita ini akan bergantian dimandikan ibu sebelum akhirnya kami lepas landas dan mendarat di tempat tidur. Seger-seger maknyussss ditambah hembusan kipas angin yang sepoi-sepoi.
Tadaaaaa... Beginilah suasana siang di rumah kami. RaRiRe (Rangga Rinda Retya) in action
Hal ini pun berlanjut hingga kami beranjak besar dan sudah memiliki banyak teman di sekitaran rumah. Oleh karena ayah adalah seorang prajurit negara, bertahun-tahun kami tinggal di kompleks asrama. Saya akui, kehidupan ini yang mebuat masa-masa kecil saya bahagia. Saya terlahir dari anak kolong, bukan anak pengusaha yang menjalani hidup di rumah gedongan. Kami bertiga memiliki banyak teman seumuran, dan kami bebas bermain apapun, sebut saja seperti main kelereng, main petak umpet, main gambar, main karet gelang, main badminton dan permainan-permainan lain (main dengan menggoda tahanan di dalam penjara pun sering :p). Saat bermain seperti inilah saya sering merasa kebebasan saya sebagai seorang anak direnggut oleh ibu. Jika sudah jadwalnya untuk istirahat siang, meskipun tengah asyik bermain sambil ketawa ketiwi hahaha hihihi sebesar-besarnya, ibu tak akan segan-segan menjemput kami ke lapangan dan menyuruh pulang. Disitu saya merasa sedih karena harus terlahir dari anak ibu. Saya hanya bisa melihat teman-teman yang terus lanjut bermain tanpa harus disuruh pulang oleh ibunya. Saya pun masih ingat ketika suatu hari dipanggil ibu untuk pulang dan saya disuruh istirahat siang, sebagai anak yang baik tentunya saya tetap mengindahkan peraturan itu, tapi alhasil selama jam istirahat siang, saya hanya pura-pura tidur karena pikiran saya yang masih melayang-layang dalam permainan.
Semakin besar, saya semakin mengerti bahwa sejatinya memang setiap anak perlu diberikan waktu untuk itirahat siang. Selain untuk membuat badan kembali segar, tentunya agar anak dapat belajar dengan pikiran yang fokus dan tenang di malam hari. Bahkan saat ini, ketika sudah mulai kuliah dan bekerja dan harus bertemu dengan jadwal padat dari pagi hingga sore, ingin rasanya saya kembali menjadi anak ibu, saya rindu dengan jam-jam istirahat siang dengan hembusan kipas angin yang membuat mata sejenak tidak ingin melihat dunia.

3.       Ibadah untuk HADIAH
Yah ini memang terdengar sedikit aneh, karena bagaimanapun semua ibadah yang dilakukan oleh manusia tentunya harus LILLAHI TA’ALA. Tapi pastinya anak usia balita atau balitu (batas usia 5 sampai 7) tidak terlalu paham dengan kewajiban sholat sebagai seorang umat muslim. Apalagi dulu anak balita tidak secerdas anak-anak sekarang yang bisa hafiz qur’an. Hehehe. Jadilah ini salah satu siasat ibu untuk mengajarkan perintah agama kepada anak-anaknya. Dengan hadiah? Yes it was. Kami memiliki tabel sholat dalam papan tulis lengkap dari sholat Subuh sampai Isya setiap hari. Bagi anak yang telah menunaikan sholat maka silahkan ceklis di dalam papan tersebut. Disini juga dilatih kejujuran masing-masing anak, karena bagi anak yang berhasil menunaikan sholat 5 waktu sehari tentunya akan mendapatkan hadiah dari ibu. Kalau saya tidak salah ingat, salah satu hadiahnya adalah uang. Lumayan bisa nambah jajan ke tetangga sebelah coyyyy. Didikan sholat yang diawali dengan iming-iming hadiah ini pun lama-kelamaan beralih menjadi kebutuhan. Yups, kebutuhan untuk menjalankan sholat sebagai tiang agama. Kebutuhan untuk mengisi relung jiwa. Jadi ibu tidak perlu repot-repot menggunakan kekerasan dalam menyuruh anaknya untuk sholat atau ibu tidak perlu khawatir dengan anaknya yang sudah besar tapi sering meninggalkan sholat. Alhamdulillah, sedari kecil kami bertiga tidak pernah sholat bolong-bolong. Ada satu cerita yang menarik terkait hal ini. Cerita ini tentang kakak perempuanku. Waktu itu sekitar tahun 2000, kami sekeluarga liburan ke Dunia Fantasi. Pasti tahu kan gimana hiruk pikuk taman bermain yang sangat hits di Indonesia bahkan sampai hari ini? Oleh karena banyak dan padatnya jumlah manusia di arena bermain tersebut, ibu memutuskan untuk tidak mengajak saya (umur 8 tahun) dan kakak (umur 11 tahun) dalam menunaikan sholat disebabkan oleh antrian yang sangat panjang. Saat itu mungkin ibu berpikir sangat situasional disebabkan kami berdua ceritanya masih anak bawang (belum baligh).But you know what gonna happen then? Selepas ibu kembali dari sholat, kakak perempuanku menangis tersedu-sedu. Kakak saya merasa sangat bersalah karena tidak sholat waktu itu. Oh God, four thumbs up for my mommy.
Hal ini juga berlaku ketika kami mulai beranjak dewasa. Tentunya sebagai umat muslim kita sangat menyadari bahwa apapun amalan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat, termasuk membaca Al-Qur’an. Sewaktu menjadi anak berseragam putih abu-abu, saya dan kakak sudah mendapatkan challenge dari ibu, siapa yang bisa qatam Al-Qur’an selama bulan Ramadhan akan diberi hadiah. Masih dengan uang? Jawabannya, iya. Dan ini jumlahnya lumayan untuk anak Anak Baru Gede seperti kami ini. Jadilah saya dan kakak selepas sholat fardhu atau sholat sunnah selalu berlomba-lomba untuk membaca Al-Qur’an. Saya sering bertanya “Sudah juz berapa kak?” Hahaha memang saya kepo sedari kecil ya  :P. 30 juzz dalam satu bulan memang sulit rasanya di tengah godaan yang banyak disana-sini. Dan saya akui ketika beranjak dewasa pun saya pun masih merasa tertatih dalam urusan ini (but no more present loh ya :D).
Memang terkadang dari iming-iming atau keterpaksaan itu, perlahan-lahan kita akan menemukan hikmah dan akhirnya hati kita menjadi ikhlas karenaNya.

4.       Ruang Tamu untuk Pacaran
Ketika baca ini, pasti akan bertanya-tanya kan? Memangnya saat sekolah diizinkan pacaran? Hahahaha. Kurang lebih seperti itulah. Saya dan kakak tidak pernah tertutup mengenai hal ini dengan orang tua. Jadi kami tidak pernah mengenal namanya backstreet saat menjadi anak sekolahan. Mungkin ibu saya berpikir bahwa perasaan saling suka dengan lawan jenis itu merupakan hal lumrah terjadi ketika anak sudah mulai beranjak dewasa. Eaaaaaa. Sederatan nama pacar, nama pedekate-an, atau nama mantan sudah tidak tabu lagi di keluarga kami. Bukannya sikap saling terbuka itu lebih indah? Dapat lampu hijau? Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu. Tapi jangan pikir saya dan kakak saya bisa pacaran dengan pulang pergi sebebasnya, karena ibu sudah memboikotnya dengan menyediakan ruang tamu untuk pacaran. Dengan kata lain, pacaran harus di rumah. Kalian bisa bayangkan anak sekolah pacaran yang biasanya masih identik dengan malu-malu kucing? Bisa bayangkan jika situasi itu terjadi di ruang tamu atau di teras rumah dimana ada ayah ibu atau tetangga yang lalu lalang. Oh men ‘___’ Ini salah satu bentuk proteksi ibu kepada anaknya terutama putri-putri beliau yang masih belia. Saya sangat menyadari bahwa tidak semua ibu di dunia akan setuju dengan sikap ibu saya. Hal ini disebabkan karena masih banyak orangtua yang berkeyakinan bahwa pacaran dapat menghambat proses belajar anak di sekolah. I have to say that it depends on the child.  Yang penting saya dan kakak masih berprestasi di sekolah, masih bisa mengharumkan nama orang tua dengan tidak pernah tereliminasi dari kelas unggul setiap tahunnya. Justru saat itu saya sangat bahagia dengan orangtua saya, karena saya tidak perlu merasakan seperti teman-teman lainnya yang harus berpisah dengan sang kekasih ketika sudah berada di ujung gang rumah. Hehehe. Peraturan-peraturan itu juga berlaku untuk kakak saya yang pertama. Sebagai laki-laki yang baru menginjak dewasa (tapi masih SMP sih), ibu sangat memahami bahwa sudah kodratnya sang kakak untuk ingin berkumpul bersama dengan teman-temannya yang lain. Alhasil ibu pasti selalu mengizinkan kakak saya untuk keluar di malam minggu dengan syarat harus pulang sebelum jam 9, jika tidak dipatuhi maka konsekuensinya adalah tidak akan ada jatah untuk keluar di malam minggu berikutnya. Jadi ceritanya pernah ada balada di malam minggu dimana sang kakak pulang lewat dari jam 9. Ibu saya sih masih selow-selow saja, setidaknya pintu masih dibukain kok, tidak harus tidur di teras. Hehehe. Tapi apa yang terjadi di malam minggu berikutnya? Ibu tetap kekeuh tidak mengizinkan kakak saya untuk keluar di malam minggu meskipun sudah nangis-nangis bombay berdarah dengan suara yang sudah mulai berubah menjadi bass. Yang namanya peraturan tetap peraturan sekalipun saya tahu bahwa setiap orangtua tidak akan pernah tega membiarkan anaknya seperti itu. Tapi ibu hanya butuh waktu satu kali untuk memgukuhkan hati dan mengajari tentang hal kedisplinan karena di malam-malam minggu berikutnya kakak saya selalu pulang ke rumah dengan sesak nafas ngos-ngosan sebelum jam 9. Keren kan? Iya donk, ibu saya. Hehehe.

5.       ‘BARU’ di tahun pelajaran BARU
Ya, ini adalah satu hal yang paling ditunggu-tunggu di setiap tahunnya. Ibu dan ayah sangat mengapreasiasi prestasi belajar setiap anak-anaknya. If I am not mistaken, angka-angka 9 di rapor akan dibeli oleh orangtua kami. Kami tidak diajarkan untuk matre loh ya, tapi uang memang selalu menjadi senjata ampuh untuk memboost spirit anak-anak (mungkin orang dewasa masih setuju dengan pendapat saya ini? :p) . Selain itu, sebagai bentuk apresiasi, ibu (tentunya dengan duit ibu + duit ayah) akan mengajak anak-anaknya ke ibukota Provinsi yaitu Padang (berhubung kami tinggal di kota Painan yang berjarak kurang lebih 77 km dari Padang) untuk membeli segala bentuk perlengkapan sekolah. Jadi setiap tahun pelajaran baru kami tidak pernah absen mengunjungi toko buku GRAMEDIA. Sebebasnya anak-anak diperbolehkan untuk memilih buku cerita, buku pelajaran, tempat pensil, pensil, pena penghapus, rautan, spidol, penggaris, tipe-X, dll. Toko buku ini berasa milik sendiri kali ya? Tinggal comot dan bayar. Wwkwkwk. Tidak lupa, ibu juga membelikan kami seragam, tas, sepatu, beserta sejumlah peralatan tetek bengek lainnya. Rutinitas ini selalu menjadi tradisi setiap tahun sedari kami SD sampai SMA. Punya buku warna warni? Pastinya. Punya banyak tas? Iya. Sepatu? Alhamdulillah. Saya sadar ini merupakan salah satu bentuk perhatian ibu kepada anak-anaknya. Dan saya yakin cara ini sangat ampuh untuk meningkatkan motivasi anak di awal tahun pelajaran sekolah. Ibu sering bercerita bahwa  biasanya seminggu sebelum sekolah, kami bertiga sudah sibuk dengan membungkus-bungkus buku pelajaran dan buku catatan sekolah sembari menggunakan seragam beserta tas dan sepatu baru. Aduh, udah nggak sabar pengen sekolahhhh mennn. Hahahaha.

6.       GAJIAN per bulan
Sejak kecil setiap bulannya saya selalu merasa seperti seorang pegawai. Bagaimana tidak, di awal bulan ibu akan memberikan amplop kepada masing-masing anakberisi sejumlah uang jajan yang diperlukan dalam satu bulan. Ini sudah berlaku ketika saya duduk di kelas 1 SD. Untuk melatih kesiplinan sedari kecil, ibu berinisiatif untuk tidak memberikan jajan perhari setiap pagi. You should believe in me, it is really hard. Anak kelas satu SD harus mengatur jajan selama sebulan sendiri?Yes, it is a must.Saya adalah satu-satunya anak yang sering kebablasan, saya sering berfoya-berfoya di awal bulan dan merana-rana di akhir bulan. Jajan selalu menjadi tidak cukup dan menjadi momok yang mengerikan di akhir bulan, guys. Pastinya ibu memiliki solusi dengan memberikan sejumlah uang yang diperlukan, namun dengan status PINJAMAN, jadi saya harus siap-siap mengembalikan di bulan berikutnya sewaktu gajian. Ya, ini salah satu bentuk kedisplinan dan keadilan yang diberikan ibu kepada anaknya. UANG JAJAN ANAK SAMARATA. Jangan harap ketika uang jajan habis dari ibu, saya bisa merengek-rengek minta tambahan jajan ke ayah. Jawabannya NOPE. Kebetulan dalam keluarga saya, masalah uang sepenuhnya diatur oleh ibu. Jadi jangan harap ayah akan kasihan, karena ibu dan ayah sangat kompak dalam masalah ini.Konspirasi yang sempurna. Hmm, baiklah.

Okeee, sekian dulu cerita malaikat tanpa sayap yang saya tulis hari ini yaa. Sebenernya masih ada beberapa poin lagi sih bagaimana cara ibu mendidik kami hingga kami bisa dikatakan berhasil seperti ini *uhuk. Tapi saya keep dulu di postingan berikutnya ya, biar lebih penasaran sama ibu saya hahaha. Terimakasih yang sudah mampir :)

Sudah tau kan kira-kira saya yang mana? Hehehe






 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea