July 28, 2020

Berkenalan Dengan Om(budsman)

Posted by Retya Elsivia at 1:50 AM


Perjalanan sebagai calon asisten Ombudsman RI dimulai pada tanggal 2 dan 3 Januari 2020 di kantor Ombudsman Perwakilan Provinsi Sumatera Barat. Sebagai anak reformasi birokrasi, Ombudsman hadir untuk mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik oleh penyelenggara negara dan pemerintahan yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari APBN/APBD. UU No 37 tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia dan UU no 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menjadi dasar pijakan lembaga negara ini. Kantor Ombudsman perwakilan Sumatera Barat terdiri dari 15 orang pegawai dengan rincian 1 orang Kepala, 2 orang sekretariat, 9 orang asisten, 1 orang pramubakti dan 2 orang security dengan wilayah kerja meliputi 19 Kabupaten/Kota. Kami memulai perjalanan diawali dengan orientasi kantor, kemudian dikenalkan sekilas mengenai Ombudsman baik di tingkat pusat maupun perwakilan, hak dan kewajiban sebagai calon asisten, dan pastinya berkenalan dengan insan Ombudsman di kantor perwakilan ini. Tentunya setiap orang memiliki cara yang berbeda saat menyambut kedatangan orang baru dalam lingkungan kerja dan  saya dapat merasakan sambutan yang hangat dari keluarga insan Ombudsman mulai dari Kepala Perwakilan, asisten senior, pejabat teras hingga adik-adik magang. Thanks for making me feel so welcome, everyone.
Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi, Ombudsman Perwakilan Sumatera Barat dibagi menjadi 3 bidang keasistenan yaitu Pencegahan, Penerimaan dan Verifikasi Laporan (PVL), dan Pemeriksaan Laporan (Riksa). Setiap bidang memiliki tim yang beranggotakan 2-6 orang yang dikomandoi oleh 1 orang Kepala Asisten (Kapten).  Bidang pencegahan akan fokus dalam upaya-upaya pencegahan maladmistrasi termasuk menjalin koordinasi dan kerjasama dengan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Instansi Lainnya. Bidang PVL akan fokus dalam menerima pengaduan yang masuk baik dengan datang langsung atau via telfon, email, surat, Whatsapp atau faksimile. Selanjutnya pengaduan diproses menjadi laporan melalui tahap verifikasi formiil dan materiil. Setelah itu, laporan akan diplenokan dan ditetapkan apakah menjadi kewenangan Ombudman atau tidak. Jika laporan tersebut menjadi kewengangan Ombudsman, maka laporan akan ditindaklanjuti oleh asisten pemeriksaan laporan.
Kepala perwakilan dan asisten senior selalu menekankan bahwa bekerja di Ombudsman adalah sebagai bentuk pengabdian/voluntary. I feel it, indeed (sounds like lebay). Tapi sebagai observer selama 2 hari, saya melihat bahwa ada beberapa kali pelapor yang datang ke kantor untuk menyampaikan pengaduan atau menindaklanjuti laporan sebelumnya.  Saya menyukai pekerjaan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh orang lain meskipun saya tidak tahu kapan dan dimana titik jenuh seorang asisten Ombudsman untuk dapat menerima dan menyelesaikan laporan. Semoga saja saya tetap menikmati titik tersebut nanti.
Masih banyak langkah yang harus ditapaki untuk bisa berkenalan lebih jauh dengan Om(budsman). Terlepas dari jam kerja yang cukup panjang, jadwal kerja yang lebih padat, fasilitas yang agak minimalis, saya bersyukur bisa bergabung menjadi Insan Ombusman RI Perwakilan Sumatera Barat. Semoga ayunan langkah kaki dan tangan ini dapat berkontribusi aktif untuk menciptakan Reformasi Birokrasi Negeri.


Tulisan dibuat tanggal 5 Januari 2020 (H+3 TMT Calas Ombudsman Sumbar)

December 19, 2019

Thankyou for a Sweet 2019: New Life Begins (Again)

Posted by Retya Elsivia at 1:53 AM

Fabiayyialairobbikumatukadzibaan. Tidak pernah lisan ini berhenti mengucap syukur kepada Allah SWT atas setiap limpahan rezeki yang diberikan kepada setiap hamba-Nya.
Untuk Rezeki yang Telah Tertakar dan Tidak Pernah Tertukar.
17 Desember 2019
Saya akui memang tanggal itu selalu special dalam hidup saya dan keluarga, tanggal dimana saya selalu tuliskan dalam biodata riwayat hidup saya. Yes, the day is my brother’s birthday. Ulang tahun sulung mamapapa.  Tapi di tahun ini tanggal ini feel so really special for my life. Kurang lebih 11 hari saya menunggu tanggal ini dengan perasaan yang sangat fluktuatif, perasaan deg-deg-an, optimis, terkadang pesimis, ditambah kegalauan dan diakhiri dengan perasaan tawadhu alias berserah. Coz I really believe Allah is the best planner. Allahu Akbar.
Tanggal itu adalah tanggal dimana saya akan menerima pengumuman hasil akhir seleksi Calon Asisten Ombudsman RI (ORI) Perwakilan Sumatera Barat. Saya yakin di antara blogger ada yang belum familiar dengan Ombudsman karena memang dia tidak se-terkenal KPK dan teman2nya yang lain. Silahkan dibrowsing saja sebelum nanti saya lampirkan UU No 37 tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia. Hehehe. No worries. Kata tersebut memang serapan digunakan di seluruh dunia. Jadi Ombudsman ini hadir dengan nama yang sama di seluruh negara termasuk Indonesia. Tupoksinya secara garis besar untuk mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik.
Tulisan ini hanya untuk sekedar sharing mengenai perjalanan saya dalam mengikuti proses seleksi Calon Asisten (disingkat Calas) Ombudsman RI.  Saya harap ini bisa jadi pembelajaran untuk teman-teman yang juga berniat untuk mengikuti seleksi ini nantinya. Honestly saya juga banyak browsing pengalaman teman-teman mengikuti seleksi ini sebelum saya mengikuti tes. Tetapi update terakhir memang sewaktu recruitment Calas tahun 2016. Menurut saya it is little bit different dari sisi kisi-kisi soal yang membuat saya harus bermain dengan insting dan logika saat mengikuti ujian tertulisnya hehehe.
28 November 2019
Hari dimana saya tau bahwa saya lulus tes administrasi Seleksi Calas ORI 2019.  Saya juga diberitahu oleh teman kantor sebelumnya yang ternyata juga memasukkan lamaran untuk seleksi ini. Hari dimana saya tahu ada 186 orang yang dinyatakan lulus administrasi untuk perwakilan Provinsi Sumbar. Hari dimana saya mikir sendiri kenapa banyak sekali pelamar untuk wilayah Sumbar dengan kuota yang diminta hanya 4 orang sementara 12 provinsi lainya paling banyak hanya sekitar 60 orang pesaing (noted: kecuali untuk formasi pusat). Hari dimana kebetulan saya sedang berada di ibukota sehingga buru-buru booking tiket untuk flight besok siang menuju Padang.
3 Desember 2019
Ini adalah hari yang dijadwalkan untuk tes tertulis untuk semua peserta seleksi Calas ORI 2019. Alhamdulillah jadwalnya sedikit molor dari yang ditentukan yang seharusnya dimulai pukul 08.00. Saya bisa manfaatkan waktu dengan reuni bersama teman lama yang tidak bertemu kurang lebih 3 bulan (hahaha maaf lebay), karena biasanya kami tiap hari ketemu di kantor guys. Jadilah kami reuni mengingat kisah lama #eaaaa sembari melihat luar biasanya antusias peserta seleksi ini. Disana saya juga ketemu tetangga, suami teman saya, dan beberapa wajah yang rasanya cukup familiar. Beberapa peserta juga datang dari luar Provinsi Sumbar. MasyaAllah luar biasa rame banget mulai dari wajah paling senior sampe wajah-wajah fresh graduate (persyaratan usia minimal 22 tahun dan maksimal 35 tahun). Kami sembari mikir begini banget ya untuk dapat kerja secara kami memiliki background di per-NGO-an yang notabene proses seleksi dengan pesaing bisa dihitung jari dan tes hanya interview satu kali.
Untuk proses tes tertulis, kami dibagi menjadi 3 ruangan besar dengan duduk yang cukup dempet-dempetan dan paket soal yang dibagi menjadi tiga paket yaitu A, B dan C. Jumlah soal pilihan ganda 60 buah soal dan 2 soal essay bersama turunan soalnya. Saya hanya bermodal UU no 37 tahun 2008  tentang Ombudsman RI dan UU no 25 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik dalam mengikuti tes tertulis ini karena berdasar referensi dari hasil browsing pengalaman peserta sebelumnya. Oh men, sekitar 40 soal pertama pilihan ganda belum ada sama sekali yang menanyakan tentang UU yang saya pelajari. Disitu saya merasa sedih. Soalnya seputar update isu-isu terbaru dalam negeri seperti Revisi UU KPK, Sistem Zonasi, Standar Pelayanan Minimal dll. Jadi kita memang harus kudu update dengan isu begini temans karena seorang Calas ORI harus mampu menangani masalah untuk semua bidang penyelenggaraan pelayanan publik.  Saya bahagia saat 20 soal terakhir menanyakan tentang kewenangan, tujuan, fungsi, tugas ORI, dll seperti persis dalam UU 37/2008. InsyaAllah saya bisa jawab dengan pasti karena udah baca sebelumnya. Hehe. Kemudian dilanjut dengan essay yang saya masih ingat soalnya:
1.      Berdasarkan Peraturan Ombudsman no 26 tahun 2017 tentang Tata Cara Penerimaan, Pemeriksaan, dan Penyelesaian Laporan.
a.      Apa yang dimaksud dengan Laporan?
b.      Apa yang dimaksud dengan Pelapor dan Terlapor?
c.       Apa yang dimaksud dengan Klarifikasi dan Pemeriksaan?
d.      Apa yang dimaksud dengan Mediasi dan Konsiliasi? Apa beda keduanya?
2.      Studi Kasus tentang laporan pajak pribadi yang tidak dilaporkan perusahaan beserta turunan soalnya.
Bisa jawab? HAHAHA. Saya belum baca sama sekali tentang Peraturan Ombudsman karena tidak ada di kisi-kisi hasil browsingan wkwkw. Saya mikir essay ini masih sama dengan dulu tentang tata cara berpidana di pengadilan hahaha. At that time, I used the power of mengarang. Tapi ada satu pertanyaan essay turunan yang saya tidak bisa jawab. Saya sudah mengerahkan seluruh kemampuan but still can’t.  Setelah tes, saya tahu dari Kepala Perwakilan bahwa peserta yang masukan lamaran kurang lebih sekitar 600 orang untuk Provinsi Sumatera Barat tetapi yang lulus hanya 186 orang. Setelah tes saya juga tahu dari Panitia bahwa yang lulus tes tertulis hanya 3N which is 3 kali 4 sama dengan DUA BELAS. Pesimis? Yes I am. Saya pesimis setelah mendengar 3N, menyadari bahwa ada 1 buah pertanyaan turunan essay yang saya tidak jawab dan melihat jawaban peserta kiri kanan depan belakang saya penuh dengan coretan dalam 2 lembar kertas HVS bolak balik. How about me? Saya hanya pake setengah kertas halaman depan dan ¾ kertas halaman belakang.
Saya auto-lemes untuk kembali pulang. Saat ditanya sama keluarga di rumah tentang tes tertulis saya jawab dengan seadanya. I’m not sure with the result. Saya tahu bahwa pengumuman hasil tertulis akan keluar di hari yang sama (sekitar pukul 10 malam), but I decided to sleep at 9.00 pm. Pelajaran yang bisa dipetik adalah jika temans niat untuk lulus menjadi Calas ORI, silahkan dipejari semua UU yang saya sebutkan di atas beserta peraturan-peraturan Ombudsman yang bisa dibaca di website resminya.
4 Desember 2019
Setelah sholat Subuh, saya mulai buka ponsel. Saya kaget luar biasa karena di japri oleh beberapa orang yang mencapture pengumuman dengan nama saya masuk dalam 12 peserta yang lulus. I admit I didn’t sleep well this night tapi saya juga ga nyangka perjuangan saya akan berlanjut. Saya harus menghadapi psikotest pagi ini jam 08.00. Semangat? Semangat donkkkkk karena saya suka tertantang dengan soal-soal psikotest. Hehe.
Psikotest dilakukan oleh LPT UI, hadir ibu psikolog nan baik serta ramah di hadapan 12 orang peserta. Tes dimulai dengan mengisi riwayat hidup peserta, Pauli (koran), tes logika, tes hitung-hitungan soal cerita sederhana, diinstruksikan mengisi lembaran berisi pertanyaan sekitar 10 buah mengenai Siapa Saya? Silahkan ditulis mengenai diri Anda sebanyak 20 uraian di luar informasi riwayat hidup yang diisi sebelumnya, kemudian kelebihan diri, hal yang perlu diperbaiki dalam hidup, kesuksesan terbesar, saat keadaan tertekan, kontribusi yang diberikan kalau lulus Calas ORI, dll. Completed. Belum selesai isi deskripsi, diberikan lagi soal tes gambar, kemudian tes warteg, diinstruksikan kembali melanjutkan deskripsi diri, disuruh lagi gambar pohon, gambar orang, diinstruksikan kembali melanjutkan deskripsi diri dan diakhiri dengan tes EPPS (Edward Personal Preference Schedule). Benar-benar ga santuy tes nya karena ini pengalaman pertama kali saya mengikuti rangkaian tes psikotest sebegini banyaknya. Tapi Alhamdulillah saya menikmati sekali hingga tes berakhir pukul 13.00 WIB.
5 Desember 2019
Tes hari ini masih dengan psikolog dari LPT UI. Tes dimulai dengan FGD bersama 5 orang peserta lainnya, kami diberikan kasus untuk memilih Asisten Teladan ORI dengan pilihan 5 orang kandidat. Kita disuruh memilih asisten teladan menurut versi kita masing-masing baru setelah itu diberikan waktu 20 menit untuk berdiskusi bersama 5 orang teman kita. Diskusi kami sangat hangat sampai-sampai waktunya sudah habis dan kami belum memilih satu orang Asisten Teladan. Hehe. But, it is okay karena yang dilihat adalah kemampuan kita berdiskusi dan memecahkan masalah. The most important thing is do not be a dominant person, beri kesempatan orang lain menyampaikan argumentnya. Setelah FGD selesai dilanjut dengan sesi interview per-orangan bersama psikolog. Interview nya tidak lama, hanya berlangsung sekitar 40 menit. Pertanyaannya tentang diri kita saja kok, so JUST BE YOURSELF and BE HONEST!!!
6 Desember 2019
Interview user. Makanan apa ini? HAHAHA. Baru kali ini saya ikut tes kerja dengan test bertahap-tahap dan pertama kali juga mendengar interview user. Intinya adalah tes interview dengan petinggi Ombudsman RI. Saya diinterview oleh Asisten Utama dan Asisten Madya dari Ombudsman Pusat beserta Kepala Perwakilan Ombudsman Sumbar. Ga ada hal yang perlu dipersiapkan untuk test ini karena lagi-lagi pertanyaannya tentang diri kita, harapan bekerja di ORI, dan saya lebih banyak diminta komitmen dan keyakinan untuk bekerja di ORI karena secara tidak sengaja saya terpancing untuk menceritakan bahwa saya mendapat tawaran pekerjaan dari kantor sebelumnya. It seems easy rite? But I cried twice in this stage. Entah kenapa tiba-tiba saya baper di saat menjawab kenapa memilih Ombudsman RI. That’s because I suddenly remember my parents who want me to keep working in Padang.
Memang dalam hidup itu selalu ada pilihan. Pastinya dengan mudah kita bisa memilih mana yang baik dan buruk. Tetapi kita tidak bisa memilih jika ada 2 buah pilihan yang sama-sama baik. Disinilah masa-masa galau saya menunggu hasil penguman ORI karena saya baru tahu persis pekerjaan yang ditawari pada saya pada saat selesai test tahap ketiga. Sebuah posisi pekerjaan yang lebih tinggi dari posisi saya sebelumnya dalam project research dengan University of Sydney dengan kemungkinan-kemungkinan terbesar bahwa saya akan mendapatkan self-development yang pasti akan jauh lebih baik, kesempatan membangun jaringan, berkarir dan melanjutkan studi di luar negeri. Is it sounds perfect, huh? Saat menunggu pengumuman pun saya kemudian juga tahu bahwa kantor saya sebelumnya itu bersedia menunggu hasil Ombudsman dan menunda external job vacancy dengan deadline yang mepet. Masya Allah sungguh Allah Maha Baik. Saya sangat terharu mendengar keputusan itu. Disinilah saya berpasrah pada Allah untuk membantu memilihkan jalan terbaik dalam hidup saya. Keadaan yang memang di luar kuasa saya sebagai manusia.   
Saat tanggal 17 datang, teman-teman dan keluarga saya sudah mulai menanyakan hasil pengumuman. Untungnya pada hari itu saya disibukkan dengan projek keluar kota sampai akhirnya pengumuman di release sekitar pukul 21.00 WIB. I didn’t dare to see the result, jadilah kakak saya si bumil yang membantu melihatkan. Perasaan deg-degan berasa kontraksi wkwwk. How about the result? ALHAMDULILLAH nama saya tertera dari 4 orang Calas Ombudsman RI perwakilan Sumbar yang dinyatakan lulus. Surely I am so happy at this time. Saya merasakan mix feeling dalam keluarga saya waktu itu hehe. Papa mengucapkan selamat. Kakak perempuan menanyakan apakah saya senang? I confidently answer yes I do. Mama dan kakak laki-laki saya memilih bersikap datar karena memang lebih ingin saya mengambil tawaran dari kantor sebelumnya yang mungkin jauh lebih baik. 
Terimakasih untuk teman-teman yang mendo'akan kesuksesan karier saya disini begitupun dengan orang-orang baik yang langsung menghubungi saya saat melihat nama Retya Elsivia di IG/FB Ombudsman/insan Ombudsman RI

Pada akhirnya perasaan bahagia ini tetap menyisakan perasaan tidak enak. Salam hormat saya untuk Direktur, Manajer dan teman-teman yang sudah memberikan kesempatan saya untuk kembali berkarir di dunia per-NGO-an.  Lakukanlah setiap pekerjaan kita dengan penuh dedikasi dan keikhlasan, insyaAllah Allah akan mudahkan jalan untuk setiap langkah berikutnya. Pelajaran yang bisa saya ambil setelah berkarir selama 3 tahun di per-NGO-an.  Saya yakin kelulusan saya ini karena adanya pembelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan saat berkarir dalam pemberdayaan masyarakat.   Terimakasih untuk Allah Maha Baik dan orang-orang baik yang selalu ada di sekeliling saya. Lupakan hasil kelulusan administrasi CPNS tahun ini, lupakan keinginan untuk menjadi dosen coz I finally got the answer. Saya percaya bahwa ini adalah qadha Allah terbaik untuk hidup saya. Today my life begins. Bismillahirahmanirrahim. 

I got a message like this from my Director when I thank her for the experience and opportunity that given to me. How I really adore you, Mbak. Tetaplah membumi.
 

January 05, 2017

Malaikat Tanpa Sayap *Part 2

Posted by Retya Elsivia at 12:07 AM
Well, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu lagi di tulisan saya kali ini. FYI, ini adalah tulisan kedua saya setelah Malaikat Tanpa Sayap *Part 1 cukup banyak mendapatkan respon positif termasuk dari sang Malaikat Tanpa Sayap yang hanya bisa mangguk-mangguk mengiyakan (bahkan beliau juga meminta agar tulisan tersebut dicetak :p) Terimakasih bagi yang sudah membaca dan yang bersedia kembali membaca lanjutannya disini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk kita semua. Semoga segala resolusi yang telah dituliskan di tahun 2017 berujung menjadi kenyataan. Aamiin. Di awal tahun ini, saya mendapat sebuah kutipan yang menarik dari @AhmadFauzi dalam  Inspirasi Islami.
Ada dua hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang.
Buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui.
Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. Bacalah banyak buku, temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat, orang-orang yang banyak melakukan perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi.
Sepakat? Okay, let’s start it. Meskipun ini bukan buku, tapi saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat dan mampu menjadi inspirasi :’) Inilah lanjutan cerita Malaikat Tanpa Sayap saya, so happy reading guys.

7.       Stand up for Children’s Rights
Hidup jauh dari ibukota tidak menjadi alasan bagi ibu untuk tidak dapat memenuhi hak anak-anaknya. Ibu selalu membiasakan kami dengan big city-mindset.  Ya setidaknya jangan sampai bermental kampung*n dan clingak clinguk mendengar cerita orang tentang kehidupan di kota. Hehehe. Salah satu bentuk kebiasaan yang diajarkan ibu adalah dengan sering mengajak kami ke kota Padang. Bagi anak kecil yang datang dari pelosok seperti saya ini saat melihat MATAHARI dan di dalamnya ada arena bermain TIMEZONE itu rasanyaaaaaa SUPERWOWWWW, membuat hati menolak untuk pulang. Ya, saya akui ayah dan ibu sering berdebat dalam hal ini. Prinsip ibu ketika kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Padang baik untuk sekedar belanja kebutuhan atau liburan sekolah, maka wajib hukumnya bagi setiap anggota keluarga untuk terpenuhi kepuasannya. Jadi kalau pas jalan pulang itu sama-sama enak, sama-sama senang dan bahagia gitu loh. Memang sedari kecil ibu membiasakan kami untuk selalu berbelanja di kota Padang, termasuk untuk hal kecil sekalipun. Sehingga saya sendiri pun sering bingung ketika ditanyakan toko baju di kota yang saya tinggali. Bukan sombong loh ya, tapi ini berbicara fakta. Wkkwkwk. Dengan segala keterbatasan libur yang dimiliki oleh ayah sebagai seorang abdi negara, lantas tidak mebuat ibu menyerah untuk dapat memenuhi hak-hak anak dengan semampu yang beliau bisa. Setiap libur sekolah kami selalu pulang ke kampung halaman di Payakumbuh (I stress the word SELALU). Liburan sekolah menjadi waktu yang sangat dinanti-nantikan karena bisa bermain di kampung halaman. Saya bisa menjamin bahwa liburan dengan suasana yang berbeda itu mampu menjadi suplemen ampuh penghilang stress. Setuju nggak? Selain itu dengan liburan, anak bisa terlepas dari beban pikiran belajar selama 3 bulan terakhir (maaf njih, zaman saya SD dulu sistem sekolahnya masih triwulan, bukan semester kayak sekarang :D). Meskipun di setiap libur sekolah itulah kami membutuhkan 5 jam perjalanan dari Painan ke Payakumbuh dengan dua kali mobil bus yang harus berganti di tengah padatnya arus terminal (tapi kalau nggak sibuk, biasanya akan diantar jemput oleh ayah, yaaa kayak ngedrop anak ke sekolahan gitu hahaha). Situasi seperti ini telah berlaku jauh sebelum kami bertiga duduk di bangku sekolah. Hanya dengan ibu saja? Ya, hanya dengan ibu saja beserta tiga orang anak kecilnya. Satu berada di dalam pangkuan, satu dipegang di sebelah tangan, dan satu lagi dibiarkan jalan lepas di depan. Bahkan ini juga terjadi pada saat liburan kami berempat ke tanah Jawa atau ke Pulau Batam. Saya tahu saking susahnya ibu dalam mengatur tiga orang anak ini, kakak laki-laki saya pernah hilang dari genggaman ibu ketika berada di kapal penyeberangan Merak-Bekhauni, atau kakak perempuan saya yang pernah diberi air dan terpaksa dibopong oleh orang lain karena tidak mau bangun saat perjalanan. Yes, that’s my superwoman J

8.       NO BREAKFAST = NO SCHOOL
Untuk hal ini sampai sekarang saya pun masih angkat topi dengan ibu. Mungkin rasa ini tidak akan pernah hilang sekalipun saya bisa melakukan hal itu nanti. Ibu tidak akan pernah mengizinkan anaknya untuk keluar rumah tanpa sarapan. Ya, termasuk untuk sekolah sekalipun. Ibu selalu menyediakan sarapan setiap pagi dengan menu yang berbeda. Jangan pikir ibu bisa melakukan hal ini karena jam kerja yang lebih longgar dari jam anak sekolah. Tidak sama sekali. Ibu adalah seorang guru SMA, jadi kami sekeluarga memiliki jadwal keberangkatan yang nyaris sama di setiap pagi (read: ayah bukan pergi sekolah, tapi pergi apel pagi yang jadwalnya lebih cepat dari kami). Entahlah terkadang saya heran jam berapa ibu harus bangun setiap harinya untuk membuat sarapan ini. Satu hal yang saya tahu, ibu tidak ingin jika anaknya tidak dapat fokus atau susah berkonsentrasi saat menangkap pelajaran di sekolah. Dan satu lagi, ibu tidak ingin malu jika anaknya jatuh pingsan saat pelaksanaan upacara bendera. Kebiasaan ini pun mendarah daging hingga saya  tidak lagi tinggal bersama ibu. Sebagai anak kost, saya harus berpikir keras setiap hari makanan apa yang bisa saya makan untuk besok pagi (yes i know it is truly lebay hahaha). Terimakasih ya bu karena sekarang saya pun tumbuh menjadi anak yang tidak pernah bisa keluar rumah tanpa sarapan :’)

9.       PENDIDIKAN adalah HARGA MATI
Dari judulnya agak ngeri-ngeri sadap ya. Hehehe. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sekarang kita hidup di zaman pendidikan dimana hal ini yang akan membuat kita dapat bertahan hidup. Mungkin idealisme seperti inilah yang tertanam dalam pikiran para orang tua termasuk ibu saya. Jarang sekali kita menemukan anak-anak yang menganggur selepas masa SMA, ya kalaupun menganggur itu pun bukan keinginan orang tua mereka, bisa jadi itu adalah faktor X dari si anak. Pendidikan adalah harga mati. Bisa dibilang itu juga berlaku dalam keluarga saya. Dalam rentang usia kami yang berselang 5 tahun, ibu pernah serentak menguliahkan 3 orang anaknya dalam beberapa tahun. Pastinya banyak keringat yang mengucur dan langkah kaki yang terseok-seok selama itu. Pada saat itu memang belum berlaku sistem UKT untuk pembayaran uang kuliah which means uang kuliah s1 kami masih murah tiga atau empat kali lipatlah dari uang kuliah anak zaman sekarang, tapi yang dipikirkan ibu tidak hanya seputar uang kuliah yang harus dibayar dalam satu kali enam bulan,  masih ada uang kos, uang jajan, uang buku, uang perlengkapan sehari-hari, dan segala uang-uang lainnya yang harus diberikan tiap bulan pada masing-masing anak (meskipun saya dan kakak sering mendapatkan uang ‘cekeran’ dalam bentuk beasiswa prestasi dari kampus, tapi itu diapresiasi ibu sebagai bonus dan lebih sering kami gunakan untuk menunjang kehidupan tersier, if u know what I means ;p). Semua perjuangan yang dilakukan ibu itu demi satu kata yang paling sakral, yaitu PENDIDIKAN. Orang Minang pernah mengatakan indak kayu, janjang pun den kapiang. Pepatah ini sering kali saya dengar dari ibu. Maksudnya kurang lebih seperti ini jikapun tidak ada kayu, tanggapun bisa dipotong-potong agar dapat dijadikan kayu. Jadi tidak ada yang tidak mungkin dalam pengorbanan seorang ibu dalam memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Hal ini jugalah yang berhasil mengantarkan kami bertiga sampai ke jenjang pendidikan magister. Sumber donaturnya tak lain dan tak bukan pastilah ibu dan ayah. Meskipun pada awalnya, saya menolak mentah-mentah ‘paksaan’ ibu untuk lanjut kuliah s2 (karena mimpi-mipi kuliah di luar negeri masih seperti angin segar tak layu). Saya masih ingat selepas s1 ketika berkas pendaftaran saya untuk menjadi CPNS dibalas dengan senyuman sungging saking ibu ingin semua anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini juga salah satu pesan dari almarhum kakek kepada ibu yaitu sebisa mungkin anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. That’s the point. Selama masa-masa perjuangan ini, ibu sangat banyak take part hingga akhirnya kami bertiga dapat sampai ke garis finish dan dengan bangga mengibarkan bendera merdeka. Banyak tantangan? Pasti. Salah satunya juga terjadi pada kakak laki-laki saya. Ketika itu, usianya sudah 26 tahun dengan status mahasiswa pascasarjana semester 6. Ini adalah titik dimana para mujahid ilmu sedang berjuang dengan tesis (meskipun ini cukup terlambat). Tapi, tesis menjadi prioritas nomor sekian bagi kakak saya dikarenakan aktivitas lainnya sebagai seorang pengusaha wangi-wangian a.k.a parfum. Dan saat itu juga terjadi kendala lain dimana sang kakak juga ingin menikah dan membina bahtera rumah tangga bersama wanita pilihannya. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga saya karena akan hadir seorang anggota baru pertama di dalam keluarga kami. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu karena ayah dan ibu akan segera memiliki keturunan baru. Tapi bagaimana dengan respon ibu? It will shock u I guess. Ibu meresponnya dengan jawaban 'restu ibu akan didapat jika kakak berhasil menyelesaikan pendidikan s2'. Intinya tidak akan ada penikahan jika belum ada M.M (magister manajemen) di tangan (Ngeri nggak tuh?). Jadilah sang pejuang harus kembali berkutat dengan tesis dan harus sering nongkrong ke kampus demi oh demi melamar sang kekasih pujaan hati. Hahahaha. Alhamdulillah proses sidang ujian akhir hingga proses pernikahan sang kakak tidak berlangsung lama, mungkin hanya berjarak 2-3 bulan. Sesuai dengan janji ibu, maka tepat di hari ulang tahun kakak ke 27 tahun, keluarga saya officially memiliki anggota keluarga baru meskipun pada saat itu kakak saya belum officially lulus karena belum wisuda. Hehehehe. Saya yakin bahwa sekarang kakak saya pasti merasakan manfaat luar biasa dari sikap keras ibu, jika seandainya tidak ada pergejolatan seperti itu, pasti tesis akan tetap menjadi priotas nomor kesekian di tengah kesibukannya disana-sini plus tanggungjawab sebagai seorang suami. Dengan sikap keras ibu untuk memperjuangkan titel MM tersebut, kakak saya bisa diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di kota Padang. Well, I had the same thing happen to me. Pada akhirnya, saat ini dengan kehidupan yang sekarang, saya merasa bersyukur dengan ‘daulat’ ibu atas saya. Saya yakin setiap orang yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan master akan merasakan kehidupan yang lebih baik, baik dari segi ilmu, profesi ataupun finansial meskipun perjuangan hingga ke titik puncak tersebut harus berdarah-darah sekalipun. Perjuangan inilah yang sedang dijalani oleh ibu saat ini, setelah berhasil mengantarkan ketiga buah hatinya ke jenjang pendidikan master, sekarang ibu sedang mencoba mengantarkan dirinya sendiri ke puncak tersebut dalam usia 54 tahun (mungkin mahasiswa magister paling tua ya? hehehe).  Ibu yang tak pernah haus menuntut ilmu. Mahasiswa yang tidak ingin bolos sekalipun anak-anaknya sudah berubah menjadi syetan penghasut.  Hehehe.
Berbicara masalah pendidikan, honestly ibu tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar. Mungkin karena kami anak baik ya #tsahhhh. Tapi nggak juga sih, tapi nggak tau aja ya kenapa saya dan kakak bisa belajar dengan kesadaran sendiri, ya kalau ada PR di sekolah mbok ya diingat dan dibikin sendiri lah, kalau nggak dibikin kan konsekuensinya juga ditanggung sendiri kan ya :p Malah yang aneh adalah ibu sering mengingatkan kami untuk istirahat. Berhubung kakak perempuan saya adalah learner maniac, jadi ibu sering sekali berpesan bahwa ibu tidak rela kalau kakak harus belajar jika lewat dari jam 10 malam. Hahahaha. Ah ibu, andai dirimu tahu seberapa stressnya menghadapi tumpukan buku pascasarjana :P
Sebuah pemandangan di sudut rumah saya. Ini adalah salah satu karya ibu.
10.   Selera Ibu
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.
Selalu memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Penggalan lirik lagu tersebut sangat cocok untuk mendeskripiskan ibu. Ibu saya bukanlah wanita konglomerat dengan uang yang berlimpah, tapi ibu saya selalu berusaha memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa barang-barang yang diberikan ibu seperti sepatu, sepeda, baju, tas adalah rentetan barang bermerek. Ketika saya sudah besar seperti ini, terkadang saya pun masih harus berpikir ulang lagi dan lagi untuk membeli barang-barang dengan harga segitu di tengah gaji yang pas-pasan wkwkwkw.  Dengan sikap ibu seperti ini, saya dan kakak setidaknya bisa merasakan barang bagus meskipun tidak melebihi dari punyanya anak bupati. Hehehe. Saya tidak minta semua orang harus setuju dengan pendapat ibu yang mengatakan bahwa masalah penampilan juga terkait dengan masalah harga diri. Tapi jangan pikir bahwa saya dapat meminta ini itu seenak jidat saya. HELLOO!! Emangnya bokap lo presiden. Hehehe. It’s okay as long as it is still logical dan ibu mampu untuk membelinya. Ibu adalah tipikal orangtua yang tidak akan pernah langsung memberikan apa yang diingikan anaknya. Pasti ada jeda antara keinginan dan pemenuhan itu dan disini sangat dituntut kesabaran dari sang anak tapi setiap anak harus siap-siap dengan surprise yang datang secara tiba-tiba. Ya semacam right thing in the right time and everything will turn out right. Wkwkwkw. Kuncinya jika semakin merengek, maka semakin tidak akan diberikan, tapi kalau diam (sok-sok nggak butuh gitu lah), maka peluang dapatnya akan lebih besar. Hehehe. Disini ibu mengajarkan kami bahwa tidak semua keinginan itu harus didapat meskipun pada saat itu, saya yakin bahwa ibu saya sangat mampu untuk membelikan, but who’s know about human life?. Saya ingat cerita ibu tentang kakak saya yang protes dengan uang jajan teman sebayanya yang jauh lebih besar padahal sorry to say, ayah kami memiliki profesi yang sama, bahkan ibu saya lebih hebat karena ikut membanting tulang membantu perekonomian keluarga. Saat itu jawaban ibu sangat sederhana, ‘Mama bisa berikan uang jajan 10ribu bahkan 20rb perhari melebihi si Z, tapi apa kamu yakin kalau tiba-tiba papa sudah tidak ada, mama bisa memberikan hal yang sama setiap harinya?’ Ya, itulah ibu saya, sosok yang selalu menyadarkan kami bahwa meninggikan selera jauh lebih mudah daripada menurunkan selera.

11.   The other side of Malaikat Tanpa Sayap
Dalam poin terakhir ini, saya akan mendeskripsikan beberapa sisi positif dari ibu. Saya bisa katakan bahwa ibu adalah tipe orang perfectionist. Mulai dari urusan pekerjaan hingga ke urusan rumah tangga. Ibu pernah mendapatkan JUARA 1 LOMBA KEBERSIHAN di tingkat asrama, padahal saat itu kami bertiga masih balita, pasti yang terbayangkan adalah bagaimana pecah belahnya rumah dipenuhi dengan mainan yang berserakan atau hawa-hawa pesing yang tidak mengenakkan layaknya rumah-rumah ibu rumah tangga dengan satu anak balita kebanyakan. Disitulah letak supernya ibu saya, sekalipun di rumah ada tiga orang anak balita, ini tidak menjadi exception dalam mengurus dan menata rumah secara rapi dan bersih, bahkan ibu bisa mengalahkan rumah lain yang notabene tidak ada anak balita di dalamnya. Gokil kan? Wkwwkwk. Selain itu, ibu juga terkenal sebagai ahli pembukuan. Ibu punya catatan untuk semua barang rumah tangga (beserta tanggal pembelian dan harga). Ibu punya catatan untuk semua rincian biaya yang dikeluarkan saat perjalanan baik keluar kota ataupun keluar negeri. Ibu punya catatan berapa biaya yang dibutuhkan oleh ketiga anaknya saat kuliah s1 dan s2 termasuk rincian uang jajan per bulan, it means biaya kami selama kurang lebih 4 tahun sewaktu s1 dan 2 tahun sewaktu s2. Ibu punya catatan nama siswanya yang menjadi lulusan PMDK sedari beliau mulai mengajar tahun 1985. Bahkan lebih dari itu, sedari tahun 1985 itu juga, setiap bulan ibu selalu tidak penah absen mengumpulkan amprah gaji hingga sekarang. Dan lebih parahnya, ibu tidak pernah lupa mencatat periode jadwal bulan merah setiap bulan. Hanya satu yang sangat saya sayangkan karena ibu tidak mencatat nama mantan hahahaha. Lambat laun saya mulai mengetahui manfaat menjadi Mrs. Super Duper Detail ini seperti agar kita tahu pasti apa yang telah dibeli, mengapa suatu alat rumah tangga harus saatnya diganti, untuk apa biaya dikeluarkan, apakah siklus hormon teratur atau tidak, dan lain-lain sebagainya.  Ibu, ibu, ibu. Saya pun masih harus banyak belajar menjadi ahli pembukuan sepertimu.

Okay, tibalah kita di penghujung cerita. Saya sudahi deskripsi saya mengenai Malaikat Tanpa Sayap ini. Satu hal yang pasti yaitu perihal anak bukanlah urusan yang gampang seperti semudah membalikkan telapak tangan. Ketika diri kita sudah mendapat panggilan sebagai seorang ayah atau seorang ibu, maka bersiaplah untuk diminta sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah amanah yang harus diemban untuk seutuhnya membesarkan, mendidik dan membentuk karakter seorang manusia. Dua postingan saya hari ini dan sebelumnya mungkin memiliki pembelajaran yang bisa dipetik manfaatnya. Untuk sesuatu yang sekiranya akan mendatangkan mudhorat, silahkan ditinggalkan dan saya haturkan permohonan maaf akan hal itu. Tetaplah menjadi orangtua yang keras dan tegas tapi elegan dalam mendidik seorang titipan Tuhan. Diperlukan ibu yang cerdas untuk melahirkan anak yang berkualitas. Salam dua anak :p
Izinkanlah tulisan ini saya buat sebagai bentuk napak tilas saya menjadi anak seorang ibu.
Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?’ Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)
(Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations)
Semoga tulisan ini tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tulisan yang akan selalu menjadi jejak perjalanan yang menyelipkan kenangan dan mengukir catatan sejarah untuk diwariskan. Terimakasih ibu, sungguh lidah sayapun kelu apakah saya sanggup membalas setiap air susu dan perjuanganmu untuk kami anak-anakmu. Semoga Allah selalu memberikan limpahan rahmat, rezeki dan kesehatan kepada Ibu.
Aamiin allahuma aamiin.

Malaikat Tanpa Sayap :*



 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea