January 05, 2017

Malaikat Tanpa Sayap *Part 2

Posted by Retya Elsivia at 12:07 AM
Well, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu lagi di tulisan saya kali ini. FYI, ini adalah tulisan kedua saya setelah Malaikat Tanpa Sayap *Part 1 cukup banyak mendapatkan respon positif termasuk dari sang Malaikat Tanpa Sayap yang hanya bisa mangguk-mangguk mengiyakan (bahkan beliau juga meminta agar tulisan tersebut dicetak :p) Terimakasih bagi yang sudah membaca dan yang bersedia kembali membaca lanjutannya disini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk kita semua. Semoga segala resolusi yang telah dituliskan di tahun 2017 berujung menjadi kenyataan. Aamiin. Di awal tahun ini, saya mendapat sebuah kutipan yang menarik dari @AhmadFauzi dalam  Inspirasi Islami.
Ada dua hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang.
Buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui.
Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. Bacalah banyak buku, temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat, orang-orang yang banyak melakukan perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi.
Sepakat? Okay, let’s start it. Meskipun ini bukan buku, tapi saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat dan mampu menjadi inspirasi :’) Inilah lanjutan cerita Malaikat Tanpa Sayap saya, so happy reading guys.

7.       Stand up for Children’s Rights
Hidup jauh dari ibukota tidak menjadi alasan bagi ibu untuk tidak dapat memenuhi hak anak-anaknya. Ibu selalu membiasakan kami dengan big city-mindset.  Ya setidaknya jangan sampai bermental kampung*n dan clingak clinguk mendengar cerita orang tentang kehidupan di kota. Hehehe. Salah satu bentuk kebiasaan yang diajarkan ibu adalah dengan sering mengajak kami ke kota Padang. Bagi anak kecil yang datang dari pelosok seperti saya ini saat melihat MATAHARI dan di dalamnya ada arena bermain TIMEZONE itu rasanyaaaaaa SUPERWOWWWW, membuat hati menolak untuk pulang. Ya, saya akui ayah dan ibu sering berdebat dalam hal ini. Prinsip ibu ketika kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Padang baik untuk sekedar belanja kebutuhan atau liburan sekolah, maka wajib hukumnya bagi setiap anggota keluarga untuk terpenuhi kepuasannya. Jadi kalau pas jalan pulang itu sama-sama enak, sama-sama senang dan bahagia gitu loh. Memang sedari kecil ibu membiasakan kami untuk selalu berbelanja di kota Padang, termasuk untuk hal kecil sekalipun. Sehingga saya sendiri pun sering bingung ketika ditanyakan toko baju di kota yang saya tinggali. Bukan sombong loh ya, tapi ini berbicara fakta. Wkkwkwk. Dengan segala keterbatasan libur yang dimiliki oleh ayah sebagai seorang abdi negara, lantas tidak mebuat ibu menyerah untuk dapat memenuhi hak-hak anak dengan semampu yang beliau bisa. Setiap libur sekolah kami selalu pulang ke kampung halaman di Payakumbuh (I stress the word SELALU). Liburan sekolah menjadi waktu yang sangat dinanti-nantikan karena bisa bermain di kampung halaman. Saya bisa menjamin bahwa liburan dengan suasana yang berbeda itu mampu menjadi suplemen ampuh penghilang stress. Setuju nggak? Selain itu dengan liburan, anak bisa terlepas dari beban pikiran belajar selama 3 bulan terakhir (maaf njih, zaman saya SD dulu sistem sekolahnya masih triwulan, bukan semester kayak sekarang :D). Meskipun di setiap libur sekolah itulah kami membutuhkan 5 jam perjalanan dari Painan ke Payakumbuh dengan dua kali mobil bus yang harus berganti di tengah padatnya arus terminal (tapi kalau nggak sibuk, biasanya akan diantar jemput oleh ayah, yaaa kayak ngedrop anak ke sekolahan gitu hahaha). Situasi seperti ini telah berlaku jauh sebelum kami bertiga duduk di bangku sekolah. Hanya dengan ibu saja? Ya, hanya dengan ibu saja beserta tiga orang anak kecilnya. Satu berada di dalam pangkuan, satu dipegang di sebelah tangan, dan satu lagi dibiarkan jalan lepas di depan. Bahkan ini juga terjadi pada saat liburan kami berempat ke tanah Jawa atau ke Pulau Batam. Saya tahu saking susahnya ibu dalam mengatur tiga orang anak ini, kakak laki-laki saya pernah hilang dari genggaman ibu ketika berada di kapal penyeberangan Merak-Bekhauni, atau kakak perempuan saya yang pernah diberi air dan terpaksa dibopong oleh orang lain karena tidak mau bangun saat perjalanan. Yes, that’s my superwoman J

8.       NO BREAKFAST = NO SCHOOL
Untuk hal ini sampai sekarang saya pun masih angkat topi dengan ibu. Mungkin rasa ini tidak akan pernah hilang sekalipun saya bisa melakukan hal itu nanti. Ibu tidak akan pernah mengizinkan anaknya untuk keluar rumah tanpa sarapan. Ya, termasuk untuk sekolah sekalipun. Ibu selalu menyediakan sarapan setiap pagi dengan menu yang berbeda. Jangan pikir ibu bisa melakukan hal ini karena jam kerja yang lebih longgar dari jam anak sekolah. Tidak sama sekali. Ibu adalah seorang guru SMA, jadi kami sekeluarga memiliki jadwal keberangkatan yang nyaris sama di setiap pagi (read: ayah bukan pergi sekolah, tapi pergi apel pagi yang jadwalnya lebih cepat dari kami). Entahlah terkadang saya heran jam berapa ibu harus bangun setiap harinya untuk membuat sarapan ini. Satu hal yang saya tahu, ibu tidak ingin jika anaknya tidak dapat fokus atau susah berkonsentrasi saat menangkap pelajaran di sekolah. Dan satu lagi, ibu tidak ingin malu jika anaknya jatuh pingsan saat pelaksanaan upacara bendera. Kebiasaan ini pun mendarah daging hingga saya  tidak lagi tinggal bersama ibu. Sebagai anak kost, saya harus berpikir keras setiap hari makanan apa yang bisa saya makan untuk besok pagi (yes i know it is truly lebay hahaha). Terimakasih ya bu karena sekarang saya pun tumbuh menjadi anak yang tidak pernah bisa keluar rumah tanpa sarapan :’)

9.       PENDIDIKAN adalah HARGA MATI
Dari judulnya agak ngeri-ngeri sadap ya. Hehehe. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sekarang kita hidup di zaman pendidikan dimana hal ini yang akan membuat kita dapat bertahan hidup. Mungkin idealisme seperti inilah yang tertanam dalam pikiran para orang tua termasuk ibu saya. Jarang sekali kita menemukan anak-anak yang menganggur selepas masa SMA, ya kalaupun menganggur itu pun bukan keinginan orang tua mereka, bisa jadi itu adalah faktor X dari si anak. Pendidikan adalah harga mati. Bisa dibilang itu juga berlaku dalam keluarga saya. Dalam rentang usia kami yang berselang 5 tahun, ibu pernah serentak menguliahkan 3 orang anaknya dalam beberapa tahun. Pastinya banyak keringat yang mengucur dan langkah kaki yang terseok-seok selama itu. Pada saat itu memang belum berlaku sistem UKT untuk pembayaran uang kuliah which means uang kuliah s1 kami masih murah tiga atau empat kali lipatlah dari uang kuliah anak zaman sekarang, tapi yang dipikirkan ibu tidak hanya seputar uang kuliah yang harus dibayar dalam satu kali enam bulan,  masih ada uang kos, uang jajan, uang buku, uang perlengkapan sehari-hari, dan segala uang-uang lainnya yang harus diberikan tiap bulan pada masing-masing anak (meskipun saya dan kakak sering mendapatkan uang ‘cekeran’ dalam bentuk beasiswa prestasi dari kampus, tapi itu diapresiasi ibu sebagai bonus dan lebih sering kami gunakan untuk menunjang kehidupan tersier, if u know what I means ;p). Semua perjuangan yang dilakukan ibu itu demi satu kata yang paling sakral, yaitu PENDIDIKAN. Orang Minang pernah mengatakan indak kayu, janjang pun den kapiang. Pepatah ini sering kali saya dengar dari ibu. Maksudnya kurang lebih seperti ini jikapun tidak ada kayu, tanggapun bisa dipotong-potong agar dapat dijadikan kayu. Jadi tidak ada yang tidak mungkin dalam pengorbanan seorang ibu dalam memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Hal ini jugalah yang berhasil mengantarkan kami bertiga sampai ke jenjang pendidikan magister. Sumber donaturnya tak lain dan tak bukan pastilah ibu dan ayah. Meskipun pada awalnya, saya menolak mentah-mentah ‘paksaan’ ibu untuk lanjut kuliah s2 (karena mimpi-mipi kuliah di luar negeri masih seperti angin segar tak layu). Saya masih ingat selepas s1 ketika berkas pendaftaran saya untuk menjadi CPNS dibalas dengan senyuman sungging saking ibu ingin semua anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini juga salah satu pesan dari almarhum kakek kepada ibu yaitu sebisa mungkin anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. That’s the point. Selama masa-masa perjuangan ini, ibu sangat banyak take part hingga akhirnya kami bertiga dapat sampai ke garis finish dan dengan bangga mengibarkan bendera merdeka. Banyak tantangan? Pasti. Salah satunya juga terjadi pada kakak laki-laki saya. Ketika itu, usianya sudah 26 tahun dengan status mahasiswa pascasarjana semester 6. Ini adalah titik dimana para mujahid ilmu sedang berjuang dengan tesis (meskipun ini cukup terlambat). Tapi, tesis menjadi prioritas nomor sekian bagi kakak saya dikarenakan aktivitas lainnya sebagai seorang pengusaha wangi-wangian a.k.a parfum. Dan saat itu juga terjadi kendala lain dimana sang kakak juga ingin menikah dan membina bahtera rumah tangga bersama wanita pilihannya. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga saya karena akan hadir seorang anggota baru pertama di dalam keluarga kami. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu karena ayah dan ibu akan segera memiliki keturunan baru. Tapi bagaimana dengan respon ibu? It will shock u I guess. Ibu meresponnya dengan jawaban 'restu ibu akan didapat jika kakak berhasil menyelesaikan pendidikan s2'. Intinya tidak akan ada penikahan jika belum ada M.M (magister manajemen) di tangan (Ngeri nggak tuh?). Jadilah sang pejuang harus kembali berkutat dengan tesis dan harus sering nongkrong ke kampus demi oh demi melamar sang kekasih pujaan hati. Hahahaha. Alhamdulillah proses sidang ujian akhir hingga proses pernikahan sang kakak tidak berlangsung lama, mungkin hanya berjarak 2-3 bulan. Sesuai dengan janji ibu, maka tepat di hari ulang tahun kakak ke 27 tahun, keluarga saya officially memiliki anggota keluarga baru meskipun pada saat itu kakak saya belum officially lulus karena belum wisuda. Hehehehe. Saya yakin bahwa sekarang kakak saya pasti merasakan manfaat luar biasa dari sikap keras ibu, jika seandainya tidak ada pergejolatan seperti itu, pasti tesis akan tetap menjadi priotas nomor kesekian di tengah kesibukannya disana-sini plus tanggungjawab sebagai seorang suami. Dengan sikap keras ibu untuk memperjuangkan titel MM tersebut, kakak saya bisa diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di kota Padang. Well, I had the same thing happen to me. Pada akhirnya, saat ini dengan kehidupan yang sekarang, saya merasa bersyukur dengan ‘daulat’ ibu atas saya. Saya yakin setiap orang yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan master akan merasakan kehidupan yang lebih baik, baik dari segi ilmu, profesi ataupun finansial meskipun perjuangan hingga ke titik puncak tersebut harus berdarah-darah sekalipun. Perjuangan inilah yang sedang dijalani oleh ibu saat ini, setelah berhasil mengantarkan ketiga buah hatinya ke jenjang pendidikan master, sekarang ibu sedang mencoba mengantarkan dirinya sendiri ke puncak tersebut dalam usia 54 tahun (mungkin mahasiswa magister paling tua ya? hehehe).  Ibu yang tak pernah haus menuntut ilmu. Mahasiswa yang tidak ingin bolos sekalipun anak-anaknya sudah berubah menjadi syetan penghasut.  Hehehe.
Berbicara masalah pendidikan, honestly ibu tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar. Mungkin karena kami anak baik ya #tsahhhh. Tapi nggak juga sih, tapi nggak tau aja ya kenapa saya dan kakak bisa belajar dengan kesadaran sendiri, ya kalau ada PR di sekolah mbok ya diingat dan dibikin sendiri lah, kalau nggak dibikin kan konsekuensinya juga ditanggung sendiri kan ya :p Malah yang aneh adalah ibu sering mengingatkan kami untuk istirahat. Berhubung kakak perempuan saya adalah learner maniac, jadi ibu sering sekali berpesan bahwa ibu tidak rela kalau kakak harus belajar jika lewat dari jam 10 malam. Hahahaha. Ah ibu, andai dirimu tahu seberapa stressnya menghadapi tumpukan buku pascasarjana :P
Sebuah pemandangan di sudut rumah saya. Ini adalah salah satu karya ibu.
10.   Selera Ibu
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.
Selalu memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Penggalan lirik lagu tersebut sangat cocok untuk mendeskripiskan ibu. Ibu saya bukanlah wanita konglomerat dengan uang yang berlimpah, tapi ibu saya selalu berusaha memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa barang-barang yang diberikan ibu seperti sepatu, sepeda, baju, tas adalah rentetan barang bermerek. Ketika saya sudah besar seperti ini, terkadang saya pun masih harus berpikir ulang lagi dan lagi untuk membeli barang-barang dengan harga segitu di tengah gaji yang pas-pasan wkwkwkw.  Dengan sikap ibu seperti ini, saya dan kakak setidaknya bisa merasakan barang bagus meskipun tidak melebihi dari punyanya anak bupati. Hehehe. Saya tidak minta semua orang harus setuju dengan pendapat ibu yang mengatakan bahwa masalah penampilan juga terkait dengan masalah harga diri. Tapi jangan pikir bahwa saya dapat meminta ini itu seenak jidat saya. HELLOO!! Emangnya bokap lo presiden. Hehehe. It’s okay as long as it is still logical dan ibu mampu untuk membelinya. Ibu adalah tipikal orangtua yang tidak akan pernah langsung memberikan apa yang diingikan anaknya. Pasti ada jeda antara keinginan dan pemenuhan itu dan disini sangat dituntut kesabaran dari sang anak tapi setiap anak harus siap-siap dengan surprise yang datang secara tiba-tiba. Ya semacam right thing in the right time and everything will turn out right. Wkwkwkw. Kuncinya jika semakin merengek, maka semakin tidak akan diberikan, tapi kalau diam (sok-sok nggak butuh gitu lah), maka peluang dapatnya akan lebih besar. Hehehe. Disini ibu mengajarkan kami bahwa tidak semua keinginan itu harus didapat meskipun pada saat itu, saya yakin bahwa ibu saya sangat mampu untuk membelikan, but who’s know about human life?. Saya ingat cerita ibu tentang kakak saya yang protes dengan uang jajan teman sebayanya yang jauh lebih besar padahal sorry to say, ayah kami memiliki profesi yang sama, bahkan ibu saya lebih hebat karena ikut membanting tulang membantu perekonomian keluarga. Saat itu jawaban ibu sangat sederhana, ‘Mama bisa berikan uang jajan 10ribu bahkan 20rb perhari melebihi si Z, tapi apa kamu yakin kalau tiba-tiba papa sudah tidak ada, mama bisa memberikan hal yang sama setiap harinya?’ Ya, itulah ibu saya, sosok yang selalu menyadarkan kami bahwa meninggikan selera jauh lebih mudah daripada menurunkan selera.

11.   The other side of Malaikat Tanpa Sayap
Dalam poin terakhir ini, saya akan mendeskripsikan beberapa sisi positif dari ibu. Saya bisa katakan bahwa ibu adalah tipe orang perfectionist. Mulai dari urusan pekerjaan hingga ke urusan rumah tangga. Ibu pernah mendapatkan JUARA 1 LOMBA KEBERSIHAN di tingkat asrama, padahal saat itu kami bertiga masih balita, pasti yang terbayangkan adalah bagaimana pecah belahnya rumah dipenuhi dengan mainan yang berserakan atau hawa-hawa pesing yang tidak mengenakkan layaknya rumah-rumah ibu rumah tangga dengan satu anak balita kebanyakan. Disitulah letak supernya ibu saya, sekalipun di rumah ada tiga orang anak balita, ini tidak menjadi exception dalam mengurus dan menata rumah secara rapi dan bersih, bahkan ibu bisa mengalahkan rumah lain yang notabene tidak ada anak balita di dalamnya. Gokil kan? Wkwwkwk. Selain itu, ibu juga terkenal sebagai ahli pembukuan. Ibu punya catatan untuk semua barang rumah tangga (beserta tanggal pembelian dan harga). Ibu punya catatan untuk semua rincian biaya yang dikeluarkan saat perjalanan baik keluar kota ataupun keluar negeri. Ibu punya catatan berapa biaya yang dibutuhkan oleh ketiga anaknya saat kuliah s1 dan s2 termasuk rincian uang jajan per bulan, it means biaya kami selama kurang lebih 4 tahun sewaktu s1 dan 2 tahun sewaktu s2. Ibu punya catatan nama siswanya yang menjadi lulusan PMDK sedari beliau mulai mengajar tahun 1985. Bahkan lebih dari itu, sedari tahun 1985 itu juga, setiap bulan ibu selalu tidak penah absen mengumpulkan amprah gaji hingga sekarang. Dan lebih parahnya, ibu tidak pernah lupa mencatat periode jadwal bulan merah setiap bulan. Hanya satu yang sangat saya sayangkan karena ibu tidak mencatat nama mantan hahahaha. Lambat laun saya mulai mengetahui manfaat menjadi Mrs. Super Duper Detail ini seperti agar kita tahu pasti apa yang telah dibeli, mengapa suatu alat rumah tangga harus saatnya diganti, untuk apa biaya dikeluarkan, apakah siklus hormon teratur atau tidak, dan lain-lain sebagainya.  Ibu, ibu, ibu. Saya pun masih harus banyak belajar menjadi ahli pembukuan sepertimu.

Okay, tibalah kita di penghujung cerita. Saya sudahi deskripsi saya mengenai Malaikat Tanpa Sayap ini. Satu hal yang pasti yaitu perihal anak bukanlah urusan yang gampang seperti semudah membalikkan telapak tangan. Ketika diri kita sudah mendapat panggilan sebagai seorang ayah atau seorang ibu, maka bersiaplah untuk diminta sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah amanah yang harus diemban untuk seutuhnya membesarkan, mendidik dan membentuk karakter seorang manusia. Dua postingan saya hari ini dan sebelumnya mungkin memiliki pembelajaran yang bisa dipetik manfaatnya. Untuk sesuatu yang sekiranya akan mendatangkan mudhorat, silahkan ditinggalkan dan saya haturkan permohonan maaf akan hal itu. Tetaplah menjadi orangtua yang keras dan tegas tapi elegan dalam mendidik seorang titipan Tuhan. Diperlukan ibu yang cerdas untuk melahirkan anak yang berkualitas. Salam dua anak :p
Izinkanlah tulisan ini saya buat sebagai bentuk napak tilas saya menjadi anak seorang ibu.
Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?’ Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)
(Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations)
Semoga tulisan ini tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tulisan yang akan selalu menjadi jejak perjalanan yang menyelipkan kenangan dan mengukir catatan sejarah untuk diwariskan. Terimakasih ibu, sungguh lidah sayapun kelu apakah saya sanggup membalas setiap air susu dan perjuanganmu untuk kami anak-anakmu. Semoga Allah selalu memberikan limpahan rahmat, rezeki dan kesehatan kepada Ibu.
Aamiin allahuma aamiin.

Malaikat Tanpa Sayap :*



 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea