REVITALISASI
NILAI-NILAI BUDAYA PEREMPUAN
DALAM
PEPATAH ADAT MINANGKABAU
Oleh : Retya Elsivia
1.
PENDAHULUAN
Minangkabau adalah salah satu suku
terbesar yang memiliki sejumlah perbedaan dengan masyarakat adat lain di
Nusantara. Salah satu perbedaannya terlihat pada sistem kekerabatan yang
menganut paham matrilineal atau sistem kekerabatan berdasarkan perempuan atau
ibu. Ketika seorang anak dilahirkan, baik laki-laki ataupun perempuan akan
mempunyai suku yang sama dengan ibunya. Dalam budaya adat Minangkabau,
perempuan memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting bagi kaumnya.
Perempuan diibaratkan seperti tiang nagari
atau di dalam pepatah adat Minangkabau disebutkan bahwa perempuan adalah limpapeh rumah nan gadang, ini memiliki arti bahwa
jika perempuan itu rusak maka rusaklah semua nagari atau negerinya.
Banyak pepatah atau ungkapan yang
melambangkan tingginya peran dan kedudukan perempuan di Minangkabau. Pepatah
adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua-tua (KBBI,
2008: 1049). Satu satu pepatah tersebut berhubungan dengan fungsi dan peranan
perempuan. Di Minangkabau perempuan adalah wanita sejati dan wanita pilihan
yang sering disebut dengan bundo kanduang.
Bundo kanduang merupakan sebuah
lambang kehormatan dan kemuliaan yang diberikan kepada perempuan dewasa atau
kaum ibu dalam suatu kaum. Perempuan yang disebut sebagai bundo kanduang harus memiliki budi pekerti yang baik, arif
bijaksana, taat beragama, mampu memahami adat yang berlaku dan menjadi teladan
bagi keluarga dan masyarakatnya.
Dalam budaya Minangkabau, banyak pepatah
yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat cenderung menggunakan tuturan tidak langsung atau bahasa kias
seperti metafora dengan membandingkan sesuatu untuk mengasosiasikan dua hal.
Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain
berdasarkan kias atau persamaan (Kridalaksana, 2008: 152). Perangkat metafora
dalam pepatah adat Minangkabau sangat terikat oleh budaya karena berisi
pesan-pesan atau nilai-nilai tertentu yang dijadikan sebagai pedoman berprilaku
dalam kehidupan masyarakat dan diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Menurut Gunarwan (2004: 11) nilai adalah aspek budaya yang paling dalam tertanam. Pepatah
yang mengandung nilai-nilai hidup bermasyarakat tersebut menggambarkan
bagaimana cara pandang suatu masyarakat dan itu akan menjadi identitas
kelompoknya. Sehingga penelitian etnografi dalam bidang pemahaman budaya yang
tercermin pada metafora-metafora dalam pepatah Minangkabau penting dilakukan
dalam kaitannya dengan pemahaman filosofi dan nilai-nilai budaya lokal.
Berdasarkan latar belakang masalah
tersebut, maka pokok permasalahan yang akan dibahasa dalam penelitian ini adalah
(1) apa saja metafora-metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah
adat Minangkabau? (2) nilai-nilai budaya apa yang terkandung dalam pepatah adat
Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan?
Penelitian mengenai peribahasa telah
banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Ada beberapa penelitian terdahulu
yang mengilhami penelitian ini, diantaranya yang dilakukan oleh Gusna Ronsi
(2011), Oktavianus (2013), dan Siska Rambitan dan Nova Mandolang (2014). Penelitian
yang berjudul Citra Perempuan dalam
Budaya Minangkabau oleh Gusna Ronsi bertujuan untuk menggali bagaimanan citra
perempuan di Minangkabau yang diambil dari beberapa bentuk peribahasa seperti
mamang, gurindam, pepatah-pepitih, dan seloka. Dalam penelitian ini ditemukan
citra perempuan Minangkabau sebagai seorang yang tegas dan lembut, sopan
santun, teguh pendirian, arif dan bijaksana, rajin dan ulet serta waspada. Penelitian
Oktavianus dalam Semangat Profesionalisme
dalam Peribahasa Minangkabau menganalisis tentang peribahasa Minangkabau
yang mengandung nilai-nilai yang mendorong munculnya semangat profesionalisme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peribahasa Minangkabau mengandung
nilai-nilai yang dapat mendorong masyarakat Minangkabau untuk memelihara
tindakan, kebiasaan, perilaku dan sikap profesional dalam kehidupan
sehari-harinya. Selain itu, dari pencermatan terhadap nilai-nilai yang
terkandung dalam peribahasa Minangkabau, seseorang yang profesional dalam
melakukan profesinya adalah orang yang ahli di bidangnya, santun, waspada,
hati-hati/cermat, berjiwa solidaritas, proporsional, inovatif, mudah beradaptasi,
dinamis, bijaksana, adil, bertanggung jawab, rendah hati, teguh pendirian, dan
mampu memberdayakan segala sesuatu sesuai dengan kapasitasnya. Penelitian
selanjutnya adalah Ungkapan dan
Peribahasa Bahasa Mongondow oleh Siska Rambitan dan Nova Mandolang yang membahas
struktur dan fungsi ungkapan dan peribahasa bahasa Mongondow dan menganalisis
nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dari hasil penelitian
disimpulkan bahwa struktur ungkapan dan peribahasa terdiri atas frase nomina,
frase verbal, frase ajektiva, frase numeral, klausa bebas dan klausa terikat,
kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Fungsi ungkapan untuk
menyatakan sifat atau perilaku seseorang yang baik dan tidak baik sedangkan
peribahasa sebagai nasehat, peringatan, dan sindiran. Selain itu, nilai budaya
yang terkandung dalam ungkapan menggambarkan nilai kebersamaan dan kerjasama,
nilai keteladanan, dan nilai kesabaran, sedangkan dalam peribahasa nilai budaya
yang terkandung ialah nilai kerjasama dalam suatu komunitas, nilai kerja keras
dan pantang menyerah, nilai keteladanan, nilai kesabaran dan ketekunan, dan
nilai keimanan yang tinggi terhadap Tuhan.
Masyarakat Minangkabau merupakan penutur
bahasa yang banyak menggunakan pepatah atau cenderung bertutur secara tidak langsung
untuk mengungkapakan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan
dengan pendapat Errington (dalam Oktavianus 2006: 74) yang mengatakan bahwa
salah satu ciri-ciri orang Minangkabau adalah mereka tidak berterus terang.
Dari penjelasan di atas dapat terlihat bahwa masyarakat Minangkabau cenderung
menggunakan tuturan yang mengandung makna implisit di dalamnya atau sering
disebut dengan bahasa kias. Salah
satu bentuk bahasa kiasan adalah metafora yaitu ungkapan kebahasaan yang tidak
dapat diartikan secara langsung dari lambang yang dipakai, melainkan dari
prediksi yang dapat dipakai baik oleh lambang maupun oleh makna yang
dimaksudkan dalam ungkapan itu (Wahab, 1991: 87). Menurut Grothe (2008: 9),
hakekat dari metafora adalah untuk menjadikan sebuah kata memiliki makna di
luar dari makna aslinya (harfiahnya) dengan cara menggunakan kata tersebut
untuk merujuk sesuatu yang lain. Metafora memiliki tiga elemen pokok, antara
lain:
1.
Pebanding (tenor atau target domain) adalah konsep, obyek yang dideskripsikan,
dibicarakan, dikiaskan, dilambangkan, dan dibandingkan.
2.
Pembanding (vehicle atau source domain) adalah konsep yang mendeskripsikan atau mengkiaskan
atau melambangkan tenor atau target domain.
3.
Persamaan antara
pebanding dan pembanding (ground atau
sense) adalah relasi persamaan antara
target domain dan source domain. Relasi persamaan ini
dapat bersifat obyektif: bentuk, tempat, sifat atau kombinasi diantaranya serta
persamaan emotif, konsep, fungsi, dan sosial budaya (Taylor, 2003: 135).
Dalam penciptaan metafora, bahasa yang
digunakan tergantung pada lingkungan sosial dan budaya. Sehingga Haley (1980:
155-159) membagi metafora yang terdiri dari sembilan jenis berdasarkan medan
semantiknya, yaitu:
a.
Metafora
ke-ada-an (being) yaitu metafora yang
meliputi hal-hal abstrak seperti kebenaran dan kasih.
b.
Metafora kosmos
(cosmos) yaitu metafora yang meliputi
benda-benda kosmos misalnya matahari dan bulan.
c.
Metafora tenaga
(energy) yaitu metafora dengan medan
semantik hal-hal yang memiliki kekuatan, misalnya angin, cahaya, api, dengan
prediksi dapat bergerak.
d.
Metafora
substansi (substance) yaitu metafora
yang meliputi macam-macam gas dengan prediksinya dapat memberikan kelembaban,
bau, tekanan dan sebagainya.
e.
Metafora
permukaan bumi (terrestrial) yaitu
metafora yang meliputi hal-hal yang terikat atau terbentang di permukaan bumi
misalnya sungai, laut, gunung dan sebagainya.
f.
Metafora benda
mati (object) adalah metafora yang
meliputi benda-benda yang tak bernyawa misalnya meja, buku, kursi, gelas dan sebagainya
yang bisa hancur dan pecah.
g.
Metafora
tumbuhan (living) yaitu metafora yang
berhubungan dengan seluruh jenis tumbuh-tumbuhan (flora) seperti daun, sagu,
padi dan sebagainya.
h.
Metafora
binatang (animate) adalah metafora
yang berhubungan dengan makhluk organism yang dapat berjalan, berlari, terbang
dan sebagainya misalnya seperti kuda.
i.
Metafora manusia
(human) adalah metafora yang
berhubungan dengan makhluk yang dapat berpikir dan mempunyai akal.
Penggunaan metafora dalam pepatah atau
bahasa kias tidak dapat dipisahkan dari latar belakang budaya masyarakat.
Terdapat hubungan yang sangat erat antara bahasa dan budaya karena bahasa
mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat pemilik
bahasa. Kebudayaan suatu masyarakat tidak dapat dipahami sebelum seseorang
mampu mempelajari bahasanya dan begitupun sebaliknya. Duranti (1997: 25)
menyatakan bahasa mengkategorisasikan realitas budaya, yaitu bagaimana melihat
budaya suatu etnis dari cara bahasanya. Pandangan
itu diikuti oleh Oktavianus (2006: 118) yang mengatakan bahwa nilai budaya yang
dimiliki suatu etnis, dapat ditelusuri melalui berbagai bentuk lingualnya. Jadi
dapat disimpulkan bahwa kajian terhadap bahasa berhubungan erat dengan latar
budaya yang mengelilinginya.
Sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tulisan yang diambil dari
buku Kato Pusako: Papatah, Patitih,
Mamang, Pantun, Ajaran dan Filsafat Minangkabau (1999) yang memuat pepatah
adat tentang perempuan di Minangkabau. Penelitian
ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Pada penelitian
kualitatif, data yang terkumpul umumnya kata-kata, gambar-gambar, dan
kebanyakan bukan angka-angka (Danim, 2002: 61).
Untuk mendapatkan hasil analisis data
yang baik dilakukan sejumlah tahapan. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah (1)
pengalihbahasaan pepatah adat yang berhubungan dengan perempuan dari bahasa Minangkabau
ke dalam bahasa Indonesia, (2) mencari bahasa figuratif dalam pepatah yang
berupa metafora, (3) menentukan bentuk dan jenis metafora, (4) menentukan makna
yang terkandung dalam metafora yang berhubungan dengan perempuan, dan (5)
menentukan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau
yang berhubungan dengan perempuan.
II.
PEMBAHASAN
Berikut
adalah penjabaran metafora-metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam
pepatah adat Minangkabau.
a.
Metafora Manusia.
Metafora manusia adalah makhluk yang berpikir atau
memiliki dan mengunakan intelektualitasnya seperti manusia. Dalam konsep ini,
termasuk pula dalam kategori metafora manusia adalah tindakan dan hal-hal yang
hanya mungkin dilakukan oleh manusia dan tidak mungkin oleh makhluk lain,
seperti berpikir, bermimpi, berbicara dan sebagainya. Contohnya dalam pepatah
adat Minangkabau adalah:
(1)
Amban puruak pagangan kunci
‘bendahara pegangan kunci’
Metafora dengan lambang kias amban puruak dari data (1) mengandung
arti bahwa perempuan di Minangkabau berperan sebagai bendahara dalam kaumnya,
ia yang akan mengatur tentang keuangan dan segala pengeluaran dalam keluarga.
Tiga elemen yang terkandung dalam metafora adalah pebanding, pembanding, dan
relasi persamaan antara pebanding dan pembanding. Pebanding yang ada adalah
perempuan dan pembandingnya adalah amban
puruak atau bendahara. Relasi persamaan antara perempuan dan amban puruak adalah persamaan posisi
yaitu menjadi bagian penting dari suatu masyarakat Minangkabau. Sebagai
masyarakat penganut sistem matrilineal, perempuan Minangkabau memegang peranan
dalam perekenomian keluarga dan kaum serta dipercayakan untuk memegang dan
menyimpan hasil sawah dan ladang. Oleh karena itu, perempuan berkuasa atas
harta benda milik kaum dan bertugas untuk memelihara keberlangsungan harta
warisan tersebut agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Amban puruak
|
|
1
|
Hidup
|
+
|
-
|
|
2
|
Secara fisik
|
+
|
-
|
|
3
|
Berfungsi sebagai pengatur
ekonomi
|
+
|
+
|
|
4
|
Memiliki kekuasaan
|
+
|
+
|
|
5
|
Dilakukan manusia
|
-
|
+
|
|
6
|
Termasuk bagian penting
|
+
|
+
|
Metafora selanjutnya dapat dilihat dalam
data.
(2)
Auih tampek minta aie
‘haus tempat minta nasi’
Lapa tampek minta nasi
‘lapar tempat minta
nasi’
Dari contoh metafora di atas, tampek minta aie jo nasi adalah tindakan
yang dapat dilakukan oleh manusia untuk orang yang kelaparan dan kehausan dan
ini adalah unsur pembanding dari metafora di atas, sedangkan pebandingnya adalah
perempuan. Relasi persamaan antara perempuan dan tampek minta nasi jo aia adalah persamaan fungsi yaitu sebagai
suatu bagian yang dapat menampung tersedianya makanan dan minuman. Sesuai
kodratnya, wanita memiliki tanggung jawab dalam urusan dapur dan ia mengatur
segala hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman keluarga dan kaum. Dalam
adat Minangkabau, rumah perempuan atau wanita yang telah berkeluarga akan
menjadi tempat meminta makan bagi keluarga besarnya terutama saudara laki-laki
yang belum berumah tangga.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Tampek mintak aia jo nasi
|
|
1
|
Hidup
|
+
|
-
|
|
2
|
Secara fisik
|
+
|
+
|
|
3
|
Memiliki lokasi atau tempat
|
-
|
+
|
|
4
|
Memiliki kekuasaan
|
+
|
+
|
|
5
|
Dilakukan oleh manusia
|
-
|
+
|
|
6
|
Termasuk bagian penting
|
+
|
+
|
|
7
|
Memberikan sesuatu
|
+
|
+
|
b.
Metafora Binatang
Metfaora binatang yaitu semua makhluk atau organism
yang dapat berjalan, berlari dan sebagainya selain manusia. Sebagai contoh
adalah kuda, merpati, dan sebagainya. Termasuk di dalam kategori ini adalah
sesuatu yang dapat hidup dan berkembang, yang tidak bersifat manusiawi. Berikut
adalah contoh metafora yang berkategori binatang:
(3)
limpapeh rumah nan
gadang
‘kupu-kupu di rumah
yang besar’
Metafora pada contoh di atas adalah limpapeh yaitu sejenis kupu-kupu yang
bewarna tidak terlalu mencolok. Analisis metafora yang dapat dilakukan dari
pepatah di atas didasarkan pada tiga elemen pokok metafora. Dari data (3) dapat
dilihat bahwa pebanding yang ada adalah perempuan, sedangkan pembandingnya
adalah limpapeh. Seperti halnya
kupu-kupu pada umumnya, limpapeh
memiliki bentuk sayap yang indah tetapi lemah, terbang tidak terlalu tinggi dan
hinggap dimana saja terutama pada saat bunga-bunga bermekaran. Relasi persamaan
antara perempuan dan limpapeh adalah persamaan bentuk yang
indah. Selain itu, layaknya limpapeh
perempuan Minangkabau memiliki kekuasaan untuk mengitari rumah agar dapat
melihat dan memperhatikan orang-orang disekelilingnya terutama anak dan
kemenakan. Ia menjadi pemilik dan penguasa rumah kaumnya atau rumah gadang. Sebagai penganut sistem
matrilineal, orang tua di Minangkabau akan merasa puas jika ia mampu
meninggalkan warisan berupa rumah gadang atau
membangun rumah untuk anak perempuannya.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Limpapeh
|
|
1
|
Hewan
|
-
|
+
|
|
2
|
Memiliki sayap
|
-
|
+
|
|
3
|
Memiliki kekuasaan
|
+
|
+
|
|
4
|
Hidup
|
+
|
-
|
|
5
|
Bentuk yang indah
|
+
|
+
|
|
6
|
Dapat terbang
|
-
|
+
|
|
7
|
Bergerak bebas atau mengitari
|
+
|
+
|
c.
Metafora Benda Mati
Metafora benda mati (object) adalah metafora yang meliputi benda-benda yang tak bernyawa
misalnya meja, buku, kursi, gelas dan sebagainya yang bisa hancur dan pecah.
Contohnya sebagai berikut:
(4)
Kaunduang-unduang ka Madinah
‘penutup kepala ke Madinah’
Ka payuang
panji ka Sarugo
‘menjadi payung ke
surga’
Metafora pada contoh di atas menggunakan benda mati
yaitu unduang-unduang dan payuang. Pepatah (4) dapat dianalisis
dengan menggunakan elemen metafora. Pebanding yang dinyatakan adalah perempuan
dan pembandingnya adalah unduang-unduang
(penutup kepala) dan payuang
(payung). Selanjutnya relasi persamaan yang terdapat antara perempuan dengan unduang-unduang dan payuang adalah persamaan peran yaitu melindungi sesuatu yang
penting. Penutup kepala atau payung berfungsi untuk menutup atau melindungi
badan dari panas dan hujan, sedangkan perempuan Minangkabau berperan dalam
melindungi keluarga dan kaumnya. Perempuan diibaratkan seperti pelindung kepala
atau payung yang merupakan lambang kemuliaan, keamanan dan kesejahteraan. Di
Minangkabau, perempuan berperan sebagai pelindung dan penjaga anggota keluarga,
suku atau kaum dari perbuatan orang lain yang bertentangan dengan nilai adat
dan agama serta memayungi mereka agar tetap berjalan sesuai dengan hukum-hukum
Islam yang berlaku.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Unduang-unduang & Payuang
|
|
1
|
Benda
|
-
|
+
|
|
2
|
Berwujud
|
+
|
+
|
|
3
|
Untuk melindungi dari sesuatu
|
+
|
+
|
|
4
|
Sebagai tempat bernaung makhluk
lainnya
|
+
|
+
|
|
5
|
Hidup
|
+
|
-
|
|
6
|
Berfungsi sebagai alat
|
-
|
+
|
Metafora berikutnya adalah:
(5)
Pusek jalo kumpulan tali
‘pusat jala ikatan tali’
Metafora pusek jalo beranologi dengan peran dan kedudukan perempuan sebagai
pusat dari semuanya. Pepatah di atas memiliki tiga elemen pokok, yaitu
pebandingnya perempuan, pembandingnya pusek
jalo atau pusat jala, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding
adalah persamaan kedudukan dan fungsi yaitu bagian sentral dalam kehidupan. Perempuan memiliki posisi sentral sebagai
pengatur rumah tangga, apakah itu sebagai istri, sebagai ibu, sebagai anggota
masyarakat dan lain sebagainya. Sebagai seorang istri, ia harus mampu melayani
suami secara lahir dan bathin serta menjadi teman hidup di dunia maupun di
akhirat kelak. Sebagai seorang ibu, ia bertanggungjawab menentukan keberhasilan
seorang anak di masa depan. Perempuan Minangkabau harus mempunyai ilmu
pengetahuan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar serta
mengajarinya budi pekerti yang luhur. Peranan perempuan sebagai pengatur rumah
tangga sangat menentukan bagaimana baik buruknya suatu keluarga atau kaum.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Pusek Jalo
|
|
1
|
Benda
|
-
|
+
|
|
2
|
Berwujud
|
+
|
+
|
|
3
|
Berfungsi sebagai pusat atau
sentral
|
+
|
+
|
|
4
|
Sebagai tempat bernaung makhluk
atau benda lainnya
|
+
|
+
|
|
5
|
Hidup
|
+
|
-
|
|
6
|
Dapat diandalkan
|
+
|
+
|
|
7
|
Termasuk bagian penting
|
+
|
+
|
d.
Metafora Tenaga
Metafora tenaga memiliki kekuatan, membutuhkan
ruang dan bergerak termasuk di dalamnya adalah, angin, api, panas, cahaya,
sebagai sesuatu yang ada. Contohnya sebagai berikut:
(6)
Nan gadang
basa batuah
‘yang besar serta bertuah’
Metafora pada contoh di atas
dilambangkan dengan gadang basa batuah yang
interpretasi maknanya adalah perempuan sebagai sosok yang besar dan bertuah. Sebagaimana metafora sebelumnya, dalam
analisis metaforisnya terdapat tiga elemen pokok yang harus diperhatikan, yaitu
pebanding, pembanding, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding.
Pebanding dalam data adalah perempuan sedangkan pembandingnya adalah gadang basa batuah atau besar bertuah. Persamaan yang dapat ditarik antara
perempuan dan gadang basa batuah
adalah persamaan konsep yaitu disegani dan dihormati. Berbeda dengan masyarakat
adat lain, perempuan di Minangkabau ditinggikan dan ia juga memiliki hak suara
yang sama dengan laki-laki dalam musyawarah. Misalnya upacara pernikahan yang
tidak dapat dilaksanakan tanpa disetujui oleh kaum wanita atau ibu. Dalam adat
Minangkabau, segala sesuatu yang akan dilaksanakan oleh kaum atau suku harus
melalui musyawarah mufakat. Oleh karena perempuan memiliki tuah, maka pendapat
atau suaranya juga ikut menentukan dalam pengambilan keputusan.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Gadang Basa Batuah
|
|
1
|
Hal konkret
|
+
|
-
|
|
2
|
Hal abstrak
|
-
|
+
|
|
3
|
Besar
|
-
|
+
|
|
4
|
Memiliki kekuatan
|
+
|
+
|
|
5
|
Dimuliakan
|
+
|
+
|
|
6
|
Berkenaan dengan kedudukan
|
-
|
+
|
e.
Metafora Ke-ada-an
Metafora ke-ada-an mencakup pengalaman
manusia yang abstrak dan bersifat ada awalaupun tak dapat dihayati langsung
oleh indera manusia, seperti: senja, pagi, dingin, kasih, cinta, gelap, dan
sebagainya. Dalam pepatah adat Minangkabau ditemukan metafora yang berkategori
sebagai berikut:
(7)
sumarak di dalam
kampuang
‘semarak di dalam kampung’
Konsep metafora semarak adalah sesuatu yang ada namum tak nampak. Kata tersebut
terkait dengan makna: indah, meriah, ramai, berseri, megah dan terlihat ada
pandangan cerah. Ia merupakan lambang kias yang harus diinterpretasikan
maknanya. Analisis metafora yang dapat dilakukan pada pepatah di atas
didasarkan pada tiga elemen pokok metafora. Pebanding yang ada adalah
perempuan, sedangkan pembandingnya adalah sumarak.
Relasi persamaan antara perempuan dengan
sumarak adalah persamaan konsep yaitu simbol kemuliaan dan keelokan. Perempuan
dianggap penyemarak dalam kaumnya. Mengingat pentingnya fungsi dan kedudukan
perempuan di Minangkabau, kehadiran seorang anak perempuan sangat dinantikan
dalam suatu keluarga. Jika suatu keluarga, tidak mempunyai anak kemenakan/keturunan
yang wanita, maka akan dianggap habis keturunan kaumnya. Perempuan Minangkabau tidak
hanya menjadi hiasan dari segi fisik saja tapi ia juga harus memahami ketentuan
adat yang berlaku, menggunakan rasa malu dan sopan dalam berpakaian dan bergaul
dengan siapapun. Dalam Minangkabau, keindahan seorang perempuan memiliki
pengaruh kepada kampung atau nagari.
Jika keindahan perempuan tersebut tidak dapat dijaga dengan perilaku yang baik,
maka akan hancur pandangan masyarakat terhadap kaumnya.
|
No
|
Pembanding
|
Terbanding
|
|
Perempuan
|
Semarak
|
|
1
|
Bersifat abstrak
|
-
|
+
|
|
2
|
Bersifat konkret
|
+
|
-
|
|
3
|
Berseri
|
+
|
+
|
|
4
|
Lambang kemegahan
|
+
|
+
|
|
5
|
Dapat hancur atau rusak
|
+
|
+
|
|
6
|
Berfungsi sebagai hiasan
|
+
|
+
|
2.2
Nilai-nilai Budaya Perempuan Minangkabau
Banyak pepatah Minangkabau yang
menggambarkan tentang kedudukan dan peran perempuan dalam masyarakat. Pepatah
tersebut mengandung nilai-nilai budaya yang berbentuk nasihat, norma atau
prinsip sebagai suruhan, anjuran ataupun larangan. Penjabaran pepatah yang
mengandung nilai-nilai budaya untuk perempuan dapat dilihat sebagai berikut:
a.
Nilai Sopan Santun
Sikap sopan santun adalah sikap yang mutlak
harus ada pada setiap perempuan Minangkabau. Sebagai panutan dalam kaumnya,
perempuan harus memiliki sifat yang mampu menyegani dan menghargai orang lain. Sopan
santun ini sangat diperlukan agar perempuan tahu bagaimana cara menempatkan
diri diberbagai kehidupan. Hal ini dilakukan untuk menjaga nilai-nilai
persaudaraan antar sesama manusia. Nilai sopan santun tersebut dapat kita
cermati pada pepatah di bawah ini:
Tapakai
taratik jo sopan
‘terpakai
tertib dan sopan’
Mamakai
baso jo basi
‘memakai basa dan basi’
Adat Minangkabau mengharuskan perempuan
mengunakan tata-tertib dan sopan dalam pergaulan, memakai basa-basi, dan peka
akan perasaan orang lain agar tidak menyinggung dan menyakitinya. Salah satunya
adat mengajarkan perempuan selalu berhati-hati dalam berbicara, seperti pepatah
di bawah ini:
muluik
manih baso katuju
‘mulut manis bahasa disenangi’
kato
baiak kucindam murah
‘berkata baik pandai bergurau’
Pepatah tersebut mengandung arti bahwa
perempuan Minangkabau dapat bertutur kata yang halus dan tidak menyakiti orang
lain. Kucindam murah atau pandai
bergurau yang dimaksud di atas adalah perempuan di Minangkabau juga harus
memiliki rasa humor dan tidak harus kaku dalam bergaul. Ia harus pandai bergaul
dengan siapapun dan mampu menempatkan diri dengan orang yang lebih tua, sama
besar atau yang lebih kecil. Pepatah lain mengatakan bahwa perempuan
Minangkabau:
Pandai
bagaua samo gadang
‘pandai bergaul sesama besar’
Hormat
kapado ibuk bapak
‘hormat kepada ibuk bapak’
Hidmat
kapado urang tuo-tuo
‘khidmat kepada orang tua-tua’
Dari pepatah di atas terlihat jelas
bahwa sikap sopan santun dan saling menghormati sangat dituntut tidak hanya
pada orang yang lebih tua dan ibu bapak tetapi juga kepada orang yang sesama
besar.
b.
Nilai Keimanan yang Tinggi Terhadap Tuhan
Masyarakat Minangkabau sangat menjunjung
tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu landasan
hidup orang Mianngkabau adalah adat
basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang dalam bahasa Indonesia
artinya ‘Adat Bersendikan Syariat, Syariat Bersendikan Kitab Allah'. Maksudnya
ialah aturan-aturan adat Minangkabau didasarkan oleh syariat agama Islam dan syariat
tersebut berdasarkan pada Al-Quran dan Hadist. Hal ini sejalan dengan
nilai-nilai budaya yang dituntut ada pada setiap perempuan Minangkabau seperti pepatah
berikut ini:
Takuik
kapado Allah
‘takut kepada Allah’
Manuruik
parentah Rasul
‘menuruti perintah Rasul’
Pepatah ini menyatakan bahwa perempuan
Minangkabau harus selalu mematuhi ajaran agama Islam atas apa yang
diperintahkan dan dilarang oleh Sang Pencipta. Perempuan hendaknya selalu
menjaga diri dan memelihara kehormatan, salah satunya melalui cara berbusana
yang sesuai dengan aturan-aturan menurut adat. Selain itu dengan patuh terhadap
nilai-nilai agama akan membuat perempuan kelak mampu menjadi ibu yang baik
dalam mendidik anak-anaknya karena ia akan membekali ilmu dan mengajarkan
perkataan yang benar sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW.
c.
Nilai Pertanggungjawaban
Perempuan Minangkabau harus memenuhi
segala kewajiban yang diberikan dengan rasa penuh tanggung jawab. Hal ini
tergambar dalam pepatah:
Tahu
dikorong jo kampuang
‘tahu akan korong dan kampung’
Tahu
dirumah jo tanggo
‘tahu akan rumah tangga’
Maksud pepatah di atas adalah perempuan Minangkabau
memiliki peranan besar dalam rumah adat kaumnya dan rumah tangga keluarganya. Perempuan
senantiasa untuk peduli kampung halaman dan menjaganya dari aturan-aturan yang
tidak sesuai dengan adat istiadat. Secara kodratnya, perempuan juga
bertanggungjawab akan rumah tangganya untuk mengurus suami dan anak-anaknya
dengan baik. Sesuai dengan kefitrahannya, perempuan lebih cenderung menggunakan
perasaan sehingga ini mendukung peran dan tanggungjawabnya yang menuntut
ketelitian dan kesabaran.
d.
Nilai Kearifan dan Kebijaksanaan
Adat Minangkabau menuntut setiap anggota
masyarakatnya termasuk perempuan agar dapat bersikap arif dan bijaksana dalam
kehidupan sehari-hari. Orang yang arif dan bijaksana adalah orang yang dapat
memahami pandangan orang lain serta menempatkan diri secara benar dalam keadaan
apapun tanpa ada pihak lain yang merasa dirugikan. Salah satu pepatah adat
Minangkabau mengatakan bahwa perempuan:
Tahu
dimungkin jo patuik
‘tahu dengan mungkin dan patut’
Malatakkan
sasuatu pado tampaiknyo
‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’
Pepatah di atas menggambarkan sikap arif
dan bijaksana perempuan Minangkabau dengan tahu
dimungkin jo patuik. Maksudnya adalah jika dalam melihat suatu
permasalahan, perempuan Minangkabau harus pandai meletakkan masalah secara
benar dan patut. Hal ini tidak boleh hanya didasarkan pada ketentuan mungkin
atau tidak mungkin namun juga harus menimbang kepatutan yaitu pantas atau tidak
pantasnya. Hal ini sejalan dengan pepatah berikutnya, perempuan Minangkabau itu
harus dapat malatakkan sasuatu pado
tampaiknyo ‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’ dalam memutuskan sebuah
permasalahan sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa segala sesuatu pekerjaan yang dilakukan oleh wanita
seharusnya diukur oleh patut dan mungkin. Sikap arif dan bijaksana ini harus
diusahakan dalam proses hidup bermasyarakat untuk keadaan yang lebih baik.
e.
Nilai Keteladanan
Dalam kehidupan berkeluarga dan
bermasyarakat, perempuan Minangkabau senantiasa melakukan hal-hal yang terbaik
dan mampu menjadi teladan bagi orang-orang sekelilingnya. Hal ini tergambar
dalam pepatah Minangkabau berikut ini:
Bayang-bayang
sapajang badan
‘bayang-bayang sepanjang badan’
Buliah
ditiru dituladan
‘boleh ditiru ditauladan’
Pepatah di atas menjelaskan bahwa
perempuan Minangkabau berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri
dan tepat benar sesuai keadaannya. Ia harus mampu mengukur dirinya sehingga
beban yang dipikul tidak melebihi kekuatan yang dimiliki. Hal ini disebabkan
karena perempuan Minangkabau akan ditiru dan menjadi tauladan bagi orang
sekitarnya sehingga ia harus mampu menjadi contoh yang baik.
f.
Nilai Teguh Pendirian
Orang yang disebut teguh pendirian
adalah orang yang memiliki pendapat yang tidak mudah berubah. Dalam menghadapi
pengaruh yang datang dari luar, perempuan Minangkabau harus memegang teguh apa
yang menjadi pendapatnya dan memegang prinsip tanpa menghilangkan nilai-nilai
yang tertanam di masyarakat. Niali yang mengandung teguh pendirian bisa tercermin
dalam pepatah di bawah ini:
Maha
tak dapek dibali
‘mahal tidak dapat dibeli’
Murah
tak dapek dimintak
‘murah tidak dapat diminta’
Pepatah di atas menjelaskan bahwa
perempuan Minangkabau mahalnya tidak dapat dibeli dan murahnya tidak dapat
diminta. Ini merupakan cerminan dari sikap keteguhan diri dalam kondisi
bagaimanapun, perempuan Minangkabau tidak mudah terbawa dengan arus zaman, ia
harus dapat menyesuaikan diri dan berbaur dengan suasana yang ada.
g.
Nilai Kesabaran dan Ketekunan
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai
kesabaran dan ketekunan sangat diperlukan untuk hidup yang lebih baik. Sebagai
perempuan Minangkabau, sikap sabar dan tekun merupakan sikap positif yang harus
dimiliki untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Hal ini tergambar dalam pepatah
yang mengatakan
Satitiak
buliah dilauikkan
‘setitik boleh di lautkan’
Sakapa
dapek digunuangkan
‘sekapal dapat digunungkan’
Pepatah di atas mengandung makna bahwa
sesuatu yang diperoleh memlaui proses belajar dan dengan jerih payah sendiri
hendaknya dijadikan bekal untuk belajar lebih lanjut dan mendalam lagi. Hal ini
sama seperti ilmu yaitu apa yang didapat hari ini sebaiknya terus dikembangkan
dengan tekun dan sungguh-sungguh. Masyarakat Minangkabau meyakini bahwa sesuatu
yang dikerjakan dengan sikap sabar dan tekun akan membawa kita untuk dapat
menikmati hidup yang berkelimpahan. Oleh sebab itu, nilai kesabaran dan
ketekunan dianggap penting bagi perempuan Minangkabau dalam bekerja dan
berusaha dalam bidang apapun.
III.
PENUTUP
Dalam budaya Minangkabau, perempuan
adalah sosok sentral atau pusat dalam kaumnya. Sebagai penganut paham
matrilineal yang meninggikan perempuan, maka banyak pepatah adat Minangkabau yang
berhubungan dengan peran dan kedudukan perempuan tersebut. Dalam pepatah
tersebut banyak bentuk bahasa figuratif yang ditemukan, salah satunya adalah
metafora atau perbandingan dua hal berdasarkan kias atau persamaan. Metafora
yang digunakan dalam pepatah Minangkabau merupakan salah satu unsur penting
yang digunakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya, adat istiadat, nasihat,
pikira, perasaan maupun kebiasaan-kebiasaan lain yang ada dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Minangkabau.
Dari
metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah Minangkabau ditemukan
metafora yang terdiri dari jenis berkategori manusia (human), binatang (animate),
tenaga (energy), benda mati (object), dan ke-ada-an (being). Pepatah Minangkabau memiliki
fungsi dan nilai-nilai budaya yang mengandung ajaran-ajaran moral yang berisi
nasihat dan norma. Nilai-nilai yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau
yang harusnya dimiliki oleh perempuan Minangkabau adalah nilai sopan santun,
nilai keimanan yang tinggi terhadap tuhan, nilai pertanggungjawaban, nilai
kearifan dan kebijaksanaan, nilai keteladanan, nilai teguh pendirian, nilai
kesabaran dan ketekunan.
Penelitian ini hanya mendeskripsikan
metafora dalam pepatah Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan
berdasarkan klasifikasi medan semantik dan nilai-nilai budaya yang terkandung
di dalam pepatah tersebut. Oleh karena itu diperlukan penelitian lanjutan
mengenai klasifikasi bentuk dan jenis metafora yang lebih luas dan tidak
terbatas pada pepatah yang berhubungan dengan perempuan. Sampel yang lebih
banyak dan kajian yang lebih mendalam diperlukan agar memperoleh hasil yang
lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Departemen
Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Duranti,
Allesandro. 1997. Rangkuman Terjemahan
Linguistik Antropologi. Cambridge: University Press.
Grothe, Mardy.
2008. I Never Metaphor I Didn’t Like. A
Comprehensive Compilation of History’s Greatest Analogies, Metaphors, and
Similes. New York : Harper Collins Publisher.
Gunarwan, Asim. 2004. Pragmatik, Budaya dan Pengajaran Bahasa. Makalah Seminar
Nasional Semantik III. Surakarta: UNS.
Haley, Michael C.
1980. ‘Concrete Abstraction : The Linguistics Universe of Metaphor’ dalam
Marvin K. Ching dan Michael Haley. 1980. Linguistics
Perspectives on Literature. London: Routledge & Kegan Paul.
Indo, Madjo. 1999. Kato Pusako: Papatah, Patitih, Mamang,
Pantun, Ajaran dan Filsafat Minangkabau. Jakarta : PT Rora Karya.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Oktavianus.
2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang:
Andalas University Press.
__________. 2013. Semangat Profesionalisme dalam Peribahasa
Minangkabau. Padang : Universitas Andalas.
Rambitan,
Siska dan Nova Mandolang. 2014. Ungkapan
dan Peribahasa Bahasa Mongondow. Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum Vol.1, No.
2.
Schon, Donald A.
1981. Generative Metaphor : A
Perspective on Problem-Setting in Social Policy, dalam Adrew Ontony,
Metaphor and Thought. Cambridge : Cambridge University Press.
Taylor, John R.
2003. Linguistics Categorization. United
States of America : Oxford University Press Inc New York.
Wahab, Abdul. 1991.
Isu Linguistik dan Pengajaran Bahasa dan
Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.
Wijana,
I Dewa Putu. 2008. Kata-kata Kasar
dalam Bahasa Jawa. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora vol 20, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
LAMPIRAN PEPATAH
ADAT MINANGKABAU
Sumber
: Buku ”Kato Pusako”
BUNDO KANDUANG
Bundo
kanduang limpapeh rumah nan gadang
Amban
puruak pagangan kunci
Amban
puruak aluang bunian
Pusek
jalo kumpulan tali
Sumarak
didalam kampuang
Hiasan
dalam nagari
Nan
gadang basa batuah
Kok
hiduik tampek banasa
Kok
mati tampaik baniaik
Ka
undang-undang ka Madinah
Ka
payuang panji ka Sarugo
Limpapeh
rumah nan gadang
Sumarak
dalam nagari
Hiasan
didalam kampuang
Nan
tau jo malu dan sopan
Hiasan
Kampuang jo halaman
Langkok
ka koto jo nagari
Sampai
ka balai jo musajik
Panyusun
sumarak rumah tanggo
Laku
baiek budi baiek
Malu
jo sopan tinggi sakali
Baso
jo basi dipakaikan
Nan
gadang basa batuah
Kok
hiduik tampek banasa
Kok
mati tampaik baniaik
Tiang
kokoh budi nan elok
Pasak
kunci malu jo sopan
Hiasan
dunie jo akiraik
Auih
tampek minta aie
Lapa
ka tampaek minta nasi
Elok
tapian dek nan mudo
Elok
Kampuang dek nan tuo
Elok
Nagari dek pangulu
Elok
musajik dek tuangku
Elok
rumah dek bundo kanduang
Muluik
manih kucindam murah
Baso
baiak gulo di bibie
Muluik
manih talempong kato
Sakali
rundiang disabuik
takana
juo salamonyo
Masaklah
buah kacang padi
Dibawok
urang katangah pasa
Padi
nan masak batangkai-tangkai
Bundo
kanduang tuladan budi
Paham
nan indak amuah tajua
Budinyo
nan indak amuah tagadai
PARAMPUAN
Adapun
nan disabuik parampuan
Tapakai
taratik jo sopan
Mamakai
baso jo basi
Tahu
diereang jo gendeang
Mamakai
raso jo pariso
Manaruah
malu jo sopan
Manjauahi
sumbang jo salah
Muluik
manih baso katuju
Kato
baiak kucindam murah
Baso
baiak gulo dibibia
Pandai
bagaua samo gadang
Hormat
kapado ibu bapak
Hidmat
kapado urang tuo tuo
Mamakai
di malu samo gadang
Labiah
kapado pihak laki laki
Takuik
kapado Allah
Manuruik
parentah Rasul
Tahu
dikorong jo kampuang
Tau
dirumah jo tanggo
Tahu
manyuri manuladan
Takuik
dibudi katajua
Malu
dipaham ka tagadai
Manjauahi
sumbang jo salah
Tahu
dimungkin jo patuik
Malatakkan
sasuatu pado tampaiknyo
Tahu
ditinggi jo randah
Bayang-bayang
sapanjang badan
Buliah
ditiru dituladan
Ka
suri tuladan kain
Kacupak
tuladang batuang
Maleleh
buliah dipalik
Manitiak
buliah ditampuang
Satitiak
buliah dilauikkan
Sakapa
dapek digunuangkan
Iyo
dek urang di nagari