December 29, 2016

REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA PEREMPUAN DALAM PEPATAH ADAT MINANGKABAU

Posted by Retya Elsivia at 7:03 PM
REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA PEREMPUAN
DALAM PEPATAH ADAT MINANGKABAU
Oleh : Retya Elsivia


1.      PENDAHULUAN
Minangkabau adalah salah satu suku terbesar yang memiliki sejumlah perbedaan dengan masyarakat adat lain di Nusantara. Salah satu perbedaannya terlihat pada sistem kekerabatan yang menganut paham matrilineal atau sistem kekerabatan berdasarkan perempuan atau ibu. Ketika seorang anak dilahirkan, baik laki-laki ataupun perempuan akan mempunyai suku yang sama dengan ibunya. Dalam budaya adat Minangkabau, perempuan memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting bagi kaumnya. Perempuan diibaratkan seperti tiang nagari atau di dalam pepatah adat Minangkabau disebutkan bahwa perempuan adalah limpapeh rumah nan gadang, ini memiliki arti bahwa jika perempuan itu rusak maka rusaklah semua nagari atau negerinya.
Banyak pepatah atau ungkapan yang melambangkan tingginya peran dan kedudukan perempuan di Minangkabau. Pepatah adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua-tua (KBBI, 2008: 1049). Satu satu pepatah tersebut berhubungan dengan fungsi dan peranan perempuan. Di Minangkabau perempuan adalah wanita sejati dan wanita pilihan yang sering disebut dengan bundo kanduang. Bundo kanduang merupakan sebuah lambang kehormatan dan kemuliaan yang diberikan kepada perempuan dewasa atau kaum ibu dalam suatu kaum. Perempuan yang disebut sebagai bundo kanduang harus memiliki budi pekerti yang baik, arif bijaksana, taat beragama, mampu memahami adat yang berlaku dan menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakatnya.
Dalam budaya Minangkabau, banyak pepatah yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat cenderung menggunakan tuturan tidak langsung atau bahasa kias seperti metafora dengan membandingkan sesuatu untuk mengasosiasikan dua hal. Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan (Kridalaksana, 2008: 152). Perangkat metafora dalam pepatah adat Minangkabau sangat terikat oleh budaya karena berisi pesan-pesan atau nilai-nilai tertentu yang dijadikan sebagai pedoman berprilaku dalam kehidupan masyarakat dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Gunarwan (2004: 11) nilai adalah aspek budaya yang paling dalam tertanam. Pepatah yang mengandung nilai-nilai hidup bermasyarakat tersebut menggambarkan bagaimana cara pandang suatu masyarakat dan itu akan menjadi identitas kelompoknya. Sehingga penelitian etnografi dalam bidang pemahaman budaya yang tercermin pada metafora-metafora dalam pepatah Minangkabau penting dilakukan dalam kaitannya dengan pemahaman filosofi dan nilai-nilai budaya lokal. 
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka pokok permasalahan yang akan dibahasa dalam penelitian ini adalah (1) apa saja metafora-metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah adat Minangkabau? (2) nilai-nilai budaya apa yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan?
Penelitian mengenai peribahasa telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Ada beberapa penelitian terdahulu yang mengilhami penelitian ini, diantaranya yang dilakukan oleh Gusna Ronsi (2011), Oktavianus (2013), dan Siska Rambitan dan Nova Mandolang (2014). Penelitian yang berjudul Citra Perempuan dalam Budaya Minangkabau oleh Gusna Ronsi bertujuan untuk menggali bagaimanan citra perempuan di Minangkabau yang diambil dari beberapa bentuk peribahasa seperti mamang, gurindam, pepatah-pepitih, dan seloka. Dalam penelitian ini ditemukan citra perempuan Minangkabau sebagai seorang yang tegas dan lembut, sopan santun, teguh pendirian, arif dan bijaksana, rajin dan ulet serta waspada. Penelitian Oktavianus dalam Semangat Profesionalisme dalam Peribahasa Minangkabau menganalisis tentang peribahasa Minangkabau yang mengandung nilai-nilai yang mendorong munculnya semangat profesionalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peribahasa Minangkabau mengandung nilai-nilai yang dapat mendorong masyarakat Minangkabau untuk memelihara tindakan, kebiasaan, perilaku dan sikap profesional dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, dari pencermatan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam peribahasa Minangkabau, seseorang yang profesional dalam melakukan profesinya adalah orang yang ahli di bidangnya, santun, waspada, hati-hati/cermat, berjiwa solidaritas, proporsional, inovatif, mudah beradaptasi, dinamis, bijaksana, adil, bertanggung jawab, rendah hati, teguh pendirian, dan mampu memberdayakan segala sesuatu sesuai dengan kapasitasnya. Penelitian selanjutnya adalah Ungkapan dan Peribahasa Bahasa Mongondow oleh Siska Rambitan dan Nova Mandolang yang membahas struktur dan fungsi ungkapan dan peribahasa bahasa Mongondow dan menganalisis nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa struktur ungkapan dan peribahasa terdiri atas frase nomina, frase verbal, frase ajektiva, frase numeral, klausa bebas dan klausa terikat, kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Fungsi ungkapan untuk menyatakan sifat atau perilaku seseorang yang baik dan tidak baik sedangkan peribahasa sebagai nasehat, peringatan, dan sindiran. Selain itu, nilai budaya yang terkandung dalam ungkapan menggambarkan nilai kebersamaan dan kerjasama, nilai keteladanan, dan nilai kesabaran, sedangkan dalam peribahasa nilai budaya yang terkandung ialah nilai kerjasama dalam suatu komunitas, nilai kerja keras dan pantang menyerah, nilai keteladanan, nilai kesabaran dan ketekunan, dan nilai keimanan yang tinggi terhadap Tuhan.
Masyarakat Minangkabau merupakan penutur bahasa yang banyak menggunakan pepatah atau cenderung bertutur secara tidak langsung untuk mengungkapakan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Errington (dalam Oktavianus 2006: 74) yang mengatakan bahwa salah satu ciri-ciri orang Minangkabau adalah mereka tidak berterus terang. Dari penjelasan di atas dapat terlihat bahwa masyarakat Minangkabau cenderung menggunakan tuturan yang mengandung makna implisit di dalamnya atau sering disebut dengan bahasa kias. Salah satu bentuk bahasa kiasan adalah metafora yaitu ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung dari lambang yang dipakai, melainkan dari prediksi yang dapat dipakai baik oleh lambang maupun oleh makna yang dimaksudkan dalam ungkapan itu (Wahab, 1991: 87). Menurut Grothe (2008: 9), hakekat dari metafora adalah untuk menjadikan sebuah kata memiliki makna di luar dari makna aslinya (harfiahnya) dengan cara menggunakan kata tersebut untuk merujuk sesuatu yang lain. Metafora memiliki tiga elemen pokok, antara lain:
1.      Pebanding (tenor atau target domain) adalah konsep, obyek yang dideskripsikan, dibicarakan, dikiaskan, dilambangkan, dan dibandingkan.
2.      Pembanding (vehicle atau source domain) adalah konsep yang mendeskripsikan atau mengkiaskan atau melambangkan tenor atau target domain.
3.      Persamaan antara pebanding dan pembanding (ground atau sense) adalah relasi persamaan antara target domain dan source domain. Relasi persamaan ini dapat bersifat obyektif: bentuk, tempat, sifat atau kombinasi diantaranya serta persamaan emotif, konsep, fungsi, dan sosial budaya (Taylor, 2003: 135).
Dalam penciptaan metafora, bahasa yang digunakan tergantung pada lingkungan sosial dan budaya. Sehingga Haley (1980: 155-159) membagi metafora yang terdiri dari sembilan jenis berdasarkan medan semantiknya, yaitu:
a.       Metafora ke-ada-an (being) yaitu metafora yang meliputi hal-hal abstrak seperti kebenaran dan kasih.
b.      Metafora kosmos (cosmos) yaitu metafora yang meliputi benda-benda kosmos misalnya matahari dan bulan.
c.       Metafora tenaga (energy) yaitu metafora dengan medan semantik hal-hal yang memiliki kekuatan, misalnya angin, cahaya, api, dengan prediksi dapat bergerak.
d.      Metafora substansi (substance) yaitu metafora yang meliputi macam-macam gas dengan prediksinya dapat memberikan kelembaban, bau, tekanan dan sebagainya.
e.       Metafora permukaan bumi (terrestrial) yaitu metafora yang meliputi hal-hal yang terikat atau terbentang di permukaan bumi misalnya sungai, laut, gunung dan sebagainya.
f.       Metafora benda mati (object) adalah metafora yang meliputi benda-benda yang tak bernyawa misalnya meja, buku, kursi, gelas dan sebagainya yang bisa hancur dan pecah.
g.      Metafora tumbuhan (living) yaitu metafora yang berhubungan dengan seluruh jenis tumbuh-tumbuhan (flora) seperti daun, sagu, padi dan sebagainya.
h.      Metafora binatang (animate) adalah metafora yang berhubungan dengan makhluk organism yang dapat berjalan, berlari, terbang dan sebagainya misalnya seperti kuda.
i.        Metafora manusia (human) adalah metafora yang berhubungan dengan makhluk yang dapat berpikir dan mempunyai akal.
Penggunaan metafora dalam pepatah atau bahasa kias tidak dapat dipisahkan dari latar belakang budaya masyarakat. Terdapat hubungan yang sangat erat antara bahasa dan budaya karena bahasa mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat pemilik bahasa. Kebudayaan suatu masyarakat tidak dapat dipahami sebelum seseorang mampu mempelajari bahasanya dan begitupun sebaliknya. Duranti (1997: 25) menyatakan bahasa mengkategorisasikan realitas budaya, yaitu bagaimana melihat budaya suatu etnis dari cara bahasanya. Pandangan itu diikuti oleh Oktavianus (2006: 118) yang mengatakan bahwa nilai budaya yang dimiliki suatu etnis, dapat ditelusuri melalui berbagai bentuk lingualnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa kajian terhadap bahasa berhubungan erat dengan latar budaya yang mengelilinginya.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tulisan yang diambil dari buku Kato Pusako: Papatah, Patitih, Mamang, Pantun, Ajaran dan Filsafat Minangkabau (1999) yang memuat pepatah adat tentang perempuan di Minangkabau. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Pada penelitian kualitatif, data yang terkumpul umumnya kata-kata, gambar-gambar, dan kebanyakan bukan angka-angka (Danim, 2002: 61).
Untuk mendapatkan hasil analisis data yang baik dilakukan sejumlah tahapan. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah (1) pengalihbahasaan pepatah adat yang berhubungan dengan perempuan dari bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia, (2) mencari bahasa figuratif dalam pepatah yang berupa metafora, (3) menentukan bentuk dan jenis metafora, (4) menentukan makna yang terkandung dalam metafora yang berhubungan dengan perempuan, dan (5) menentukan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan.

II.      PEMBAHASAN
Berikut adalah penjabaran metafora-metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah adat Minangkabau.
a.      Metafora Manusia.
Metafora manusia adalah makhluk yang berpikir atau memiliki dan mengunakan intelektualitasnya seperti manusia. Dalam konsep ini, termasuk pula dalam kategori metafora manusia adalah tindakan dan hal-hal yang hanya mungkin dilakukan oleh manusia dan tidak mungkin oleh makhluk lain, seperti berpikir, bermimpi, berbicara dan sebagainya. Contohnya dalam pepatah adat Minangkabau adalah:
(1)   Amban puruak pagangan kunci
‘bendahara pegangan kunci’
Metafora dengan lambang kias amban puruak dari data (1) mengandung arti bahwa perempuan di Minangkabau berperan sebagai bendahara dalam kaumnya, ia yang akan mengatur tentang keuangan dan segala pengeluaran dalam keluarga. Tiga elemen yang terkandung dalam metafora adalah pebanding, pembanding, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding. Pebanding yang ada adalah perempuan dan pembandingnya adalah amban puruak atau bendahara. Relasi persamaan antara perempuan dan amban puruak adalah persamaan posisi yaitu menjadi bagian penting dari suatu masyarakat Minangkabau. Sebagai masyarakat penganut sistem matrilineal, perempuan Minangkabau memegang peranan dalam perekenomian keluarga dan kaum serta dipercayakan untuk memegang dan menyimpan hasil sawah dan ladang. Oleh karena itu, perempuan berkuasa atas harta benda milik kaum dan bertugas untuk memelihara keberlangsungan harta warisan tersebut agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya.

No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Amban puruak
1
Hidup
+
-
2
Secara fisik
+
-
3
Berfungsi sebagai pengatur ekonomi
+
+
4
Memiliki kekuasaan
+
+
5
Dilakukan manusia
-
+
6
Termasuk bagian penting
+
+
Metafora selanjutnya dapat dilihat dalam data.
(2)   Auih tampek minta aie
‘haus tempat minta nasi’
Lapa tampek minta nasi
‘lapar tempat minta nasi’
Dari contoh metafora di atas, tampek minta aie jo nasi adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia untuk orang yang kelaparan dan kehausan dan ini adalah unsur pembanding dari metafora di atas, sedangkan pebandingnya adalah perempuan. Relasi persamaan antara perempuan dan tampek minta nasi jo aia adalah persamaan fungsi yaitu sebagai suatu bagian yang dapat menampung tersedianya makanan dan minuman. Sesuai kodratnya, wanita memiliki tanggung jawab dalam urusan dapur dan ia mengatur segala hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman keluarga dan kaum. Dalam adat Minangkabau, rumah perempuan atau wanita yang telah berkeluarga akan menjadi tempat meminta makan bagi keluarga besarnya terutama saudara laki-laki yang belum berumah tangga.  
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Tampek mintak aia jo nasi
1
Hidup
+
-
2
Secara fisik
+
+
3
Memiliki lokasi atau tempat
-
+
4
Memiliki kekuasaan
+
+
5
Dilakukan oleh manusia
-
+
6
Termasuk bagian penting
+
+
7
Memberikan sesuatu
+
+

b.      Metafora Binatang
Metfaora binatang yaitu semua makhluk atau organism yang dapat berjalan, berlari dan sebagainya selain manusia. Sebagai contoh adalah kuda, merpati, dan sebagainya. Termasuk di dalam kategori ini adalah sesuatu yang dapat hidup dan berkembang, yang tidak bersifat manusiawi. Berikut adalah contoh metafora yang berkategori binatang:
(3)   limpapeh rumah nan gadang
‘kupu-kupu di rumah yang besar’
Metafora pada contoh di atas adalah limpapeh yaitu sejenis kupu-kupu yang bewarna tidak terlalu mencolok. Analisis metafora yang dapat dilakukan dari pepatah di atas didasarkan pada tiga elemen pokok metafora. Dari data (3) dapat dilihat bahwa pebanding yang ada adalah perempuan, sedangkan pembandingnya adalah limpapeh. Seperti halnya kupu-kupu pada umumnya, limpapeh memiliki bentuk sayap yang indah tetapi lemah, terbang tidak terlalu tinggi dan hinggap dimana saja terutama pada saat bunga-bunga bermekaran. Relasi persamaan antara perempuan dan limpapeh adalah persamaan bentuk yang indah. Selain itu, layaknya limpapeh perempuan Minangkabau memiliki kekuasaan untuk mengitari rumah agar dapat melihat dan memperhatikan orang-orang disekelilingnya terutama anak dan kemenakan. Ia menjadi pemilik dan penguasa rumah kaumnya atau rumah gadang. Sebagai penganut sistem matrilineal, orang tua di Minangkabau akan merasa puas jika ia mampu meninggalkan warisan berupa rumah gadang atau membangun rumah untuk anak perempuannya.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Limpapeh
1
Hewan
-
+
2
Memiliki sayap
-
+
3
Memiliki kekuasaan
+
+
4
Hidup
+
-
5
Bentuk yang indah
+
+
6
Dapat terbang
-
+
7
Bergerak bebas atau mengitari
+
+

c.       Metafora Benda Mati
Metafora benda mati (object) adalah metafora yang meliputi benda-benda yang tak bernyawa misalnya meja, buku, kursi, gelas dan sebagainya yang bisa hancur dan pecah. Contohnya sebagai berikut:
(4)   Kaunduang-unduang ka Madinah
‘penutup kepala ke Madinah’
Ka payuang panji ka Sarugo
‘menjadi payung ke surga’
Metafora pada contoh di atas menggunakan benda mati yaitu unduang-unduang dan payuang. Pepatah (4) dapat dianalisis dengan menggunakan elemen metafora. Pebanding yang dinyatakan adalah perempuan dan pembandingnya adalah unduang-unduang (penutup kepala) dan payuang (payung). Selanjutnya relasi persamaan yang terdapat antara perempuan dengan unduang-unduang dan payuang adalah persamaan peran yaitu melindungi sesuatu yang penting. Penutup kepala atau payung berfungsi untuk menutup atau melindungi badan dari panas dan hujan, sedangkan perempuan Minangkabau berperan dalam melindungi keluarga dan kaumnya. Perempuan diibaratkan seperti pelindung kepala atau payung yang merupakan lambang kemuliaan, keamanan dan kesejahteraan. Di Minangkabau, perempuan berperan sebagai pelindung dan penjaga anggota keluarga, suku atau kaum dari perbuatan orang lain yang bertentangan dengan nilai adat dan agama serta memayungi mereka agar tetap berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam yang berlaku.   
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Unduang-unduang & Payuang
1
Benda
-
+
2
Berwujud
+
+
3
Untuk melindungi dari sesuatu
+
+
4
Sebagai tempat bernaung makhluk lainnya
+
+
5
Hidup
+
-
6
Berfungsi sebagai alat
-
+
Metafora berikutnya adalah:
(5)   Pusek jalo kumpulan tali
‘pusat jala ikatan tali’
Metafora pusek jalo beranologi dengan peran dan kedudukan perempuan sebagai pusat dari semuanya. Pepatah di atas memiliki tiga elemen pokok, yaitu pebandingnya perempuan, pembandingnya pusek jalo atau pusat jala, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding adalah persamaan kedudukan dan fungsi yaitu bagian sentral dalam kehidupan.  Perempuan memiliki posisi sentral sebagai pengatur rumah tangga, apakah itu sebagai istri, sebagai ibu, sebagai anggota masyarakat dan lain sebagainya. Sebagai seorang istri, ia harus mampu melayani suami secara lahir dan bathin serta menjadi teman hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagai seorang ibu, ia bertanggungjawab menentukan keberhasilan seorang anak di masa depan. Perempuan Minangkabau harus mempunyai ilmu pengetahuan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar serta mengajarinya budi pekerti yang luhur. Peranan perempuan sebagai pengatur rumah tangga sangat menentukan bagaimana baik buruknya suatu keluarga atau kaum.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Pusek Jalo
1
Benda
-
+
2
Berwujud
+
+
3
Berfungsi sebagai pusat atau sentral
+
+
4
Sebagai tempat bernaung makhluk atau benda lainnya
+
+
5
Hidup
+
-
6
Dapat diandalkan
+
+
7
Termasuk bagian penting
+
+

d.      Metafora Tenaga
Metafora tenaga memiliki kekuatan, membutuhkan ruang dan bergerak termasuk di dalamnya adalah, angin, api, panas, cahaya, sebagai sesuatu yang ada. Contohnya sebagai berikut:
(6)   Nan gadang basa batuah
‘yang besar serta bertuah’
Metafora pada contoh di atas dilambangkan dengan gadang basa batuah yang interpretasi maknanya adalah perempuan sebagai sosok yang besar dan bertuah. Sebagaimana metafora sebelumnya, dalam analisis metaforisnya terdapat tiga elemen pokok yang harus diperhatikan, yaitu pebanding, pembanding, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding. Pebanding dalam data adalah perempuan sedangkan pembandingnya adalah gadang basa batuah atau besar bertuah. Persamaan yang dapat ditarik antara perempuan dan gadang basa batuah adalah persamaan konsep yaitu disegani dan dihormati. Berbeda dengan masyarakat adat lain, perempuan di Minangkabau ditinggikan dan ia juga memiliki hak suara yang sama dengan laki-laki dalam musyawarah. Misalnya upacara pernikahan yang tidak dapat dilaksanakan tanpa disetujui oleh kaum wanita atau ibu. Dalam adat Minangkabau, segala sesuatu yang akan dilaksanakan oleh kaum atau suku harus melalui musyawarah mufakat. Oleh karena perempuan memiliki tuah, maka pendapat atau suaranya juga ikut menentukan dalam pengambilan keputusan.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Gadang Basa Batuah
1
Hal konkret
+
-
2
Hal abstrak
-
+
3
Besar
-
+
4
Memiliki kekuatan
+
+
5
Dimuliakan
+
+
6
Berkenaan dengan kedudukan
-
+
   
e.       Metafora Ke-ada-an
Metafora ke-ada-an mencakup pengalaman manusia yang abstrak dan bersifat ada awalaupun tak dapat dihayati langsung oleh indera manusia, seperti: senja, pagi, dingin, kasih, cinta, gelap, dan sebagainya. Dalam pepatah adat Minangkabau ditemukan metafora yang berkategori sebagai berikut:
(7)   sumarak di dalam kampuang
‘semarak di dalam kampung’
Konsep metafora semarak adalah sesuatu yang ada namum tak nampak. Kata tersebut terkait dengan makna: indah, meriah, ramai, berseri, megah dan terlihat ada pandangan cerah. Ia merupakan lambang kias yang harus diinterpretasikan maknanya. Analisis metafora yang dapat dilakukan pada pepatah di atas didasarkan pada tiga elemen pokok metafora. Pebanding yang ada adalah perempuan, sedangkan pembandingnya adalah sumarak. Relasi persamaan antara perempuan dengan sumarak adalah persamaan konsep yaitu simbol kemuliaan dan keelokan. Perempuan dianggap penyemarak dalam kaumnya. Mengingat pentingnya fungsi dan kedudukan perempuan di Minangkabau, kehadiran seorang anak perempuan sangat dinantikan dalam suatu keluarga. Jika suatu keluarga, tidak mempunyai anak kemenakan/keturunan yang wanita, maka akan dianggap habis keturunan kaumnya. Perempuan Minangkabau tidak hanya menjadi hiasan dari segi fisik saja tapi ia juga harus memahami ketentuan adat yang berlaku, menggunakan rasa malu dan sopan dalam berpakaian dan bergaul dengan siapapun. Dalam Minangkabau, keindahan seorang perempuan memiliki pengaruh kepada kampung atau nagari. Jika keindahan perempuan tersebut tidak dapat dijaga dengan perilaku yang baik, maka akan hancur pandangan masyarakat terhadap kaumnya.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Semarak
1
Bersifat abstrak
-
+
2
Bersifat konkret
+
-
3
Berseri
+
+
4
Lambang kemegahan
+
+
5
Dapat hancur atau rusak
+
+
6
Berfungsi sebagai hiasan
+
+

2.2 Nilai-nilai Budaya Perempuan Minangkabau
Banyak pepatah Minangkabau yang menggambarkan tentang kedudukan dan peran perempuan dalam masyarakat. Pepatah tersebut mengandung nilai-nilai budaya yang berbentuk nasihat, norma atau prinsip sebagai suruhan, anjuran ataupun larangan. Penjabaran pepatah yang mengandung nilai-nilai budaya untuk perempuan dapat dilihat sebagai berikut:

a.      Nilai Sopan Santun
Sikap sopan santun adalah sikap yang mutlak harus ada pada setiap perempuan Minangkabau. Sebagai panutan dalam kaumnya, perempuan harus memiliki sifat yang mampu menyegani dan menghargai orang lain. Sopan santun ini sangat diperlukan agar perempuan tahu bagaimana cara menempatkan diri diberbagai kehidupan. Hal ini dilakukan untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan antar sesama manusia. Nilai sopan santun tersebut dapat kita cermati pada pepatah di bawah ini:
Tapakai taratik jo sopan
            ‘terpakai tertib dan sopan’
Mamakai baso jo basi
‘memakai basa dan basi’
Adat Minangkabau mengharuskan perempuan mengunakan tata-tertib dan sopan dalam pergaulan, memakai basa-basi, dan peka akan perasaan orang lain agar tidak menyinggung dan menyakitinya. Salah satunya adat mengajarkan perempuan selalu berhati-hati dalam berbicara, seperti pepatah di bawah ini:
muluik manih baso katuju
‘mulut manis bahasa disenangi’
kato baiak kucindam murah
‘berkata baik pandai bergurau’
Pepatah tersebut mengandung arti bahwa perempuan Minangkabau dapat bertutur kata yang halus dan tidak menyakiti orang lain. Kucindam murah atau pandai bergurau yang dimaksud di atas adalah perempuan di Minangkabau juga harus memiliki rasa humor dan tidak harus kaku dalam bergaul. Ia harus pandai bergaul dengan siapapun dan mampu menempatkan diri dengan orang yang lebih tua, sama besar atau yang lebih kecil. Pepatah lain mengatakan bahwa perempuan Minangkabau:
Pandai bagaua samo gadang
‘pandai bergaul sesama besar’
Hormat kapado ibuk bapak
‘hormat kepada ibuk bapak’
Hidmat kapado urang tuo-tuo
‘khidmat kepada orang tua-tua’
Dari pepatah di atas terlihat jelas bahwa sikap sopan santun dan saling menghormati sangat dituntut tidak hanya pada orang yang lebih tua dan ibu bapak tetapi juga kepada orang yang sesama besar.

b.      Nilai Keimanan yang Tinggi Terhadap Tuhan
Masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu landasan hidup orang Mianngkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘Adat Bersendikan Syariat, Syariat Bersendikan Kitab Allah'. Maksudnya ialah aturan-aturan adat Minangkabau didasarkan oleh syariat agama Islam dan syariat tersebut berdasarkan pada Al-Quran dan Hadist. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai budaya yang dituntut ada pada setiap perempuan Minangkabau seperti pepatah berikut ini:
Takuik kapado Allah
‘takut kepada Allah’
Manuruik parentah Rasul
‘menuruti perintah Rasul’
Pepatah ini menyatakan bahwa perempuan Minangkabau harus selalu mematuhi ajaran agama Islam atas apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Sang Pencipta. Perempuan hendaknya selalu menjaga diri dan memelihara kehormatan, salah satunya melalui cara berbusana yang sesuai dengan aturan-aturan menurut adat. Selain itu dengan patuh terhadap nilai-nilai agama akan membuat perempuan kelak mampu menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anaknya karena ia akan membekali ilmu dan mengajarkan perkataan yang benar sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW.

c.       Nilai Pertanggungjawaban
Perempuan Minangkabau harus memenuhi segala kewajiban yang diberikan dengan rasa penuh tanggung jawab. Hal ini tergambar dalam pepatah:
Tahu dikorong jo kampuang
‘tahu akan korong dan kampung’
Tahu dirumah jo tanggo
‘tahu akan rumah tangga’
Maksud pepatah di atas adalah perempuan Minangkabau memiliki peranan besar dalam rumah adat kaumnya dan rumah tangga keluarganya. Perempuan senantiasa untuk peduli kampung halaman dan menjaganya dari aturan-aturan yang tidak sesuai dengan adat istiadat. Secara kodratnya, perempuan juga bertanggungjawab akan rumah tangganya untuk mengurus suami dan anak-anaknya dengan baik. Sesuai dengan kefitrahannya, perempuan lebih cenderung menggunakan perasaan sehingga ini mendukung peran dan tanggungjawabnya yang menuntut ketelitian dan kesabaran.

d.      Nilai Kearifan dan Kebijaksanaan
Adat Minangkabau menuntut setiap anggota masyarakatnya termasuk perempuan agar dapat bersikap arif dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang arif dan bijaksana adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain serta menempatkan diri secara benar dalam keadaan apapun tanpa ada pihak lain yang merasa dirugikan. Salah satu pepatah adat Minangkabau mengatakan bahwa perempuan:
Tahu dimungkin jo patuik
‘tahu dengan mungkin dan patut’
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’
Pepatah di atas menggambarkan sikap arif dan bijaksana perempuan Minangkabau dengan tahu dimungkin jo patuik. Maksudnya adalah jika dalam melihat suatu permasalahan, perempuan Minangkabau harus pandai meletakkan masalah secara benar dan patut. Hal ini tidak boleh hanya didasarkan pada ketentuan mungkin atau tidak mungkin namun juga harus menimbang kepatutan yaitu pantas atau tidak pantasnya. Hal ini sejalan dengan pepatah berikutnya, perempuan Minangkabau itu harus dapat malatakkan sasuatu pado tampaiknyo ‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’ dalam memutuskan sebuah permasalahan sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu pekerjaan yang dilakukan oleh wanita seharusnya diukur oleh patut dan mungkin. Sikap arif dan bijaksana ini harus diusahakan dalam proses hidup bermasyarakat untuk keadaan yang lebih baik.

e.       Nilai Keteladanan
Dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, perempuan Minangkabau senantiasa melakukan hal-hal yang terbaik dan mampu menjadi teladan bagi orang-orang sekelilingnya. Hal ini tergambar dalam pepatah Minangkabau berikut ini:
Bayang-bayang sapajang badan
‘bayang-bayang sepanjang badan’
Buliah ditiru dituladan
‘boleh ditiru ditauladan’
Pepatah di atas menjelaskan bahwa perempuan Minangkabau berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri dan tepat benar sesuai keadaannya. Ia harus mampu mengukur dirinya sehingga beban yang dipikul tidak melebihi kekuatan yang dimiliki. Hal ini disebabkan karena perempuan Minangkabau akan ditiru dan menjadi tauladan bagi orang sekitarnya sehingga ia harus mampu menjadi contoh yang baik.

f.       Nilai Teguh Pendirian
Orang yang disebut teguh pendirian adalah orang yang memiliki pendapat yang tidak mudah berubah. Dalam menghadapi pengaruh yang datang dari luar, perempuan Minangkabau harus memegang teguh apa yang menjadi pendapatnya dan memegang prinsip tanpa menghilangkan nilai-nilai yang tertanam di masyarakat. Niali yang mengandung teguh pendirian bisa tercermin dalam pepatah di bawah ini:
Maha tak dapek dibali
‘mahal tidak dapat dibeli’
Murah tak dapek dimintak
‘murah tidak dapat diminta’
Pepatah di atas menjelaskan bahwa perempuan Minangkabau mahalnya tidak dapat dibeli dan murahnya tidak dapat diminta. Ini merupakan cerminan dari sikap keteguhan diri dalam kondisi bagaimanapun, perempuan Minangkabau tidak mudah terbawa dengan arus zaman, ia harus dapat menyesuaikan diri dan berbaur dengan suasana yang ada.

g.      Nilai Kesabaran dan Ketekunan
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai kesabaran dan ketekunan sangat diperlukan untuk hidup yang lebih baik. Sebagai perempuan Minangkabau, sikap sabar dan tekun merupakan sikap positif yang harus dimiliki untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Hal ini tergambar dalam pepatah yang mengatakan
Satitiak buliah dilauikkan
‘setitik boleh di lautkan’
Sakapa dapek digunuangkan
‘sekapal dapat digunungkan’
Pepatah di atas mengandung makna bahwa sesuatu yang diperoleh memlaui proses belajar dan dengan jerih payah sendiri hendaknya dijadikan bekal untuk belajar lebih lanjut dan mendalam lagi. Hal ini sama seperti ilmu yaitu apa yang didapat hari ini sebaiknya terus dikembangkan dengan tekun dan sungguh-sungguh. Masyarakat Minangkabau meyakini bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan sikap sabar dan tekun akan membawa kita untuk dapat menikmati hidup yang berkelimpahan. Oleh sebab itu, nilai kesabaran dan ketekunan dianggap penting bagi perempuan Minangkabau dalam bekerja dan berusaha dalam bidang apapun.

III.   PENUTUP
Dalam budaya Minangkabau, perempuan adalah sosok sentral atau pusat dalam kaumnya. Sebagai penganut paham matrilineal yang meninggikan perempuan, maka banyak pepatah adat Minangkabau yang berhubungan dengan peran dan kedudukan perempuan tersebut. Dalam pepatah tersebut banyak bentuk bahasa figuratif yang ditemukan, salah satunya adalah metafora atau perbandingan dua hal berdasarkan kias atau persamaan. Metafora yang digunakan dalam pepatah Minangkabau merupakan salah satu unsur penting yang digunakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya, adat istiadat, nasihat, pikira, perasaan maupun kebiasaan-kebiasaan lain yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau.
 Dari metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah Minangkabau ditemukan metafora yang terdiri dari jenis berkategori manusia (human), binatang (animate), tenaga (energy), benda mati (object), dan ke-ada-an (being). Pepatah Minangkabau memiliki fungsi dan nilai-nilai budaya yang mengandung ajaran-ajaran moral yang berisi nasihat dan norma. Nilai-nilai yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau yang harusnya dimiliki oleh perempuan Minangkabau adalah nilai sopan santun, nilai keimanan yang tinggi terhadap tuhan, nilai pertanggungjawaban, nilai kearifan dan kebijaksanaan, nilai keteladanan, nilai teguh pendirian, nilai kesabaran dan ketekunan.
Penelitian ini hanya mendeskripsikan metafora dalam pepatah Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan berdasarkan klasifikasi medan semantik dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam pepatah tersebut. Oleh karena itu diperlukan penelitian lanjutan mengenai klasifikasi bentuk dan jenis metafora yang lebih luas dan tidak terbatas pada pepatah yang berhubungan dengan perempuan. Sampel yang lebih banyak dan kajian yang lebih mendalam diperlukan agar memperoleh hasil yang lebih maksimal.



DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV Pustaka Setia.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Duranti, Allesandro. 1997. Rangkuman Terjemahan Linguistik Antropologi. Cambridge: University Press.

Grothe, Mardy. 2008. I Never Metaphor I Didn’t Like. A Comprehensive Compilation of History’s Greatest Analogies, Metaphors, and Similes. New York : Harper Collins Publisher.
Gunarwan, Asim. 2004. Pragmatik, Budaya dan Pengajaran Bahasa. Makalah Seminar Nasional Semantik III. Surakarta: UNS.
Haley, Michael C. 1980. ‘Concrete Abstraction : The Linguistics Universe of Metaphor’ dalam Marvin K. Ching dan Michael Haley. 1980. Linguistics Perspectives on Literature. London: Routledge & Kegan Paul.
Indo, Madjo. 1999. Kato Pusako: Papatah, Patitih, Mamang, Pantun, Ajaran dan Filsafat Minangkabau. Jakarta : PT Rora Karya.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University Press.

 

__________. 2013. Semangat Profesionalisme dalam Peribahasa Minangkabau. Padang : Universitas Andalas.

 

Rambitan, Siska dan Nova Mandolang. 2014. Ungkapan dan Peribahasa Bahasa Mongondow. Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum Vol.1, No. 2. 

 

Ronsi, Gusna. 2011. Citra Perempuan dalam Peribahasa Minangkabau. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 6 artikel Vol. 2, No. 1, April 2011.

 

Schon, Donald A. 1981. Generative Metaphor : A Perspective on Problem-Setting in Social Policy, dalam Adrew Ontony, Metaphor and Thought. Cambridge : Cambridge University Press.

  

Taylor, John R. 2003. Linguistics Categorization. United States of America : Oxford University Press Inc New York.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.
Wijana, I Dewa Putu. 2008. Kata-kata Kasar dalam Bahasa Jawa. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora vol 20, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

LAMPIRAN PEPATAH ADAT MINANGKABAU
Sumber : Buku ”Kato Pusako”

BUNDO KANDUANG
Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pagangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek jalo kumpulan tali
Sumarak didalam kampuang
Hiasan dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik
Ka undang-undang ka Madinah
Ka payuang panji ka Sarugo

Limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagari
Hiasan didalam kampuang
Nan tau jo malu dan sopan
Hiasan Kampuang jo halaman
Langkok ka koto jo nagari
Sampai ka balai jo musajik
Panyusun sumarak rumah tanggo
Laku baiek budi baiek
Malu jo sopan tinggi sakali
Baso jo basi dipakaikan
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik
Tiang kokoh budi nan elok
Pasak kunci malu jo sopan
Hiasan dunie jo akiraik
Auih tampek minta aie
Lapa ka tampaek minta nasi

Elok tapian dek nan mudo
Elok Kampuang dek nan tuo
Elok Nagari dek pangulu
Elok musajik dek tuangku
Elok rumah dek bundo kanduang

Muluik manih kucindam murah
Baso baiak gulo di bibie
Muluik manih talempong kato
Sakali rundiang disabuik
takana juo salamonyo

Masaklah buah kacang padi
Dibawok urang katangah pasa
Padi nan masak batangkai-tangkai
Bundo kanduang tuladan budi
Paham nan indak amuah tajua
Budinyo nan indak amuah tagadai

PARAMPUAN
Adapun nan disabuik parampuan
Tapakai taratik jo sopan
Mamakai baso jo basi
Tahu diereang jo gendeang
Mamakai raso jo pariso
Manaruah malu jo sopan
Manjauahi sumbang jo salah
Muluik manih baso katuju
Kato baiak kucindam murah
Baso baiak gulo dibibia
Pandai bagaua samo gadang
Hormat kapado ibu bapak
Hidmat kapado urang tuo tuo
Mamakai di malu samo gadang
Labiah kapado pihak laki laki
Takuik kapado Allah
Manuruik parentah Rasul
Tahu dikorong jo kampuang
Tau dirumah jo tanggo
Tahu manyuri manuladan
Takuik dibudi katajua
Malu dipaham ka tagadai
Manjauahi sumbang jo salah
Tahu dimungkin jo patuik
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
Tahu ditinggi jo randah
Bayang-bayang sapanjang badan
Buliah ditiru dituladan
Ka suri tuladan kain
Kacupak tuladang batuang
Maleleh buliah dipalik
Manitiak buliah ditampuang
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa dapek digunuangkan
Iyo dek urang di nagari



 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea