Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

January 05, 2017

Malaikat Tanpa Sayap *Part 2

Posted by Retya Elsivia at 12:07 AM
Well, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu lagi di tulisan saya kali ini. FYI, ini adalah tulisan kedua saya setelah Malaikat Tanpa Sayap *Part 1 cukup banyak mendapatkan respon positif termasuk dari sang Malaikat Tanpa Sayap yang hanya bisa mangguk-mangguk mengiyakan (bahkan beliau juga meminta agar tulisan tersebut dicetak :p) Terimakasih bagi yang sudah membaca dan yang bersedia kembali membaca lanjutannya disini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk kita semua. Semoga segala resolusi yang telah dituliskan di tahun 2017 berujung menjadi kenyataan. Aamiin. Di awal tahun ini, saya mendapat sebuah kutipan yang menarik dari @AhmadFauzi dalam  Inspirasi Islami.
Ada dua hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang.
Buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui.
Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. Bacalah banyak buku, temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat, orang-orang yang banyak melakukan perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi.
Sepakat? Okay, let’s start it. Meskipun ini bukan buku, tapi saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat dan mampu menjadi inspirasi :’) Inilah lanjutan cerita Malaikat Tanpa Sayap saya, so happy reading guys.

7.       Stand up for Children’s Rights
Hidup jauh dari ibukota tidak menjadi alasan bagi ibu untuk tidak dapat memenuhi hak anak-anaknya. Ibu selalu membiasakan kami dengan big city-mindset.  Ya setidaknya jangan sampai bermental kampung*n dan clingak clinguk mendengar cerita orang tentang kehidupan di kota. Hehehe. Salah satu bentuk kebiasaan yang diajarkan ibu adalah dengan sering mengajak kami ke kota Padang. Bagi anak kecil yang datang dari pelosok seperti saya ini saat melihat MATAHARI dan di dalamnya ada arena bermain TIMEZONE itu rasanyaaaaaa SUPERWOWWWW, membuat hati menolak untuk pulang. Ya, saya akui ayah dan ibu sering berdebat dalam hal ini. Prinsip ibu ketika kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Padang baik untuk sekedar belanja kebutuhan atau liburan sekolah, maka wajib hukumnya bagi setiap anggota keluarga untuk terpenuhi kepuasannya. Jadi kalau pas jalan pulang itu sama-sama enak, sama-sama senang dan bahagia gitu loh. Memang sedari kecil ibu membiasakan kami untuk selalu berbelanja di kota Padang, termasuk untuk hal kecil sekalipun. Sehingga saya sendiri pun sering bingung ketika ditanyakan toko baju di kota yang saya tinggali. Bukan sombong loh ya, tapi ini berbicara fakta. Wkkwkwk. Dengan segala keterbatasan libur yang dimiliki oleh ayah sebagai seorang abdi negara, lantas tidak mebuat ibu menyerah untuk dapat memenuhi hak-hak anak dengan semampu yang beliau bisa. Setiap libur sekolah kami selalu pulang ke kampung halaman di Payakumbuh (I stress the word SELALU). Liburan sekolah menjadi waktu yang sangat dinanti-nantikan karena bisa bermain di kampung halaman. Saya bisa menjamin bahwa liburan dengan suasana yang berbeda itu mampu menjadi suplemen ampuh penghilang stress. Setuju nggak? Selain itu dengan liburan, anak bisa terlepas dari beban pikiran belajar selama 3 bulan terakhir (maaf njih, zaman saya SD dulu sistem sekolahnya masih triwulan, bukan semester kayak sekarang :D). Meskipun di setiap libur sekolah itulah kami membutuhkan 5 jam perjalanan dari Painan ke Payakumbuh dengan dua kali mobil bus yang harus berganti di tengah padatnya arus terminal (tapi kalau nggak sibuk, biasanya akan diantar jemput oleh ayah, yaaa kayak ngedrop anak ke sekolahan gitu hahaha). Situasi seperti ini telah berlaku jauh sebelum kami bertiga duduk di bangku sekolah. Hanya dengan ibu saja? Ya, hanya dengan ibu saja beserta tiga orang anak kecilnya. Satu berada di dalam pangkuan, satu dipegang di sebelah tangan, dan satu lagi dibiarkan jalan lepas di depan. Bahkan ini juga terjadi pada saat liburan kami berempat ke tanah Jawa atau ke Pulau Batam. Saya tahu saking susahnya ibu dalam mengatur tiga orang anak ini, kakak laki-laki saya pernah hilang dari genggaman ibu ketika berada di kapal penyeberangan Merak-Bekhauni, atau kakak perempuan saya yang pernah diberi air dan terpaksa dibopong oleh orang lain karena tidak mau bangun saat perjalanan. Yes, that’s my superwoman J

8.       NO BREAKFAST = NO SCHOOL
Untuk hal ini sampai sekarang saya pun masih angkat topi dengan ibu. Mungkin rasa ini tidak akan pernah hilang sekalipun saya bisa melakukan hal itu nanti. Ibu tidak akan pernah mengizinkan anaknya untuk keluar rumah tanpa sarapan. Ya, termasuk untuk sekolah sekalipun. Ibu selalu menyediakan sarapan setiap pagi dengan menu yang berbeda. Jangan pikir ibu bisa melakukan hal ini karena jam kerja yang lebih longgar dari jam anak sekolah. Tidak sama sekali. Ibu adalah seorang guru SMA, jadi kami sekeluarga memiliki jadwal keberangkatan yang nyaris sama di setiap pagi (read: ayah bukan pergi sekolah, tapi pergi apel pagi yang jadwalnya lebih cepat dari kami). Entahlah terkadang saya heran jam berapa ibu harus bangun setiap harinya untuk membuat sarapan ini. Satu hal yang saya tahu, ibu tidak ingin jika anaknya tidak dapat fokus atau susah berkonsentrasi saat menangkap pelajaran di sekolah. Dan satu lagi, ibu tidak ingin malu jika anaknya jatuh pingsan saat pelaksanaan upacara bendera. Kebiasaan ini pun mendarah daging hingga saya  tidak lagi tinggal bersama ibu. Sebagai anak kost, saya harus berpikir keras setiap hari makanan apa yang bisa saya makan untuk besok pagi (yes i know it is truly lebay hahaha). Terimakasih ya bu karena sekarang saya pun tumbuh menjadi anak yang tidak pernah bisa keluar rumah tanpa sarapan :’)

9.       PENDIDIKAN adalah HARGA MATI
Dari judulnya agak ngeri-ngeri sadap ya. Hehehe. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sekarang kita hidup di zaman pendidikan dimana hal ini yang akan membuat kita dapat bertahan hidup. Mungkin idealisme seperti inilah yang tertanam dalam pikiran para orang tua termasuk ibu saya. Jarang sekali kita menemukan anak-anak yang menganggur selepas masa SMA, ya kalaupun menganggur itu pun bukan keinginan orang tua mereka, bisa jadi itu adalah faktor X dari si anak. Pendidikan adalah harga mati. Bisa dibilang itu juga berlaku dalam keluarga saya. Dalam rentang usia kami yang berselang 5 tahun, ibu pernah serentak menguliahkan 3 orang anaknya dalam beberapa tahun. Pastinya banyak keringat yang mengucur dan langkah kaki yang terseok-seok selama itu. Pada saat itu memang belum berlaku sistem UKT untuk pembayaran uang kuliah which means uang kuliah s1 kami masih murah tiga atau empat kali lipatlah dari uang kuliah anak zaman sekarang, tapi yang dipikirkan ibu tidak hanya seputar uang kuliah yang harus dibayar dalam satu kali enam bulan,  masih ada uang kos, uang jajan, uang buku, uang perlengkapan sehari-hari, dan segala uang-uang lainnya yang harus diberikan tiap bulan pada masing-masing anak (meskipun saya dan kakak sering mendapatkan uang ‘cekeran’ dalam bentuk beasiswa prestasi dari kampus, tapi itu diapresiasi ibu sebagai bonus dan lebih sering kami gunakan untuk menunjang kehidupan tersier, if u know what I means ;p). Semua perjuangan yang dilakukan ibu itu demi satu kata yang paling sakral, yaitu PENDIDIKAN. Orang Minang pernah mengatakan indak kayu, janjang pun den kapiang. Pepatah ini sering kali saya dengar dari ibu. Maksudnya kurang lebih seperti ini jikapun tidak ada kayu, tanggapun bisa dipotong-potong agar dapat dijadikan kayu. Jadi tidak ada yang tidak mungkin dalam pengorbanan seorang ibu dalam memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Hal ini jugalah yang berhasil mengantarkan kami bertiga sampai ke jenjang pendidikan magister. Sumber donaturnya tak lain dan tak bukan pastilah ibu dan ayah. Meskipun pada awalnya, saya menolak mentah-mentah ‘paksaan’ ibu untuk lanjut kuliah s2 (karena mimpi-mipi kuliah di luar negeri masih seperti angin segar tak layu). Saya masih ingat selepas s1 ketika berkas pendaftaran saya untuk menjadi CPNS dibalas dengan senyuman sungging saking ibu ingin semua anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini juga salah satu pesan dari almarhum kakek kepada ibu yaitu sebisa mungkin anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. That’s the point. Selama masa-masa perjuangan ini, ibu sangat banyak take part hingga akhirnya kami bertiga dapat sampai ke garis finish dan dengan bangga mengibarkan bendera merdeka. Banyak tantangan? Pasti. Salah satunya juga terjadi pada kakak laki-laki saya. Ketika itu, usianya sudah 26 tahun dengan status mahasiswa pascasarjana semester 6. Ini adalah titik dimana para mujahid ilmu sedang berjuang dengan tesis (meskipun ini cukup terlambat). Tapi, tesis menjadi prioritas nomor sekian bagi kakak saya dikarenakan aktivitas lainnya sebagai seorang pengusaha wangi-wangian a.k.a parfum. Dan saat itu juga terjadi kendala lain dimana sang kakak juga ingin menikah dan membina bahtera rumah tangga bersama wanita pilihannya. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga saya karena akan hadir seorang anggota baru pertama di dalam keluarga kami. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu karena ayah dan ibu akan segera memiliki keturunan baru. Tapi bagaimana dengan respon ibu? It will shock u I guess. Ibu meresponnya dengan jawaban 'restu ibu akan didapat jika kakak berhasil menyelesaikan pendidikan s2'. Intinya tidak akan ada penikahan jika belum ada M.M (magister manajemen) di tangan (Ngeri nggak tuh?). Jadilah sang pejuang harus kembali berkutat dengan tesis dan harus sering nongkrong ke kampus demi oh demi melamar sang kekasih pujaan hati. Hahahaha. Alhamdulillah proses sidang ujian akhir hingga proses pernikahan sang kakak tidak berlangsung lama, mungkin hanya berjarak 2-3 bulan. Sesuai dengan janji ibu, maka tepat di hari ulang tahun kakak ke 27 tahun, keluarga saya officially memiliki anggota keluarga baru meskipun pada saat itu kakak saya belum officially lulus karena belum wisuda. Hehehehe. Saya yakin bahwa sekarang kakak saya pasti merasakan manfaat luar biasa dari sikap keras ibu, jika seandainya tidak ada pergejolatan seperti itu, pasti tesis akan tetap menjadi priotas nomor kesekian di tengah kesibukannya disana-sini plus tanggungjawab sebagai seorang suami. Dengan sikap keras ibu untuk memperjuangkan titel MM tersebut, kakak saya bisa diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di kota Padang. Well, I had the same thing happen to me. Pada akhirnya, saat ini dengan kehidupan yang sekarang, saya merasa bersyukur dengan ‘daulat’ ibu atas saya. Saya yakin setiap orang yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan master akan merasakan kehidupan yang lebih baik, baik dari segi ilmu, profesi ataupun finansial meskipun perjuangan hingga ke titik puncak tersebut harus berdarah-darah sekalipun. Perjuangan inilah yang sedang dijalani oleh ibu saat ini, setelah berhasil mengantarkan ketiga buah hatinya ke jenjang pendidikan master, sekarang ibu sedang mencoba mengantarkan dirinya sendiri ke puncak tersebut dalam usia 54 tahun (mungkin mahasiswa magister paling tua ya? hehehe).  Ibu yang tak pernah haus menuntut ilmu. Mahasiswa yang tidak ingin bolos sekalipun anak-anaknya sudah berubah menjadi syetan penghasut.  Hehehe.
Berbicara masalah pendidikan, honestly ibu tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar. Mungkin karena kami anak baik ya #tsahhhh. Tapi nggak juga sih, tapi nggak tau aja ya kenapa saya dan kakak bisa belajar dengan kesadaran sendiri, ya kalau ada PR di sekolah mbok ya diingat dan dibikin sendiri lah, kalau nggak dibikin kan konsekuensinya juga ditanggung sendiri kan ya :p Malah yang aneh adalah ibu sering mengingatkan kami untuk istirahat. Berhubung kakak perempuan saya adalah learner maniac, jadi ibu sering sekali berpesan bahwa ibu tidak rela kalau kakak harus belajar jika lewat dari jam 10 malam. Hahahaha. Ah ibu, andai dirimu tahu seberapa stressnya menghadapi tumpukan buku pascasarjana :P
Sebuah pemandangan di sudut rumah saya. Ini adalah salah satu karya ibu.
10.   Selera Ibu
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.
Selalu memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Penggalan lirik lagu tersebut sangat cocok untuk mendeskripiskan ibu. Ibu saya bukanlah wanita konglomerat dengan uang yang berlimpah, tapi ibu saya selalu berusaha memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa barang-barang yang diberikan ibu seperti sepatu, sepeda, baju, tas adalah rentetan barang bermerek. Ketika saya sudah besar seperti ini, terkadang saya pun masih harus berpikir ulang lagi dan lagi untuk membeli barang-barang dengan harga segitu di tengah gaji yang pas-pasan wkwkwkw.  Dengan sikap ibu seperti ini, saya dan kakak setidaknya bisa merasakan barang bagus meskipun tidak melebihi dari punyanya anak bupati. Hehehe. Saya tidak minta semua orang harus setuju dengan pendapat ibu yang mengatakan bahwa masalah penampilan juga terkait dengan masalah harga diri. Tapi jangan pikir bahwa saya dapat meminta ini itu seenak jidat saya. HELLOO!! Emangnya bokap lo presiden. Hehehe. It’s okay as long as it is still logical dan ibu mampu untuk membelinya. Ibu adalah tipikal orangtua yang tidak akan pernah langsung memberikan apa yang diingikan anaknya. Pasti ada jeda antara keinginan dan pemenuhan itu dan disini sangat dituntut kesabaran dari sang anak tapi setiap anak harus siap-siap dengan surprise yang datang secara tiba-tiba. Ya semacam right thing in the right time and everything will turn out right. Wkwkwkw. Kuncinya jika semakin merengek, maka semakin tidak akan diberikan, tapi kalau diam (sok-sok nggak butuh gitu lah), maka peluang dapatnya akan lebih besar. Hehehe. Disini ibu mengajarkan kami bahwa tidak semua keinginan itu harus didapat meskipun pada saat itu, saya yakin bahwa ibu saya sangat mampu untuk membelikan, but who’s know about human life?. Saya ingat cerita ibu tentang kakak saya yang protes dengan uang jajan teman sebayanya yang jauh lebih besar padahal sorry to say, ayah kami memiliki profesi yang sama, bahkan ibu saya lebih hebat karena ikut membanting tulang membantu perekonomian keluarga. Saat itu jawaban ibu sangat sederhana, ‘Mama bisa berikan uang jajan 10ribu bahkan 20rb perhari melebihi si Z, tapi apa kamu yakin kalau tiba-tiba papa sudah tidak ada, mama bisa memberikan hal yang sama setiap harinya?’ Ya, itulah ibu saya, sosok yang selalu menyadarkan kami bahwa meninggikan selera jauh lebih mudah daripada menurunkan selera.

11.   The other side of Malaikat Tanpa Sayap
Dalam poin terakhir ini, saya akan mendeskripsikan beberapa sisi positif dari ibu. Saya bisa katakan bahwa ibu adalah tipe orang perfectionist. Mulai dari urusan pekerjaan hingga ke urusan rumah tangga. Ibu pernah mendapatkan JUARA 1 LOMBA KEBERSIHAN di tingkat asrama, padahal saat itu kami bertiga masih balita, pasti yang terbayangkan adalah bagaimana pecah belahnya rumah dipenuhi dengan mainan yang berserakan atau hawa-hawa pesing yang tidak mengenakkan layaknya rumah-rumah ibu rumah tangga dengan satu anak balita kebanyakan. Disitulah letak supernya ibu saya, sekalipun di rumah ada tiga orang anak balita, ini tidak menjadi exception dalam mengurus dan menata rumah secara rapi dan bersih, bahkan ibu bisa mengalahkan rumah lain yang notabene tidak ada anak balita di dalamnya. Gokil kan? Wkwwkwk. Selain itu, ibu juga terkenal sebagai ahli pembukuan. Ibu punya catatan untuk semua barang rumah tangga (beserta tanggal pembelian dan harga). Ibu punya catatan untuk semua rincian biaya yang dikeluarkan saat perjalanan baik keluar kota ataupun keluar negeri. Ibu punya catatan berapa biaya yang dibutuhkan oleh ketiga anaknya saat kuliah s1 dan s2 termasuk rincian uang jajan per bulan, it means biaya kami selama kurang lebih 4 tahun sewaktu s1 dan 2 tahun sewaktu s2. Ibu punya catatan nama siswanya yang menjadi lulusan PMDK sedari beliau mulai mengajar tahun 1985. Bahkan lebih dari itu, sedari tahun 1985 itu juga, setiap bulan ibu selalu tidak penah absen mengumpulkan amprah gaji hingga sekarang. Dan lebih parahnya, ibu tidak pernah lupa mencatat periode jadwal bulan merah setiap bulan. Hanya satu yang sangat saya sayangkan karena ibu tidak mencatat nama mantan hahahaha. Lambat laun saya mulai mengetahui manfaat menjadi Mrs. Super Duper Detail ini seperti agar kita tahu pasti apa yang telah dibeli, mengapa suatu alat rumah tangga harus saatnya diganti, untuk apa biaya dikeluarkan, apakah siklus hormon teratur atau tidak, dan lain-lain sebagainya.  Ibu, ibu, ibu. Saya pun masih harus banyak belajar menjadi ahli pembukuan sepertimu.

Okay, tibalah kita di penghujung cerita. Saya sudahi deskripsi saya mengenai Malaikat Tanpa Sayap ini. Satu hal yang pasti yaitu perihal anak bukanlah urusan yang gampang seperti semudah membalikkan telapak tangan. Ketika diri kita sudah mendapat panggilan sebagai seorang ayah atau seorang ibu, maka bersiaplah untuk diminta sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah amanah yang harus diemban untuk seutuhnya membesarkan, mendidik dan membentuk karakter seorang manusia. Dua postingan saya hari ini dan sebelumnya mungkin memiliki pembelajaran yang bisa dipetik manfaatnya. Untuk sesuatu yang sekiranya akan mendatangkan mudhorat, silahkan ditinggalkan dan saya haturkan permohonan maaf akan hal itu. Tetaplah menjadi orangtua yang keras dan tegas tapi elegan dalam mendidik seorang titipan Tuhan. Diperlukan ibu yang cerdas untuk melahirkan anak yang berkualitas. Salam dua anak :p
Izinkanlah tulisan ini saya buat sebagai bentuk napak tilas saya menjadi anak seorang ibu.
Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?’ Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)
(Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations)
Semoga tulisan ini tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tulisan yang akan selalu menjadi jejak perjalanan yang menyelipkan kenangan dan mengukir catatan sejarah untuk diwariskan. Terimakasih ibu, sungguh lidah sayapun kelu apakah saya sanggup membalas setiap air susu dan perjuanganmu untuk kami anak-anakmu. Semoga Allah selalu memberikan limpahan rahmat, rezeki dan kesehatan kepada Ibu.
Aamiin allahuma aamiin.

Malaikat Tanpa Sayap :*



December 29, 2016

Malaikat Tanpa Sayap *Part 1

Posted by Retya Elsivia at 11:57 PM
Tulisan ini saya rangkai sebagai bentuk hormat pada seorang wanita yang telah berjuang untuk melahirkan dan membesarkan saya tanpa pamrih selama 24 tahun ini.
Saya yakin keberhasilan seorang anak tak luput dari doa restu dan didikan dari orangtua, terutama ibu. Saya yakin semua ibu di dunia ini pastilah ibu yang terbaik di mata anak-anaknya, ibu yang rela berjaga di malam hari ketika bayi mungilnya menangis, ibu yang rela bangun pagi demi menyiapkan sarapan anaknya, ibu yang rela menaggung letih dan penat demi mengurus rumah tangga, ibu yang rela bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, ibu yang rela bangun untuk sholat di malam hari demi kesuksesan anaknya. Sungguh teramat banyak pengorbanan malaikat tanpa sayap itu di dalam hidup kita. Saya menulis tulisan ini bukan bermaksud menggurui atau menganggap ibu saya adalah seorang yang sempurna (sekalipun itu benar di mata saya di tengah kekurangan yang dimilikinya sebagai seorang manusia). Mungkin lewat tulisan ini saya bisa berbagi pengalaman sebagai seorang anak yang berhasil dididik oleh seorang ibu yang memiliki kedisiplinan yang cukup tinggi. Dan besar harapan saya semoga tulisan ini dapat menjadi pembelajaran untuk para ibu dan calon ibu, termasuk saya. Ada beberapa poin yang masih melekat jelas di dalam memori ketika saya dilahirkan menjadi anak seorang ibu.


1.       Time schedule is a MUST
Salah satu bentuk kedisiplinan yang diajarkan ibu dimulai dari hal kecil ini. Ibu mengajarkan bagaimana setiap anak mampu mentaati jadwal hidup yang harus dijalani setiap harinya. Saya masih ingat ketika saya dan kedua kakak saya memiliki jadwal detail per waktu mulai dari pagi hingga malam, mulai dari hari Senin hingga Minggu. Kira-kira contohnya seperti ini:
HARI SENIN
05.00-05.05 : Bangun Tidur
05.05-05.15 : Sholat Subuh
05.15-05.30 : Membersihkan tempat tidur
05.30-05.45 : Mempersiapkan kebutuhan sekolah
05.45-06.00 : Mandi + Siap-siap
06.00-06.20 : Sarapan
06.30-07.00 : Berangkat sekolah
07.00-12.00 : Sekolah
12.00-13.00 : Sholat Dzuhur
13.00–13.30 : Makan siang
13.30–16.00 : Istirahat
16.00-16.30 : Mandi
16.30-18.00 : Bermain
18.00-18.30 : Sholat Maghrib
18.30-19.30 : Baca Al-Qur’an
19.30-21.00 : Belajar
21.00             : TIDUR
Itu hanya sebagai bentuk gambaran saja, karena saya pun sudah lupa setiap poin daritime schedule ini. Time schedule mulai diberlakukan oleh ibu sejak kami duduk di bangku SD dan itu ditulis dalam satu papan tulis besar yang ditempel di ruangan keluarga. Jadi setiap anak harus siap-siap kena tegur jika ada poin yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. HAHAHA. Namun sebenarnya jadwal ini tidak harus diberlakukan sedemikian strict seperti itu, kadang-kadang masih ada kelonggaran, namun intinya adalah time schedule ini membantu anak untuk menjawab pertanyaan “What I will do next?”

2.       ISTIRAHAT SIANG adalah KEBUTUHAN
Saya dilahirkan sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara. Ibu saya sudah memiliki tiga orang anak dalam waktu 5 tahun. Kebayangkan bagaimana repotnya memiliki 3 orang anak kecil yang jaraknya dekat-dekat? Karena saat beranjak dewasa dan memahami kehidupan seperti sekarang ini, dengan membayangkan 1 orang anak kecil saja sudah lelah rasanya. Kebetulan ibu juga seorang wanita karier, sehingga banyak hal lain yang harus diurus selain rumah tangga. Ketika masih kecil, kami dibantu oleh asisten rumah tangga yang selalu berbeda-beda dengan masalah yang juga berbeda-beda. Hehehe. Ketiga balita ini akan bergantian dimandikan ibu sebelum akhirnya kami lepas landas dan mendarat di tempat tidur. Seger-seger maknyussss ditambah hembusan kipas angin yang sepoi-sepoi.
Tadaaaaa... Beginilah suasana siang di rumah kami. RaRiRe (Rangga Rinda Retya) in action
Hal ini pun berlanjut hingga kami beranjak besar dan sudah memiliki banyak teman di sekitaran rumah. Oleh karena ayah adalah seorang prajurit negara, bertahun-tahun kami tinggal di kompleks asrama. Saya akui, kehidupan ini yang mebuat masa-masa kecil saya bahagia. Saya terlahir dari anak kolong, bukan anak pengusaha yang menjalani hidup di rumah gedongan. Kami bertiga memiliki banyak teman seumuran, dan kami bebas bermain apapun, sebut saja seperti main kelereng, main petak umpet, main gambar, main karet gelang, main badminton dan permainan-permainan lain (main dengan menggoda tahanan di dalam penjara pun sering :p). Saat bermain seperti inilah saya sering merasa kebebasan saya sebagai seorang anak direnggut oleh ibu. Jika sudah jadwalnya untuk istirahat siang, meskipun tengah asyik bermain sambil ketawa ketiwi hahaha hihihi sebesar-besarnya, ibu tak akan segan-segan menjemput kami ke lapangan dan menyuruh pulang. Disitu saya merasa sedih karena harus terlahir dari anak ibu. Saya hanya bisa melihat teman-teman yang terus lanjut bermain tanpa harus disuruh pulang oleh ibunya. Saya pun masih ingat ketika suatu hari dipanggil ibu untuk pulang dan saya disuruh istirahat siang, sebagai anak yang baik tentunya saya tetap mengindahkan peraturan itu, tapi alhasil selama jam istirahat siang, saya hanya pura-pura tidur karena pikiran saya yang masih melayang-layang dalam permainan.
Semakin besar, saya semakin mengerti bahwa sejatinya memang setiap anak perlu diberikan waktu untuk itirahat siang. Selain untuk membuat badan kembali segar, tentunya agar anak dapat belajar dengan pikiran yang fokus dan tenang di malam hari. Bahkan saat ini, ketika sudah mulai kuliah dan bekerja dan harus bertemu dengan jadwal padat dari pagi hingga sore, ingin rasanya saya kembali menjadi anak ibu, saya rindu dengan jam-jam istirahat siang dengan hembusan kipas angin yang membuat mata sejenak tidak ingin melihat dunia.

3.       Ibadah untuk HADIAH
Yah ini memang terdengar sedikit aneh, karena bagaimanapun semua ibadah yang dilakukan oleh manusia tentunya harus LILLAHI TA’ALA. Tapi pastinya anak usia balita atau balitu (batas usia 5 sampai 7) tidak terlalu paham dengan kewajiban sholat sebagai seorang umat muslim. Apalagi dulu anak balita tidak secerdas anak-anak sekarang yang bisa hafiz qur’an. Hehehe. Jadilah ini salah satu siasat ibu untuk mengajarkan perintah agama kepada anak-anaknya. Dengan hadiah? Yes it was. Kami memiliki tabel sholat dalam papan tulis lengkap dari sholat Subuh sampai Isya setiap hari. Bagi anak yang telah menunaikan sholat maka silahkan ceklis di dalam papan tersebut. Disini juga dilatih kejujuran masing-masing anak, karena bagi anak yang berhasil menunaikan sholat 5 waktu sehari tentunya akan mendapatkan hadiah dari ibu. Kalau saya tidak salah ingat, salah satu hadiahnya adalah uang. Lumayan bisa nambah jajan ke tetangga sebelah coyyyy. Didikan sholat yang diawali dengan iming-iming hadiah ini pun lama-kelamaan beralih menjadi kebutuhan. Yups, kebutuhan untuk menjalankan sholat sebagai tiang agama. Kebutuhan untuk mengisi relung jiwa. Jadi ibu tidak perlu repot-repot menggunakan kekerasan dalam menyuruh anaknya untuk sholat atau ibu tidak perlu khawatir dengan anaknya yang sudah besar tapi sering meninggalkan sholat. Alhamdulillah, sedari kecil kami bertiga tidak pernah sholat bolong-bolong. Ada satu cerita yang menarik terkait hal ini. Cerita ini tentang kakak perempuanku. Waktu itu sekitar tahun 2000, kami sekeluarga liburan ke Dunia Fantasi. Pasti tahu kan gimana hiruk pikuk taman bermain yang sangat hits di Indonesia bahkan sampai hari ini? Oleh karena banyak dan padatnya jumlah manusia di arena bermain tersebut, ibu memutuskan untuk tidak mengajak saya (umur 8 tahun) dan kakak (umur 11 tahun) dalam menunaikan sholat disebabkan oleh antrian yang sangat panjang. Saat itu mungkin ibu berpikir sangat situasional disebabkan kami berdua ceritanya masih anak bawang (belum baligh).But you know what gonna happen then? Selepas ibu kembali dari sholat, kakak perempuanku menangis tersedu-sedu. Kakak saya merasa sangat bersalah karena tidak sholat waktu itu. Oh God, four thumbs up for my mommy.
Hal ini juga berlaku ketika kami mulai beranjak dewasa. Tentunya sebagai umat muslim kita sangat menyadari bahwa apapun amalan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat, termasuk membaca Al-Qur’an. Sewaktu menjadi anak berseragam putih abu-abu, saya dan kakak sudah mendapatkan challenge dari ibu, siapa yang bisa qatam Al-Qur’an selama bulan Ramadhan akan diberi hadiah. Masih dengan uang? Jawabannya, iya. Dan ini jumlahnya lumayan untuk anak Anak Baru Gede seperti kami ini. Jadilah saya dan kakak selepas sholat fardhu atau sholat sunnah selalu berlomba-lomba untuk membaca Al-Qur’an. Saya sering bertanya “Sudah juz berapa kak?” Hahaha memang saya kepo sedari kecil ya  :P. 30 juzz dalam satu bulan memang sulit rasanya di tengah godaan yang banyak disana-sini. Dan saya akui ketika beranjak dewasa pun saya pun masih merasa tertatih dalam urusan ini (but no more present loh ya :D).
Memang terkadang dari iming-iming atau keterpaksaan itu, perlahan-lahan kita akan menemukan hikmah dan akhirnya hati kita menjadi ikhlas karenaNya.

4.       Ruang Tamu untuk Pacaran
Ketika baca ini, pasti akan bertanya-tanya kan? Memangnya saat sekolah diizinkan pacaran? Hahahaha. Kurang lebih seperti itulah. Saya dan kakak tidak pernah tertutup mengenai hal ini dengan orang tua. Jadi kami tidak pernah mengenal namanya backstreet saat menjadi anak sekolahan. Mungkin ibu saya berpikir bahwa perasaan saling suka dengan lawan jenis itu merupakan hal lumrah terjadi ketika anak sudah mulai beranjak dewasa. Eaaaaaa. Sederatan nama pacar, nama pedekate-an, atau nama mantan sudah tidak tabu lagi di keluarga kami. Bukannya sikap saling terbuka itu lebih indah? Dapat lampu hijau? Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu. Tapi jangan pikir saya dan kakak saya bisa pacaran dengan pulang pergi sebebasnya, karena ibu sudah memboikotnya dengan menyediakan ruang tamu untuk pacaran. Dengan kata lain, pacaran harus di rumah. Kalian bisa bayangkan anak sekolah pacaran yang biasanya masih identik dengan malu-malu kucing? Bisa bayangkan jika situasi itu terjadi di ruang tamu atau di teras rumah dimana ada ayah ibu atau tetangga yang lalu lalang. Oh men ‘___’ Ini salah satu bentuk proteksi ibu kepada anaknya terutama putri-putri beliau yang masih belia. Saya sangat menyadari bahwa tidak semua ibu di dunia akan setuju dengan sikap ibu saya. Hal ini disebabkan karena masih banyak orangtua yang berkeyakinan bahwa pacaran dapat menghambat proses belajar anak di sekolah. I have to say that it depends on the child.  Yang penting saya dan kakak masih berprestasi di sekolah, masih bisa mengharumkan nama orang tua dengan tidak pernah tereliminasi dari kelas unggul setiap tahunnya. Justru saat itu saya sangat bahagia dengan orangtua saya, karena saya tidak perlu merasakan seperti teman-teman lainnya yang harus berpisah dengan sang kekasih ketika sudah berada di ujung gang rumah. Hehehe. Peraturan-peraturan itu juga berlaku untuk kakak saya yang pertama. Sebagai laki-laki yang baru menginjak dewasa (tapi masih SMP sih), ibu sangat memahami bahwa sudah kodratnya sang kakak untuk ingin berkumpul bersama dengan teman-temannya yang lain. Alhasil ibu pasti selalu mengizinkan kakak saya untuk keluar di malam minggu dengan syarat harus pulang sebelum jam 9, jika tidak dipatuhi maka konsekuensinya adalah tidak akan ada jatah untuk keluar di malam minggu berikutnya. Jadi ceritanya pernah ada balada di malam minggu dimana sang kakak pulang lewat dari jam 9. Ibu saya sih masih selow-selow saja, setidaknya pintu masih dibukain kok, tidak harus tidur di teras. Hehehe. Tapi apa yang terjadi di malam minggu berikutnya? Ibu tetap kekeuh tidak mengizinkan kakak saya untuk keluar di malam minggu meskipun sudah nangis-nangis bombay berdarah dengan suara yang sudah mulai berubah menjadi bass. Yang namanya peraturan tetap peraturan sekalipun saya tahu bahwa setiap orangtua tidak akan pernah tega membiarkan anaknya seperti itu. Tapi ibu hanya butuh waktu satu kali untuk memgukuhkan hati dan mengajari tentang hal kedisplinan karena di malam-malam minggu berikutnya kakak saya selalu pulang ke rumah dengan sesak nafas ngos-ngosan sebelum jam 9. Keren kan? Iya donk, ibu saya. Hehehe.

5.       ‘BARU’ di tahun pelajaran BARU
Ya, ini adalah satu hal yang paling ditunggu-tunggu di setiap tahunnya. Ibu dan ayah sangat mengapreasiasi prestasi belajar setiap anak-anaknya. If I am not mistaken, angka-angka 9 di rapor akan dibeli oleh orangtua kami. Kami tidak diajarkan untuk matre loh ya, tapi uang memang selalu menjadi senjata ampuh untuk memboost spirit anak-anak (mungkin orang dewasa masih setuju dengan pendapat saya ini? :p) . Selain itu, sebagai bentuk apresiasi, ibu (tentunya dengan duit ibu + duit ayah) akan mengajak anak-anaknya ke ibukota Provinsi yaitu Padang (berhubung kami tinggal di kota Painan yang berjarak kurang lebih 77 km dari Padang) untuk membeli segala bentuk perlengkapan sekolah. Jadi setiap tahun pelajaran baru kami tidak pernah absen mengunjungi toko buku GRAMEDIA. Sebebasnya anak-anak diperbolehkan untuk memilih buku cerita, buku pelajaran, tempat pensil, pensil, pena penghapus, rautan, spidol, penggaris, tipe-X, dll. Toko buku ini berasa milik sendiri kali ya? Tinggal comot dan bayar. Wwkwkwk. Tidak lupa, ibu juga membelikan kami seragam, tas, sepatu, beserta sejumlah peralatan tetek bengek lainnya. Rutinitas ini selalu menjadi tradisi setiap tahun sedari kami SD sampai SMA. Punya buku warna warni? Pastinya. Punya banyak tas? Iya. Sepatu? Alhamdulillah. Saya sadar ini merupakan salah satu bentuk perhatian ibu kepada anak-anaknya. Dan saya yakin cara ini sangat ampuh untuk meningkatkan motivasi anak di awal tahun pelajaran sekolah. Ibu sering bercerita bahwa  biasanya seminggu sebelum sekolah, kami bertiga sudah sibuk dengan membungkus-bungkus buku pelajaran dan buku catatan sekolah sembari menggunakan seragam beserta tas dan sepatu baru. Aduh, udah nggak sabar pengen sekolahhhh mennn. Hahahaha.

6.       GAJIAN per bulan
Sejak kecil setiap bulannya saya selalu merasa seperti seorang pegawai. Bagaimana tidak, di awal bulan ibu akan memberikan amplop kepada masing-masing anakberisi sejumlah uang jajan yang diperlukan dalam satu bulan. Ini sudah berlaku ketika saya duduk di kelas 1 SD. Untuk melatih kesiplinan sedari kecil, ibu berinisiatif untuk tidak memberikan jajan perhari setiap pagi. You should believe in me, it is really hard. Anak kelas satu SD harus mengatur jajan selama sebulan sendiri?Yes, it is a must.Saya adalah satu-satunya anak yang sering kebablasan, saya sering berfoya-berfoya di awal bulan dan merana-rana di akhir bulan. Jajan selalu menjadi tidak cukup dan menjadi momok yang mengerikan di akhir bulan, guys. Pastinya ibu memiliki solusi dengan memberikan sejumlah uang yang diperlukan, namun dengan status PINJAMAN, jadi saya harus siap-siap mengembalikan di bulan berikutnya sewaktu gajian. Ya, ini salah satu bentuk kedisplinan dan keadilan yang diberikan ibu kepada anaknya. UANG JAJAN ANAK SAMARATA. Jangan harap ketika uang jajan habis dari ibu, saya bisa merengek-rengek minta tambahan jajan ke ayah. Jawabannya NOPE. Kebetulan dalam keluarga saya, masalah uang sepenuhnya diatur oleh ibu. Jadi jangan harap ayah akan kasihan, karena ibu dan ayah sangat kompak dalam masalah ini.Konspirasi yang sempurna. Hmm, baiklah.

Okeee, sekian dulu cerita malaikat tanpa sayap yang saya tulis hari ini yaa. Sebenernya masih ada beberapa poin lagi sih bagaimana cara ibu mendidik kami hingga kami bisa dikatakan berhasil seperti ini *uhuk. Tapi saya keep dulu di postingan berikutnya ya, biar lebih penasaran sama ibu saya hahaha. Terimakasih yang sudah mampir :)

Sudah tau kan kira-kira saya yang mana? Hehehe






REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA PEREMPUAN DALAM PEPATAH ADAT MINANGKABAU

Posted by Retya Elsivia at 7:03 PM
REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA PEREMPUAN
DALAM PEPATAH ADAT MINANGKABAU
Oleh : Retya Elsivia


1.      PENDAHULUAN
Minangkabau adalah salah satu suku terbesar yang memiliki sejumlah perbedaan dengan masyarakat adat lain di Nusantara. Salah satu perbedaannya terlihat pada sistem kekerabatan yang menganut paham matrilineal atau sistem kekerabatan berdasarkan perempuan atau ibu. Ketika seorang anak dilahirkan, baik laki-laki ataupun perempuan akan mempunyai suku yang sama dengan ibunya. Dalam budaya adat Minangkabau, perempuan memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting bagi kaumnya. Perempuan diibaratkan seperti tiang nagari atau di dalam pepatah adat Minangkabau disebutkan bahwa perempuan adalah limpapeh rumah nan gadang, ini memiliki arti bahwa jika perempuan itu rusak maka rusaklah semua nagari atau negerinya.
Banyak pepatah atau ungkapan yang melambangkan tingginya peran dan kedudukan perempuan di Minangkabau. Pepatah adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua-tua (KBBI, 2008: 1049). Satu satu pepatah tersebut berhubungan dengan fungsi dan peranan perempuan. Di Minangkabau perempuan adalah wanita sejati dan wanita pilihan yang sering disebut dengan bundo kanduang. Bundo kanduang merupakan sebuah lambang kehormatan dan kemuliaan yang diberikan kepada perempuan dewasa atau kaum ibu dalam suatu kaum. Perempuan yang disebut sebagai bundo kanduang harus memiliki budi pekerti yang baik, arif bijaksana, taat beragama, mampu memahami adat yang berlaku dan menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakatnya.
Dalam budaya Minangkabau, banyak pepatah yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat cenderung menggunakan tuturan tidak langsung atau bahasa kias seperti metafora dengan membandingkan sesuatu untuk mengasosiasikan dua hal. Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan (Kridalaksana, 2008: 152). Perangkat metafora dalam pepatah adat Minangkabau sangat terikat oleh budaya karena berisi pesan-pesan atau nilai-nilai tertentu yang dijadikan sebagai pedoman berprilaku dalam kehidupan masyarakat dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Gunarwan (2004: 11) nilai adalah aspek budaya yang paling dalam tertanam. Pepatah yang mengandung nilai-nilai hidup bermasyarakat tersebut menggambarkan bagaimana cara pandang suatu masyarakat dan itu akan menjadi identitas kelompoknya. Sehingga penelitian etnografi dalam bidang pemahaman budaya yang tercermin pada metafora-metafora dalam pepatah Minangkabau penting dilakukan dalam kaitannya dengan pemahaman filosofi dan nilai-nilai budaya lokal. 
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka pokok permasalahan yang akan dibahasa dalam penelitian ini adalah (1) apa saja metafora-metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah adat Minangkabau? (2) nilai-nilai budaya apa yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan?
Penelitian mengenai peribahasa telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Ada beberapa penelitian terdahulu yang mengilhami penelitian ini, diantaranya yang dilakukan oleh Gusna Ronsi (2011), Oktavianus (2013), dan Siska Rambitan dan Nova Mandolang (2014). Penelitian yang berjudul Citra Perempuan dalam Budaya Minangkabau oleh Gusna Ronsi bertujuan untuk menggali bagaimanan citra perempuan di Minangkabau yang diambil dari beberapa bentuk peribahasa seperti mamang, gurindam, pepatah-pepitih, dan seloka. Dalam penelitian ini ditemukan citra perempuan Minangkabau sebagai seorang yang tegas dan lembut, sopan santun, teguh pendirian, arif dan bijaksana, rajin dan ulet serta waspada. Penelitian Oktavianus dalam Semangat Profesionalisme dalam Peribahasa Minangkabau menganalisis tentang peribahasa Minangkabau yang mengandung nilai-nilai yang mendorong munculnya semangat profesionalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peribahasa Minangkabau mengandung nilai-nilai yang dapat mendorong masyarakat Minangkabau untuk memelihara tindakan, kebiasaan, perilaku dan sikap profesional dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, dari pencermatan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam peribahasa Minangkabau, seseorang yang profesional dalam melakukan profesinya adalah orang yang ahli di bidangnya, santun, waspada, hati-hati/cermat, berjiwa solidaritas, proporsional, inovatif, mudah beradaptasi, dinamis, bijaksana, adil, bertanggung jawab, rendah hati, teguh pendirian, dan mampu memberdayakan segala sesuatu sesuai dengan kapasitasnya. Penelitian selanjutnya adalah Ungkapan dan Peribahasa Bahasa Mongondow oleh Siska Rambitan dan Nova Mandolang yang membahas struktur dan fungsi ungkapan dan peribahasa bahasa Mongondow dan menganalisis nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa struktur ungkapan dan peribahasa terdiri atas frase nomina, frase verbal, frase ajektiva, frase numeral, klausa bebas dan klausa terikat, kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Fungsi ungkapan untuk menyatakan sifat atau perilaku seseorang yang baik dan tidak baik sedangkan peribahasa sebagai nasehat, peringatan, dan sindiran. Selain itu, nilai budaya yang terkandung dalam ungkapan menggambarkan nilai kebersamaan dan kerjasama, nilai keteladanan, dan nilai kesabaran, sedangkan dalam peribahasa nilai budaya yang terkandung ialah nilai kerjasama dalam suatu komunitas, nilai kerja keras dan pantang menyerah, nilai keteladanan, nilai kesabaran dan ketekunan, dan nilai keimanan yang tinggi terhadap Tuhan.
Masyarakat Minangkabau merupakan penutur bahasa yang banyak menggunakan pepatah atau cenderung bertutur secara tidak langsung untuk mengungkapakan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Errington (dalam Oktavianus 2006: 74) yang mengatakan bahwa salah satu ciri-ciri orang Minangkabau adalah mereka tidak berterus terang. Dari penjelasan di atas dapat terlihat bahwa masyarakat Minangkabau cenderung menggunakan tuturan yang mengandung makna implisit di dalamnya atau sering disebut dengan bahasa kias. Salah satu bentuk bahasa kiasan adalah metafora yaitu ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung dari lambang yang dipakai, melainkan dari prediksi yang dapat dipakai baik oleh lambang maupun oleh makna yang dimaksudkan dalam ungkapan itu (Wahab, 1991: 87). Menurut Grothe (2008: 9), hakekat dari metafora adalah untuk menjadikan sebuah kata memiliki makna di luar dari makna aslinya (harfiahnya) dengan cara menggunakan kata tersebut untuk merujuk sesuatu yang lain. Metafora memiliki tiga elemen pokok, antara lain:
1.      Pebanding (tenor atau target domain) adalah konsep, obyek yang dideskripsikan, dibicarakan, dikiaskan, dilambangkan, dan dibandingkan.
2.      Pembanding (vehicle atau source domain) adalah konsep yang mendeskripsikan atau mengkiaskan atau melambangkan tenor atau target domain.
3.      Persamaan antara pebanding dan pembanding (ground atau sense) adalah relasi persamaan antara target domain dan source domain. Relasi persamaan ini dapat bersifat obyektif: bentuk, tempat, sifat atau kombinasi diantaranya serta persamaan emotif, konsep, fungsi, dan sosial budaya (Taylor, 2003: 135).
Dalam penciptaan metafora, bahasa yang digunakan tergantung pada lingkungan sosial dan budaya. Sehingga Haley (1980: 155-159) membagi metafora yang terdiri dari sembilan jenis berdasarkan medan semantiknya, yaitu:
a.       Metafora ke-ada-an (being) yaitu metafora yang meliputi hal-hal abstrak seperti kebenaran dan kasih.
b.      Metafora kosmos (cosmos) yaitu metafora yang meliputi benda-benda kosmos misalnya matahari dan bulan.
c.       Metafora tenaga (energy) yaitu metafora dengan medan semantik hal-hal yang memiliki kekuatan, misalnya angin, cahaya, api, dengan prediksi dapat bergerak.
d.      Metafora substansi (substance) yaitu metafora yang meliputi macam-macam gas dengan prediksinya dapat memberikan kelembaban, bau, tekanan dan sebagainya.
e.       Metafora permukaan bumi (terrestrial) yaitu metafora yang meliputi hal-hal yang terikat atau terbentang di permukaan bumi misalnya sungai, laut, gunung dan sebagainya.
f.       Metafora benda mati (object) adalah metafora yang meliputi benda-benda yang tak bernyawa misalnya meja, buku, kursi, gelas dan sebagainya yang bisa hancur dan pecah.
g.      Metafora tumbuhan (living) yaitu metafora yang berhubungan dengan seluruh jenis tumbuh-tumbuhan (flora) seperti daun, sagu, padi dan sebagainya.
h.      Metafora binatang (animate) adalah metafora yang berhubungan dengan makhluk organism yang dapat berjalan, berlari, terbang dan sebagainya misalnya seperti kuda.
i.        Metafora manusia (human) adalah metafora yang berhubungan dengan makhluk yang dapat berpikir dan mempunyai akal.
Penggunaan metafora dalam pepatah atau bahasa kias tidak dapat dipisahkan dari latar belakang budaya masyarakat. Terdapat hubungan yang sangat erat antara bahasa dan budaya karena bahasa mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat pemilik bahasa. Kebudayaan suatu masyarakat tidak dapat dipahami sebelum seseorang mampu mempelajari bahasanya dan begitupun sebaliknya. Duranti (1997: 25) menyatakan bahasa mengkategorisasikan realitas budaya, yaitu bagaimana melihat budaya suatu etnis dari cara bahasanya. Pandangan itu diikuti oleh Oktavianus (2006: 118) yang mengatakan bahwa nilai budaya yang dimiliki suatu etnis, dapat ditelusuri melalui berbagai bentuk lingualnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa kajian terhadap bahasa berhubungan erat dengan latar budaya yang mengelilinginya.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tulisan yang diambil dari buku Kato Pusako: Papatah, Patitih, Mamang, Pantun, Ajaran dan Filsafat Minangkabau (1999) yang memuat pepatah adat tentang perempuan di Minangkabau. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Pada penelitian kualitatif, data yang terkumpul umumnya kata-kata, gambar-gambar, dan kebanyakan bukan angka-angka (Danim, 2002: 61).
Untuk mendapatkan hasil analisis data yang baik dilakukan sejumlah tahapan. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah (1) pengalihbahasaan pepatah adat yang berhubungan dengan perempuan dari bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia, (2) mencari bahasa figuratif dalam pepatah yang berupa metafora, (3) menentukan bentuk dan jenis metafora, (4) menentukan makna yang terkandung dalam metafora yang berhubungan dengan perempuan, dan (5) menentukan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan.

II.      PEMBAHASAN
Berikut adalah penjabaran metafora-metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah adat Minangkabau.
a.      Metafora Manusia.
Metafora manusia adalah makhluk yang berpikir atau memiliki dan mengunakan intelektualitasnya seperti manusia. Dalam konsep ini, termasuk pula dalam kategori metafora manusia adalah tindakan dan hal-hal yang hanya mungkin dilakukan oleh manusia dan tidak mungkin oleh makhluk lain, seperti berpikir, bermimpi, berbicara dan sebagainya. Contohnya dalam pepatah adat Minangkabau adalah:
(1)   Amban puruak pagangan kunci
‘bendahara pegangan kunci’
Metafora dengan lambang kias amban puruak dari data (1) mengandung arti bahwa perempuan di Minangkabau berperan sebagai bendahara dalam kaumnya, ia yang akan mengatur tentang keuangan dan segala pengeluaran dalam keluarga. Tiga elemen yang terkandung dalam metafora adalah pebanding, pembanding, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding. Pebanding yang ada adalah perempuan dan pembandingnya adalah amban puruak atau bendahara. Relasi persamaan antara perempuan dan amban puruak adalah persamaan posisi yaitu menjadi bagian penting dari suatu masyarakat Minangkabau. Sebagai masyarakat penganut sistem matrilineal, perempuan Minangkabau memegang peranan dalam perekenomian keluarga dan kaum serta dipercayakan untuk memegang dan menyimpan hasil sawah dan ladang. Oleh karena itu, perempuan berkuasa atas harta benda milik kaum dan bertugas untuk memelihara keberlangsungan harta warisan tersebut agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya.

No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Amban puruak
1
Hidup
+
-
2
Secara fisik
+
-
3
Berfungsi sebagai pengatur ekonomi
+
+
4
Memiliki kekuasaan
+
+
5
Dilakukan manusia
-
+
6
Termasuk bagian penting
+
+
Metafora selanjutnya dapat dilihat dalam data.
(2)   Auih tampek minta aie
‘haus tempat minta nasi’
Lapa tampek minta nasi
‘lapar tempat minta nasi’
Dari contoh metafora di atas, tampek minta aie jo nasi adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh manusia untuk orang yang kelaparan dan kehausan dan ini adalah unsur pembanding dari metafora di atas, sedangkan pebandingnya adalah perempuan. Relasi persamaan antara perempuan dan tampek minta nasi jo aia adalah persamaan fungsi yaitu sebagai suatu bagian yang dapat menampung tersedianya makanan dan minuman. Sesuai kodratnya, wanita memiliki tanggung jawab dalam urusan dapur dan ia mengatur segala hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman keluarga dan kaum. Dalam adat Minangkabau, rumah perempuan atau wanita yang telah berkeluarga akan menjadi tempat meminta makan bagi keluarga besarnya terutama saudara laki-laki yang belum berumah tangga.  
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Tampek mintak aia jo nasi
1
Hidup
+
-
2
Secara fisik
+
+
3
Memiliki lokasi atau tempat
-
+
4
Memiliki kekuasaan
+
+
5
Dilakukan oleh manusia
-
+
6
Termasuk bagian penting
+
+
7
Memberikan sesuatu
+
+

b.      Metafora Binatang
Metfaora binatang yaitu semua makhluk atau organism yang dapat berjalan, berlari dan sebagainya selain manusia. Sebagai contoh adalah kuda, merpati, dan sebagainya. Termasuk di dalam kategori ini adalah sesuatu yang dapat hidup dan berkembang, yang tidak bersifat manusiawi. Berikut adalah contoh metafora yang berkategori binatang:
(3)   limpapeh rumah nan gadang
‘kupu-kupu di rumah yang besar’
Metafora pada contoh di atas adalah limpapeh yaitu sejenis kupu-kupu yang bewarna tidak terlalu mencolok. Analisis metafora yang dapat dilakukan dari pepatah di atas didasarkan pada tiga elemen pokok metafora. Dari data (3) dapat dilihat bahwa pebanding yang ada adalah perempuan, sedangkan pembandingnya adalah limpapeh. Seperti halnya kupu-kupu pada umumnya, limpapeh memiliki bentuk sayap yang indah tetapi lemah, terbang tidak terlalu tinggi dan hinggap dimana saja terutama pada saat bunga-bunga bermekaran. Relasi persamaan antara perempuan dan limpapeh adalah persamaan bentuk yang indah. Selain itu, layaknya limpapeh perempuan Minangkabau memiliki kekuasaan untuk mengitari rumah agar dapat melihat dan memperhatikan orang-orang disekelilingnya terutama anak dan kemenakan. Ia menjadi pemilik dan penguasa rumah kaumnya atau rumah gadang. Sebagai penganut sistem matrilineal, orang tua di Minangkabau akan merasa puas jika ia mampu meninggalkan warisan berupa rumah gadang atau membangun rumah untuk anak perempuannya.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Limpapeh
1
Hewan
-
+
2
Memiliki sayap
-
+
3
Memiliki kekuasaan
+
+
4
Hidup
+
-
5
Bentuk yang indah
+
+
6
Dapat terbang
-
+
7
Bergerak bebas atau mengitari
+
+

c.       Metafora Benda Mati
Metafora benda mati (object) adalah metafora yang meliputi benda-benda yang tak bernyawa misalnya meja, buku, kursi, gelas dan sebagainya yang bisa hancur dan pecah. Contohnya sebagai berikut:
(4)   Kaunduang-unduang ka Madinah
‘penutup kepala ke Madinah’
Ka payuang panji ka Sarugo
‘menjadi payung ke surga’
Metafora pada contoh di atas menggunakan benda mati yaitu unduang-unduang dan payuang. Pepatah (4) dapat dianalisis dengan menggunakan elemen metafora. Pebanding yang dinyatakan adalah perempuan dan pembandingnya adalah unduang-unduang (penutup kepala) dan payuang (payung). Selanjutnya relasi persamaan yang terdapat antara perempuan dengan unduang-unduang dan payuang adalah persamaan peran yaitu melindungi sesuatu yang penting. Penutup kepala atau payung berfungsi untuk menutup atau melindungi badan dari panas dan hujan, sedangkan perempuan Minangkabau berperan dalam melindungi keluarga dan kaumnya. Perempuan diibaratkan seperti pelindung kepala atau payung yang merupakan lambang kemuliaan, keamanan dan kesejahteraan. Di Minangkabau, perempuan berperan sebagai pelindung dan penjaga anggota keluarga, suku atau kaum dari perbuatan orang lain yang bertentangan dengan nilai adat dan agama serta memayungi mereka agar tetap berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam yang berlaku.   
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Unduang-unduang & Payuang
1
Benda
-
+
2
Berwujud
+
+
3
Untuk melindungi dari sesuatu
+
+
4
Sebagai tempat bernaung makhluk lainnya
+
+
5
Hidup
+
-
6
Berfungsi sebagai alat
-
+
Metafora berikutnya adalah:
(5)   Pusek jalo kumpulan tali
‘pusat jala ikatan tali’
Metafora pusek jalo beranologi dengan peran dan kedudukan perempuan sebagai pusat dari semuanya. Pepatah di atas memiliki tiga elemen pokok, yaitu pebandingnya perempuan, pembandingnya pusek jalo atau pusat jala, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding adalah persamaan kedudukan dan fungsi yaitu bagian sentral dalam kehidupan.  Perempuan memiliki posisi sentral sebagai pengatur rumah tangga, apakah itu sebagai istri, sebagai ibu, sebagai anggota masyarakat dan lain sebagainya. Sebagai seorang istri, ia harus mampu melayani suami secara lahir dan bathin serta menjadi teman hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagai seorang ibu, ia bertanggungjawab menentukan keberhasilan seorang anak di masa depan. Perempuan Minangkabau harus mempunyai ilmu pengetahuan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar serta mengajarinya budi pekerti yang luhur. Peranan perempuan sebagai pengatur rumah tangga sangat menentukan bagaimana baik buruknya suatu keluarga atau kaum.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Pusek Jalo
1
Benda
-
+
2
Berwujud
+
+
3
Berfungsi sebagai pusat atau sentral
+
+
4
Sebagai tempat bernaung makhluk atau benda lainnya
+
+
5
Hidup
+
-
6
Dapat diandalkan
+
+
7
Termasuk bagian penting
+
+

d.      Metafora Tenaga
Metafora tenaga memiliki kekuatan, membutuhkan ruang dan bergerak termasuk di dalamnya adalah, angin, api, panas, cahaya, sebagai sesuatu yang ada. Contohnya sebagai berikut:
(6)   Nan gadang basa batuah
‘yang besar serta bertuah’
Metafora pada contoh di atas dilambangkan dengan gadang basa batuah yang interpretasi maknanya adalah perempuan sebagai sosok yang besar dan bertuah. Sebagaimana metafora sebelumnya, dalam analisis metaforisnya terdapat tiga elemen pokok yang harus diperhatikan, yaitu pebanding, pembanding, dan relasi persamaan antara pebanding dan pembanding. Pebanding dalam data adalah perempuan sedangkan pembandingnya adalah gadang basa batuah atau besar bertuah. Persamaan yang dapat ditarik antara perempuan dan gadang basa batuah adalah persamaan konsep yaitu disegani dan dihormati. Berbeda dengan masyarakat adat lain, perempuan di Minangkabau ditinggikan dan ia juga memiliki hak suara yang sama dengan laki-laki dalam musyawarah. Misalnya upacara pernikahan yang tidak dapat dilaksanakan tanpa disetujui oleh kaum wanita atau ibu. Dalam adat Minangkabau, segala sesuatu yang akan dilaksanakan oleh kaum atau suku harus melalui musyawarah mufakat. Oleh karena perempuan memiliki tuah, maka pendapat atau suaranya juga ikut menentukan dalam pengambilan keputusan.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Gadang Basa Batuah
1
Hal konkret
+
-
2
Hal abstrak
-
+
3
Besar
-
+
4
Memiliki kekuatan
+
+
5
Dimuliakan
+
+
6
Berkenaan dengan kedudukan
-
+
   
e.       Metafora Ke-ada-an
Metafora ke-ada-an mencakup pengalaman manusia yang abstrak dan bersifat ada awalaupun tak dapat dihayati langsung oleh indera manusia, seperti: senja, pagi, dingin, kasih, cinta, gelap, dan sebagainya. Dalam pepatah adat Minangkabau ditemukan metafora yang berkategori sebagai berikut:
(7)   sumarak di dalam kampuang
‘semarak di dalam kampung’
Konsep metafora semarak adalah sesuatu yang ada namum tak nampak. Kata tersebut terkait dengan makna: indah, meriah, ramai, berseri, megah dan terlihat ada pandangan cerah. Ia merupakan lambang kias yang harus diinterpretasikan maknanya. Analisis metafora yang dapat dilakukan pada pepatah di atas didasarkan pada tiga elemen pokok metafora. Pebanding yang ada adalah perempuan, sedangkan pembandingnya adalah sumarak. Relasi persamaan antara perempuan dengan sumarak adalah persamaan konsep yaitu simbol kemuliaan dan keelokan. Perempuan dianggap penyemarak dalam kaumnya. Mengingat pentingnya fungsi dan kedudukan perempuan di Minangkabau, kehadiran seorang anak perempuan sangat dinantikan dalam suatu keluarga. Jika suatu keluarga, tidak mempunyai anak kemenakan/keturunan yang wanita, maka akan dianggap habis keturunan kaumnya. Perempuan Minangkabau tidak hanya menjadi hiasan dari segi fisik saja tapi ia juga harus memahami ketentuan adat yang berlaku, menggunakan rasa malu dan sopan dalam berpakaian dan bergaul dengan siapapun. Dalam Minangkabau, keindahan seorang perempuan memiliki pengaruh kepada kampung atau nagari. Jika keindahan perempuan tersebut tidak dapat dijaga dengan perilaku yang baik, maka akan hancur pandangan masyarakat terhadap kaumnya.
No
Pembanding
Terbanding
Perempuan
Semarak
1
Bersifat abstrak
-
+
2
Bersifat konkret
+
-
3
Berseri
+
+
4
Lambang kemegahan
+
+
5
Dapat hancur atau rusak
+
+
6
Berfungsi sebagai hiasan
+
+

2.2 Nilai-nilai Budaya Perempuan Minangkabau
Banyak pepatah Minangkabau yang menggambarkan tentang kedudukan dan peran perempuan dalam masyarakat. Pepatah tersebut mengandung nilai-nilai budaya yang berbentuk nasihat, norma atau prinsip sebagai suruhan, anjuran ataupun larangan. Penjabaran pepatah yang mengandung nilai-nilai budaya untuk perempuan dapat dilihat sebagai berikut:

a.      Nilai Sopan Santun
Sikap sopan santun adalah sikap yang mutlak harus ada pada setiap perempuan Minangkabau. Sebagai panutan dalam kaumnya, perempuan harus memiliki sifat yang mampu menyegani dan menghargai orang lain. Sopan santun ini sangat diperlukan agar perempuan tahu bagaimana cara menempatkan diri diberbagai kehidupan. Hal ini dilakukan untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan antar sesama manusia. Nilai sopan santun tersebut dapat kita cermati pada pepatah di bawah ini:
Tapakai taratik jo sopan
            ‘terpakai tertib dan sopan’
Mamakai baso jo basi
‘memakai basa dan basi’
Adat Minangkabau mengharuskan perempuan mengunakan tata-tertib dan sopan dalam pergaulan, memakai basa-basi, dan peka akan perasaan orang lain agar tidak menyinggung dan menyakitinya. Salah satunya adat mengajarkan perempuan selalu berhati-hati dalam berbicara, seperti pepatah di bawah ini:
muluik manih baso katuju
‘mulut manis bahasa disenangi’
kato baiak kucindam murah
‘berkata baik pandai bergurau’
Pepatah tersebut mengandung arti bahwa perempuan Minangkabau dapat bertutur kata yang halus dan tidak menyakiti orang lain. Kucindam murah atau pandai bergurau yang dimaksud di atas adalah perempuan di Minangkabau juga harus memiliki rasa humor dan tidak harus kaku dalam bergaul. Ia harus pandai bergaul dengan siapapun dan mampu menempatkan diri dengan orang yang lebih tua, sama besar atau yang lebih kecil. Pepatah lain mengatakan bahwa perempuan Minangkabau:
Pandai bagaua samo gadang
‘pandai bergaul sesama besar’
Hormat kapado ibuk bapak
‘hormat kepada ibuk bapak’
Hidmat kapado urang tuo-tuo
‘khidmat kepada orang tua-tua’
Dari pepatah di atas terlihat jelas bahwa sikap sopan santun dan saling menghormati sangat dituntut tidak hanya pada orang yang lebih tua dan ibu bapak tetapi juga kepada orang yang sesama besar.

b.      Nilai Keimanan yang Tinggi Terhadap Tuhan
Masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu landasan hidup orang Mianngkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘Adat Bersendikan Syariat, Syariat Bersendikan Kitab Allah'. Maksudnya ialah aturan-aturan adat Minangkabau didasarkan oleh syariat agama Islam dan syariat tersebut berdasarkan pada Al-Quran dan Hadist. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai budaya yang dituntut ada pada setiap perempuan Minangkabau seperti pepatah berikut ini:
Takuik kapado Allah
‘takut kepada Allah’
Manuruik parentah Rasul
‘menuruti perintah Rasul’
Pepatah ini menyatakan bahwa perempuan Minangkabau harus selalu mematuhi ajaran agama Islam atas apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Sang Pencipta. Perempuan hendaknya selalu menjaga diri dan memelihara kehormatan, salah satunya melalui cara berbusana yang sesuai dengan aturan-aturan menurut adat. Selain itu dengan patuh terhadap nilai-nilai agama akan membuat perempuan kelak mampu menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anaknya karena ia akan membekali ilmu dan mengajarkan perkataan yang benar sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW.

c.       Nilai Pertanggungjawaban
Perempuan Minangkabau harus memenuhi segala kewajiban yang diberikan dengan rasa penuh tanggung jawab. Hal ini tergambar dalam pepatah:
Tahu dikorong jo kampuang
‘tahu akan korong dan kampung’
Tahu dirumah jo tanggo
‘tahu akan rumah tangga’
Maksud pepatah di atas adalah perempuan Minangkabau memiliki peranan besar dalam rumah adat kaumnya dan rumah tangga keluarganya. Perempuan senantiasa untuk peduli kampung halaman dan menjaganya dari aturan-aturan yang tidak sesuai dengan adat istiadat. Secara kodratnya, perempuan juga bertanggungjawab akan rumah tangganya untuk mengurus suami dan anak-anaknya dengan baik. Sesuai dengan kefitrahannya, perempuan lebih cenderung menggunakan perasaan sehingga ini mendukung peran dan tanggungjawabnya yang menuntut ketelitian dan kesabaran.

d.      Nilai Kearifan dan Kebijaksanaan
Adat Minangkabau menuntut setiap anggota masyarakatnya termasuk perempuan agar dapat bersikap arif dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang arif dan bijaksana adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain serta menempatkan diri secara benar dalam keadaan apapun tanpa ada pihak lain yang merasa dirugikan. Salah satu pepatah adat Minangkabau mengatakan bahwa perempuan:
Tahu dimungkin jo patuik
‘tahu dengan mungkin dan patut’
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’
Pepatah di atas menggambarkan sikap arif dan bijaksana perempuan Minangkabau dengan tahu dimungkin jo patuik. Maksudnya adalah jika dalam melihat suatu permasalahan, perempuan Minangkabau harus pandai meletakkan masalah secara benar dan patut. Hal ini tidak boleh hanya didasarkan pada ketentuan mungkin atau tidak mungkin namun juga harus menimbang kepatutan yaitu pantas atau tidak pantasnya. Hal ini sejalan dengan pepatah berikutnya, perempuan Minangkabau itu harus dapat malatakkan sasuatu pado tampaiknyo ‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’ dalam memutuskan sebuah permasalahan sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu pekerjaan yang dilakukan oleh wanita seharusnya diukur oleh patut dan mungkin. Sikap arif dan bijaksana ini harus diusahakan dalam proses hidup bermasyarakat untuk keadaan yang lebih baik.

e.       Nilai Keteladanan
Dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, perempuan Minangkabau senantiasa melakukan hal-hal yang terbaik dan mampu menjadi teladan bagi orang-orang sekelilingnya. Hal ini tergambar dalam pepatah Minangkabau berikut ini:
Bayang-bayang sapajang badan
‘bayang-bayang sepanjang badan’
Buliah ditiru dituladan
‘boleh ditiru ditauladan’
Pepatah di atas menjelaskan bahwa perempuan Minangkabau berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri dan tepat benar sesuai keadaannya. Ia harus mampu mengukur dirinya sehingga beban yang dipikul tidak melebihi kekuatan yang dimiliki. Hal ini disebabkan karena perempuan Minangkabau akan ditiru dan menjadi tauladan bagi orang sekitarnya sehingga ia harus mampu menjadi contoh yang baik.

f.       Nilai Teguh Pendirian
Orang yang disebut teguh pendirian adalah orang yang memiliki pendapat yang tidak mudah berubah. Dalam menghadapi pengaruh yang datang dari luar, perempuan Minangkabau harus memegang teguh apa yang menjadi pendapatnya dan memegang prinsip tanpa menghilangkan nilai-nilai yang tertanam di masyarakat. Niali yang mengandung teguh pendirian bisa tercermin dalam pepatah di bawah ini:
Maha tak dapek dibali
‘mahal tidak dapat dibeli’
Murah tak dapek dimintak
‘murah tidak dapat diminta’
Pepatah di atas menjelaskan bahwa perempuan Minangkabau mahalnya tidak dapat dibeli dan murahnya tidak dapat diminta. Ini merupakan cerminan dari sikap keteguhan diri dalam kondisi bagaimanapun, perempuan Minangkabau tidak mudah terbawa dengan arus zaman, ia harus dapat menyesuaikan diri dan berbaur dengan suasana yang ada.

g.      Nilai Kesabaran dan Ketekunan
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai kesabaran dan ketekunan sangat diperlukan untuk hidup yang lebih baik. Sebagai perempuan Minangkabau, sikap sabar dan tekun merupakan sikap positif yang harus dimiliki untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Hal ini tergambar dalam pepatah yang mengatakan
Satitiak buliah dilauikkan
‘setitik boleh di lautkan’
Sakapa dapek digunuangkan
‘sekapal dapat digunungkan’
Pepatah di atas mengandung makna bahwa sesuatu yang diperoleh memlaui proses belajar dan dengan jerih payah sendiri hendaknya dijadikan bekal untuk belajar lebih lanjut dan mendalam lagi. Hal ini sama seperti ilmu yaitu apa yang didapat hari ini sebaiknya terus dikembangkan dengan tekun dan sungguh-sungguh. Masyarakat Minangkabau meyakini bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan sikap sabar dan tekun akan membawa kita untuk dapat menikmati hidup yang berkelimpahan. Oleh sebab itu, nilai kesabaran dan ketekunan dianggap penting bagi perempuan Minangkabau dalam bekerja dan berusaha dalam bidang apapun.

III.   PENUTUP
Dalam budaya Minangkabau, perempuan adalah sosok sentral atau pusat dalam kaumnya. Sebagai penganut paham matrilineal yang meninggikan perempuan, maka banyak pepatah adat Minangkabau yang berhubungan dengan peran dan kedudukan perempuan tersebut. Dalam pepatah tersebut banyak bentuk bahasa figuratif yang ditemukan, salah satunya adalah metafora atau perbandingan dua hal berdasarkan kias atau persamaan. Metafora yang digunakan dalam pepatah Minangkabau merupakan salah satu unsur penting yang digunakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya, adat istiadat, nasihat, pikira, perasaan maupun kebiasaan-kebiasaan lain yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau.
 Dari metafora yang berhubungan dengan perempuan dalam pepatah Minangkabau ditemukan metafora yang terdiri dari jenis berkategori manusia (human), binatang (animate), tenaga (energy), benda mati (object), dan ke-ada-an (being). Pepatah Minangkabau memiliki fungsi dan nilai-nilai budaya yang mengandung ajaran-ajaran moral yang berisi nasihat dan norma. Nilai-nilai yang terkandung dalam pepatah adat Minangkabau yang harusnya dimiliki oleh perempuan Minangkabau adalah nilai sopan santun, nilai keimanan yang tinggi terhadap tuhan, nilai pertanggungjawaban, nilai kearifan dan kebijaksanaan, nilai keteladanan, nilai teguh pendirian, nilai kesabaran dan ketekunan.
Penelitian ini hanya mendeskripsikan metafora dalam pepatah Minangkabau yang berhubungan dengan perempuan berdasarkan klasifikasi medan semantik dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam pepatah tersebut. Oleh karena itu diperlukan penelitian lanjutan mengenai klasifikasi bentuk dan jenis metafora yang lebih luas dan tidak terbatas pada pepatah yang berhubungan dengan perempuan. Sampel yang lebih banyak dan kajian yang lebih mendalam diperlukan agar memperoleh hasil yang lebih maksimal.



DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV Pustaka Setia.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Duranti, Allesandro. 1997. Rangkuman Terjemahan Linguistik Antropologi. Cambridge: University Press.

Grothe, Mardy. 2008. I Never Metaphor I Didn’t Like. A Comprehensive Compilation of History’s Greatest Analogies, Metaphors, and Similes. New York : Harper Collins Publisher.
Gunarwan, Asim. 2004. Pragmatik, Budaya dan Pengajaran Bahasa. Makalah Seminar Nasional Semantik III. Surakarta: UNS.
Haley, Michael C. 1980. ‘Concrete Abstraction : The Linguistics Universe of Metaphor’ dalam Marvin K. Ching dan Michael Haley. 1980. Linguistics Perspectives on Literature. London: Routledge & Kegan Paul.
Indo, Madjo. 1999. Kato Pusako: Papatah, Patitih, Mamang, Pantun, Ajaran dan Filsafat Minangkabau. Jakarta : PT Rora Karya.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University Press.

 

__________. 2013. Semangat Profesionalisme dalam Peribahasa Minangkabau. Padang : Universitas Andalas.

 

Rambitan, Siska dan Nova Mandolang. 2014. Ungkapan dan Peribahasa Bahasa Mongondow. Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum Vol.1, No. 2. 

 

Ronsi, Gusna. 2011. Citra Perempuan dalam Peribahasa Minangkabau. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 6 artikel Vol. 2, No. 1, April 2011.

 

Schon, Donald A. 1981. Generative Metaphor : A Perspective on Problem-Setting in Social Policy, dalam Adrew Ontony, Metaphor and Thought. Cambridge : Cambridge University Press.

  

Taylor, John R. 2003. Linguistics Categorization. United States of America : Oxford University Press Inc New York.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.
Wijana, I Dewa Putu. 2008. Kata-kata Kasar dalam Bahasa Jawa. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora vol 20, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

LAMPIRAN PEPATAH ADAT MINANGKABAU
Sumber : Buku ”Kato Pusako”

BUNDO KANDUANG
Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pagangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek jalo kumpulan tali
Sumarak didalam kampuang
Hiasan dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik
Ka undang-undang ka Madinah
Ka payuang panji ka Sarugo

Limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagari
Hiasan didalam kampuang
Nan tau jo malu dan sopan
Hiasan Kampuang jo halaman
Langkok ka koto jo nagari
Sampai ka balai jo musajik
Panyusun sumarak rumah tanggo
Laku baiek budi baiek
Malu jo sopan tinggi sakali
Baso jo basi dipakaikan
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik
Tiang kokoh budi nan elok
Pasak kunci malu jo sopan
Hiasan dunie jo akiraik
Auih tampek minta aie
Lapa ka tampaek minta nasi

Elok tapian dek nan mudo
Elok Kampuang dek nan tuo
Elok Nagari dek pangulu
Elok musajik dek tuangku
Elok rumah dek bundo kanduang

Muluik manih kucindam murah
Baso baiak gulo di bibie
Muluik manih talempong kato
Sakali rundiang disabuik
takana juo salamonyo

Masaklah buah kacang padi
Dibawok urang katangah pasa
Padi nan masak batangkai-tangkai
Bundo kanduang tuladan budi
Paham nan indak amuah tajua
Budinyo nan indak amuah tagadai

PARAMPUAN
Adapun nan disabuik parampuan
Tapakai taratik jo sopan
Mamakai baso jo basi
Tahu diereang jo gendeang
Mamakai raso jo pariso
Manaruah malu jo sopan
Manjauahi sumbang jo salah
Muluik manih baso katuju
Kato baiak kucindam murah
Baso baiak gulo dibibia
Pandai bagaua samo gadang
Hormat kapado ibu bapak
Hidmat kapado urang tuo tuo
Mamakai di malu samo gadang
Labiah kapado pihak laki laki
Takuik kapado Allah
Manuruik parentah Rasul
Tahu dikorong jo kampuang
Tau dirumah jo tanggo
Tahu manyuri manuladan
Takuik dibudi katajua
Malu dipaham ka tagadai
Manjauahi sumbang jo salah
Tahu dimungkin jo patuik
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
Tahu ditinggi jo randah
Bayang-bayang sapanjang badan
Buliah ditiru dituladan
Ka suri tuladan kain
Kacupak tuladang batuang
Maleleh buliah dipalik
Manitiak buliah ditampuang
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa dapek digunuangkan
Iyo dek urang di nagari



 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea