Cerita Pengalaman Kuliah Kerja
Nyata RETYA ELSIVIA (0910732036) di Nagari Cubadak, Kecamatan Duo Koto,
Kabupaten Pasaman, 04 Juni- 17 Juli 2012
Aku Suka “Cubadak”
Nagari Cubadak, Kecamatan
Duo Koto, Kabupaten Pasaman. Sebuah nama daerah yang cukup membuat ku shock saat pertama kali melihatnya. Tak
pernah terbayangkan akan tinggal selama berhari-hari di daerah yang sangat jauh
dari pusat kota ini, apalagi rumor yang selalu beredar dari tahun ketahun
mengatakan bahwa Pasaman terkenal dengan magic-nya. Pikirankupun mulai bercabang saat membayangkan bagaimana
kehidupan yang akan kujalani ke depannya nanti. Akupun mulai mencari informasi
tentang daerah Cubadak baik dari situs internet, teman ataupun orang tua. Kepanikanku bertambah saat mengetahui
masyarakat Cubadak menggunakan bahasa Mandahiling sebagai bahasa utama mereka. Hanya
pikiran negatif yang telintas di benakku hari demi hari ketika teman-teman di
kampus mulai membicarakan tentang KKN. Mahasiswa
yang meninggal karena keracunan, mahasiswa yang di makan buaya, mahasiswa yang
tak mau kembali pulang saat KKN telah berakhir, hanya itu yang menjadi topik
pembicaraan saat teman-teman menanyakan tentang lokasi KKN-ku. “Cobaan apalagi
ini !”, pikirku dalam hati.
04
Juni 2012 merupakan titik awal di mulainya kehidupanku sebagai mahasiswa yang
siap untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Gambaran sebelumnya
mengenai nagari Cubadak sudah lekat dalam pikiranku ketika kami telah melakukan
observasi sebelumnya. Medan yang cukup berat dan menantang merupakan satu
hambatan baru yang harus kami hadapi lagi. “Life is challenging” mulai menjadi
moto penyemangat hidupku. Sebisa mungkin aku akan terus berjuang agar bisa
menjadi mahasiswa yang berguna bagi masyarakat nagari Cubadak. Sambutan hangat dari
masyarakat, khususnya bapak wali nagari dan kepala jorong sedikit demi sedikit
mulai menghapus ketakutanku. Senyuman yang tidak akan pernah ku lupakan sampai
kapanpun juga.
Rasa sedih bercampur bahagia ku rasakan saat
di minggu pertama pelaksanaan KKN. Saat itu aku mengetahui bahwa siswa-siswi
Sekolah Dasar di jorong kami tinggal belum pernah di perkenalkan dengan pelajaran
Bahasa Inggris. Sungguh pemandangan yang sangat kontras ku rasakan dengan
kehidupan kota dimana anak Taman Kanak-kanak di kota sudah mulai lancar
berbahasa Inggris. Konon kabarnya, sekolah dasar ini belum pernah memiliki guru
Bahasa Inggris yang profesional yang bisa mengajar. Saat itu kepala jorong
memintaku agar secepat mungkin melaksanakan program kerja utamaku sebagai
mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Bahagia rasanya saat programku menjadi
kebutuhan prioritas masyarakat jorong Pambangunan. Besar harapanku selepas KKN
berakhir nanti siswa-siswi Sekolah Dasar jorong Pembangunan mulai mengerti
Bahasa Inggris lebih banyak lagi.
Setelah
meminta izin dari pihak sekolah, aku dan tiga orang temanku mulai mengajar
Bahasa Inggris di jam pelajaran berlangsung. Semangat membara dan rasa antusias
yang tinggi terlihat dari wajah polos siswa-siswi berseragam merah putih ini. Mereka
memperhatikan setiap apapun materi yang kami ajarkan. Seringkali ku dengar pelafalan kata yang salah dari mulut kecil
mereka tapi itu semakin memacu tekadku agar bisa membantu mereka semampuku. Kami
belajar di sekolah pada pagi hari dan di lanjutkan dengan belajar privat di
sore harinya. Banyak anak-anak sekolah dasar yang memenuhi posko kami, meskipun
agak berisik, tapi itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku ketika melihat
mereka tertawa saat belajar sambil bermain dengan Bahasa Inggris. Tak tanggung-tanggung
siswa-siswi sekolah dasar masih memintaku untuk mengajari mereka Bahasa Inggris saat minggu ujian berlangsung.
Sungguh semangat belajar luar biasa yang jarang ku temui pada anak-anak seusia
mereka. Namun keterbatasan waktu membuatku hanya bisa mengajari Bahasa Inggris
siswa-siswi sekolah dasar jorong Pembangunan pada tahap Bahasa Inggris
permulaan saja seperti huruf, angka, warna, bagian tubuh, perkenalan diri, hari,
bulan, binatang, buah dan kosa-kata sehari-hari lainnya. Di minggu-minggu berikutnya
aku mulai di sibukkan dengan program kerja utama lain seperti mengajar Bahasa
Inggris di dua jorong tetangga yaitu Lanai dan Tanah Putih. Selain itu aku juga
mulai membantu teman-temanku untuk mengajar Matematika, kegiatan lomba dan
perayaan Isra Mi’raj, rumah pangan mandiri, lomba class meeting, menghadiri
perpisahan Paud yang hampir di semua jorong, kegiatan nagari SEHATI, dan
berbagai kegiatan dari program-program kami lainnya.
Banyak
suka dan duka yang kami lewati selama kurang lebih 40 hari menjalani Kuliah
Kerja Nyata ini. Kami mahasiswa KKN nagari Cubadak terdiri dari 9 orang
perempuan dan 7 orang laki-laki. Selain aku dari jurusan Sastra Inggris, ada
Diah dari jurusan Kimia, Sara dari jurusan Sejarah, Selsi dari jurusan
Peternakan, Fika dari jurusan Matematika, Yuni dan Ayu dari jurusan teknik
pertanian, Eko dari jurusan Pendidikan Dokter, Gera dari jurusan Hukum, Anty
dan Andres dari jurusan Agribisnis, Bima dari jurusan Hubungan Internasional,
Jevi dari jurusan Teknik Sipil, Inyep dari jurusan Manajemen, Gantha dari
jurusan Teknik Mesin dan terakhir Nova dari jurusan Kesehatan Masyarakat. Aku
belajar untuk memahami karakter masing-masing karena setiap teman-temanku
memiliki karakter yang sangat berbeda-beda, apalagi kami saja baru kenal pada saat
KKN ini berlangsung. Kami sering melakukam perbincangan baik sekedar obrolan
ringan ataupun serius agar bisa mengenal satu sama lain lebih dekat lagi. Tak
jarang kami di beritahukan agar segera kembali pulang ketika rapat masih saja berlangsung
pada malam hari. Adapun tujuannya adalah agar tidak menimbulkan gunjingan dalam
masyarkat berhubung kami tinggal di rumah berbeda antara perempuan dan
laki-laki. Disini kami belajar bagaimana mematuhi norma-norma yang ada pada
masyarakat agar tidak di pandang buruk ataupun tidak menyenangkan oleh
masyarakat setempat. Sebisa mungkin kami berusaha agar tidak memberikan
pengaruh kehidupan kota yang buruk pada mereka. Dan masih banyak lagi pelajaran
yang bisa ku ambil ketika aku hidup bersama 15 orang temanku ini, seperti cara
bekerja sama dalam kelompok, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah dan
berbaur dengan masyarakat setempat.
But,
Life must go on. Ketika aku sudah merasakan kenyamanan dan kesederhanaan hidup
di nagari Cubadak, saat itu juga aku harus siap untuk kembali ke kehidupanku
semula. Ingin rasanya lebih lama lagi tinggal di daerah asing yang sangat
kutakuti dulu ini dan sejenak melupakan beban kuliah yang menunggu di tahun
akhir ketika aku menjadi mahasiswa. Perpisahan yang semula ku pikir menjadi
kebahagiaan setelah lepas dari kukungan neraka berubah menjadi kesedihan tak
kunjung duka. Air mata seakan tak berhenti membanjiri pipiku ketika bus kampus
yang kami naiki melewati sepanjang jalan kenangan KKN yang biasanya kami lewati
sehari-hari. Lambaian tangan, salam perpisahan, air mata duka dari masyarakat
nagari Cubadak turut mengantar kepergian kami. Tidak ada sedikitpun hal aneh
yang terjadi saat masa KKN kami berlangsung dan aku menyadari bahwa Tuhan
memiliki rencana yang baik bagi setiap hambaNya selagi mereka masih terus
melakukan kebajikan di jalanNya. Percayalah bahwa keburukan bisa saja terjadi
pada siapapun dan dimanapun jika mereka tidak bisa menjaga. Cubadak tidak
pernah memberikan kesan buruk sepanjang perjalanan KKN-ku. Tak heran jika aku
suka Cubadak, teman.
A Time Gone, but Memories Remain, n this is US !!!!
Memberikan kata sambutan untuk perpisahan PAUD
Solidarity Forever, Could we? Allahu a'lam
Tugu yang di buat dengan tangan sendiri. dari KITA untuk KITA. Dan biarkan ia terus berdiri gagah sebagai bukti anak manusia yang pernah menginjak tanah di atasnya.
Life is never really same again :')
Semoga ilmu yang kami berikan bermanfaat
pemandangan desa Lanai, semoga terus mengajari kita akan arti bersyukur dengan kehidupan






