Well, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu lagi di tulisan saya
kali ini. FYI, ini adalah tulisan kedua saya setelah Malaikat Tanpa Sayap *Part 1 cukup banyak mendapatkan respon positif termasuk dari sang Malaikat Tanpa
Sayap yang hanya bisa mangguk-mangguk mengiyakan (bahkan beliau juga meminta agar
tulisan tersebut dicetak :p) Terimakasih bagi yang sudah membaca dan yang bersedia kembali membaca lanjutannya disini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN
BARU untuk kita semua. Semoga segala resolusi yang telah dituliskan di tahun
2017 berujung menjadi kenyataan. Aamiin. Di awal tahun ini, saya mendapat sebuah
kutipan yang menarik dari @AhmadFauzi dalam Inspirasi
Islami.
Ada dua hal yang membuat kita
hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang.
Buku yang kita baca dan
orang-orang yang kita temui.
Buku yang kita baca akan
membentuk pola pikir kita, orang terdekat kita akan membentuk karakter kita.
Bacalah banyak buku, temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat, orang-orang
yang banyak melakukan perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi.
Sepakat? Okay, let’s start it. Meskipun ini bukan buku, tapi saya
berharap tulisan ini dapat bermanfaat dan mampu menjadi inspirasi :’) Inilah
lanjutan cerita Malaikat Tanpa Sayap saya, so happy reading guys.
7.
Stand
up for Children’s Rights
Hidup jauh dari
ibukota tidak menjadi alasan bagi ibu untuk tidak dapat memenuhi hak
anak-anaknya. Ibu selalu membiasakan kami dengan big city-mindset. Ya
setidaknya jangan sampai bermental kampung*n dan clingak clinguk mendengar
cerita orang tentang kehidupan di kota. Hehehe. Salah satu bentuk kebiasaan
yang diajarkan ibu adalah dengan sering mengajak kami ke kota Padang. Bagi anak
kecil yang datang dari pelosok seperti saya ini saat melihat MATAHARI dan di
dalamnya ada arena bermain TIMEZONE itu rasanyaaaaaa SUPERWOWWWW, membuat hati menolak
untuk pulang. Ya, saya akui ayah dan ibu sering berdebat dalam hal ini. Prinsip
ibu ketika kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Padang baik untuk sekedar
belanja kebutuhan atau liburan sekolah, maka wajib hukumnya bagi setiap anggota
keluarga untuk terpenuhi kepuasannya. Jadi kalau pas jalan pulang itu sama-sama
enak, sama-sama senang dan bahagia gitu loh. Memang sedari
kecil ibu membiasakan kami untuk selalu berbelanja di kota Padang, termasuk untuk
hal kecil sekalipun. Sehingga saya sendiri pun sering bingung ketika ditanyakan
toko baju di kota yang saya tinggali. Bukan sombong loh ya, tapi ini berbicara fakta.
Wkkwkwk. Dengan segala keterbatasan libur yang dimiliki oleh ayah sebagai
seorang abdi negara, lantas tidak mebuat ibu menyerah untuk dapat memenuhi
hak-hak anak dengan semampu yang beliau bisa. Setiap libur sekolah kami selalu
pulang ke kampung halaman di Payakumbuh (I stress the word SELALU). Liburan sekolah menjadi waktu yang sangat dinanti-nantikan karena bisa
bermain di kampung halaman. Saya bisa menjamin bahwa liburan dengan suasana yang berbeda itu mampu menjadi suplemen ampuh penghilang stress. Setuju nggak? Selain itu dengan liburan, anak bisa terlepas dari beban pikiran
belajar selama 3 bulan terakhir (maaf njih, zaman saya SD dulu sistem sekolahnya masih
triwulan, bukan semester kayak sekarang :D). Meskipun di setiap libur sekolah
itulah kami membutuhkan 5 jam perjalanan dari Painan ke Payakumbuh dengan dua
kali mobil bus yang harus berganti di tengah padatnya arus terminal (tapi kalau nggak sibuk, biasanya akan diantar jemput oleh ayah, yaaa kayak ngedrop anak ke sekolahan gitu hahaha). Situasi seperti ini telah berlaku jauh sebelum kami bertiga duduk di bangku sekolah. Hanya
dengan ibu saja? Ya, hanya dengan ibu saja beserta tiga orang anak kecilnya. Satu berada di dalam pangkuan, satu dipegang di sebelah tangan, dan satu lagi
dibiarkan jalan lepas di depan. Bahkan ini juga terjadi pada saat liburan kami
berempat ke tanah Jawa atau ke Pulau Batam. Saya tahu saking susahnya ibu dalam
mengatur tiga orang anak ini, kakak laki-laki saya pernah hilang dari genggaman
ibu ketika berada di kapal penyeberangan Merak-Bekhauni, atau kakak perempuan
saya yang pernah diberi air dan terpaksa dibopong oleh orang lain karena tidak mau bangun saat perjalanan. Yes, that’s
my superwoman J
8.
NO
BREAKFAST = NO SCHOOL
Untuk hal ini
sampai sekarang saya pun masih angkat topi dengan ibu. Mungkin rasa ini tidak
akan pernah hilang sekalipun saya bisa melakukan hal itu nanti. Ibu tidak akan
pernah mengizinkan anaknya untuk keluar rumah tanpa sarapan. Ya, termasuk untuk
sekolah sekalipun. Ibu selalu menyediakan sarapan setiap pagi dengan menu yang berbeda.
Jangan pikir ibu bisa melakukan hal ini karena jam kerja yang lebih longgar
dari jam anak sekolah. Tidak sama sekali. Ibu adalah seorang guru SMA, jadi
kami sekeluarga memiliki jadwal keberangkatan yang nyaris sama di setiap pagi
(read: ayah bukan pergi sekolah, tapi pergi apel pagi yang jadwalnya lebih
cepat dari kami). Entahlah terkadang saya heran jam berapa ibu harus bangun
setiap harinya untuk membuat sarapan ini. Satu hal yang saya tahu, ibu tidak
ingin jika anaknya tidak dapat fokus atau susah berkonsentrasi saat menangkap
pelajaran di sekolah. Dan satu lagi, ibu tidak ingin malu jika anaknya jatuh
pingsan saat pelaksanaan upacara bendera. Kebiasaan ini pun mendarah daging hingga saya tidak lagi tinggal bersama ibu. Sebagai anak kost, saya harus berpikir keras setiap hari makanan apa yang bisa saya makan untuk besok pagi (yes i know it is truly lebay hahaha). Terimakasih ya bu karena sekarang
saya pun tumbuh menjadi anak yang tidak pernah bisa keluar rumah tanpa sarapan
:’)
9.
PENDIDIKAN
adalah HARGA MATI
Dari judulnya
agak ngeri-ngeri sadap ya. Hehehe. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sekarang
kita hidup di zaman pendidikan dimana hal ini yang akan membuat kita dapat bertahan
hidup. Mungkin idealisme seperti inilah yang tertanam dalam pikiran para orang
tua termasuk ibu saya. Jarang sekali kita menemukan anak-anak yang menganggur
selepas masa SMA, ya kalaupun menganggur itu pun bukan keinginan orang tua
mereka, bisa jadi itu adalah faktor X dari si anak. Pendidikan adalah harga
mati. Bisa dibilang itu juga berlaku dalam keluarga saya. Dalam rentang usia
kami yang berselang 5 tahun, ibu pernah serentak menguliahkan 3 orang anaknya
dalam beberapa tahun. Pastinya banyak keringat yang mengucur dan langkah kaki
yang terseok-seok selama itu. Pada saat itu memang belum berlaku sistem UKT untuk pembayaran uang kuliah which means uang kuliah s1 kami masih murah tiga atau empat kali lipatlah dari uang kuliah anak zaman sekarang, tapi yang dipikirkan ibu tidak hanya seputar uang kuliah
yang harus dibayar dalam satu kali enam bulan, masih ada uang kos, uang
jajan, uang buku, uang perlengkapan sehari-hari, dan segala uang-uang lainnya
yang harus diberikan tiap bulan pada masing-masing anak (meskipun saya dan
kakak sering mendapatkan uang ‘cekeran’ dalam bentuk beasiswa prestasi dari
kampus, tapi itu diapresiasi ibu sebagai bonus dan lebih sering kami gunakan untuk menunjang kehidupan tersier, if u know what I means ;p). Semua perjuangan
yang dilakukan ibu itu demi satu kata yang paling sakral, yaitu PENDIDIKAN. Orang
Minang pernah mengatakan indak kayu,
janjang pun den kapiang. Pepatah ini sering kali saya dengar dari ibu.
Maksudnya kurang lebih seperti ini jikapun tidak ada kayu, tanggapun bisa
dipotong-potong agar dapat dijadikan kayu. Jadi tidak ada yang tidak mungkin
dalam pengorbanan seorang ibu dalam memberikan pendidikan yang layak bagi
anak-anaknya. Hal ini jugalah yang berhasil mengantarkan kami bertiga sampai ke
jenjang pendidikan magister. Sumber donaturnya tak lain dan tak bukan pastilah
ibu dan ayah. Meskipun pada awalnya, saya menolak mentah-mentah ‘paksaan’ ibu
untuk lanjut kuliah s2 (karena mimpi-mipi kuliah di luar negeri masih seperti
angin segar tak layu). Saya masih ingat selepas s1 ketika berkas pendaftaran saya untuk
menjadi CPNS dibalas dengan senyuman sungging saking ibu ingin semua anaknya
bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini juga salah satu pesan dari
almarhum kakek kepada ibu yaitu sebisa mungkin anak mendapatkan pendidikan yang
lebih baik dari orang tua. That’s the
point. Selama masa-masa perjuangan ini, ibu sangat banyak take part hingga akhirnya kami bertiga
dapat sampai ke garis finish dan
dengan bangga mengibarkan bendera merdeka. Banyak tantangan? Pasti. Salah
satunya juga terjadi pada kakak laki-laki saya. Ketika itu, usianya sudah 26
tahun dengan status mahasiswa pascasarjana semester 6. Ini adalah titik dimana
para mujahid ilmu sedang berjuang dengan tesis (meskipun ini cukup terlambat). Tapi,
tesis menjadi prioritas nomor sekian bagi kakak saya dikarenakan aktivitas
lainnya sebagai seorang pengusaha wangi-wangian a.k.a parfum. Dan saat itu juga terjadi kendala
lain dimana sang kakak juga ingin menikah dan membina bahtera rumah tangga
bersama wanita pilihannya. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling
ditunggu-tunggu oleh keluarga saya karena akan hadir seorang anggota baru pertama
di dalam keluarga kami. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling
ditunggu-tunggu karena ayah dan ibu akan segera memiliki keturunan baru. Tapi
bagaimana dengan respon ibu? It will shock u I guess. Ibu meresponnya dengan jawaban 'restu ibu akan didapat jika kakak berhasil menyelesaikan pendidikan s2'. Intinya tidak akan
ada penikahan jika belum ada M.M (magister manajemen) di tangan (Ngeri nggak tuh?). Jadilah sang pejuang harus kembali berkutat dengan tesis dan harus sering nongkrong ke kampus
demi oh demi melamar sang kekasih pujaan hati. Hahahaha. Alhamdulillah proses sidang
ujian akhir hingga proses pernikahan sang kakak tidak berlangsung lama, mungkin
hanya berjarak 2-3 bulan. Sesuai dengan janji ibu, maka tepat di hari ulang
tahun kakak ke 27 tahun, keluarga saya officially
memiliki anggota keluarga baru meskipun pada saat itu kakak saya belum officially lulus karena belum wisuda.
Hehehehe. Saya yakin bahwa sekarang kakak saya pasti merasakan manfaat luar
biasa dari sikap keras ibu, jika seandainya tidak ada pergejolatan seperti itu,
pasti tesis akan tetap menjadi priotas nomor kesekian di tengah kesibukannya
disana-sini plus tanggungjawab sebagai seorang suami. Dengan sikap keras ibu
untuk memperjuangkan titel MM tersebut, kakak saya bisa diterima sebagai dosen
di salah satu perguruan tinggi di kota Padang. Well, I had the same thing
happen to me. Pada akhirnya, saat ini dengan kehidupan yang sekarang, saya
merasa bersyukur dengan ‘daulat’ ibu atas saya. Saya yakin setiap orang yang
telah berhasil menyelesaikan pendidikan master akan merasakan kehidupan yang
lebih baik, baik dari segi ilmu, profesi ataupun finansial meskipun perjuangan
hingga ke titik puncak tersebut harus berdarah-darah sekalipun. Perjuangan
inilah yang sedang dijalani oleh ibu saat ini, setelah berhasil mengantarkan
ketiga buah hatinya ke jenjang pendidikan master, sekarang ibu sedang mencoba
mengantarkan dirinya sendiri ke puncak tersebut dalam usia 54 tahun (mungkin
mahasiswa magister paling tua ya? hehehe).
Ibu yang tak pernah haus menuntut ilmu. Mahasiswa yang tidak ingin bolos
sekalipun anak-anaknya sudah berubah menjadi syetan penghasut. Hehehe.
Berbicara masalah pendidikan, honestly ibu tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar. Mungkin karena kami anak baik ya #tsahhhh. Tapi nggak juga sih, tapi nggak tau aja ya kenapa saya dan kakak bisa belajar dengan kesadaran sendiri, ya kalau ada PR di sekolah mbok ya diingat dan dibikin sendiri lah, kalau nggak dibikin kan konsekuensinya juga ditanggung sendiri kan ya :p Malah yang aneh adalah ibu sering mengingatkan kami untuk istirahat. Berhubung kakak perempuan saya adalah learner maniac, jadi ibu sering sekali berpesan bahwa ibu tidak rela kalau kakak harus belajar jika lewat dari jam 10 malam. Hahahaha. Ah ibu, andai dirimu tahu seberapa stressnya menghadapi tumpukan buku pascasarjana :P
Berbicara masalah pendidikan, honestly ibu tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar. Mungkin karena kami anak baik ya #tsahhhh. Tapi nggak juga sih, tapi nggak tau aja ya kenapa saya dan kakak bisa belajar dengan kesadaran sendiri, ya kalau ada PR di sekolah mbok ya diingat dan dibikin sendiri lah, kalau nggak dibikin kan konsekuensinya juga ditanggung sendiri kan ya :p Malah yang aneh adalah ibu sering mengingatkan kami untuk istirahat. Berhubung kakak perempuan saya adalah learner maniac, jadi ibu sering sekali berpesan bahwa ibu tidak rela kalau kakak harus belajar jika lewat dari jam 10 malam. Hahahaha. Ah ibu, andai dirimu tahu seberapa stressnya menghadapi tumpukan buku pascasarjana :P
10.
Selera
Ibu
Kasih ibu kepada beta tak terhingga
sepanjang masa.
Selalu memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Penggalan lirik
lagu tersebut sangat cocok untuk mendeskripiskan ibu. Ibu saya bukanlah wanita
konglomerat dengan uang yang berlimpah, tapi ibu saya selalu berusaha
memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa
barang-barang yang diberikan ibu seperti sepatu, sepeda, baju, tas adalah
rentetan barang bermerek. Ketika saya sudah besar seperti ini, terkadang saya
pun masih harus berpikir ulang lagi dan lagi untuk membeli barang-barang dengan
harga segitu di tengah gaji yang pas-pasan wkwkwkw. Dengan sikap ibu seperti ini, saya dan kakak setidaknya bisa merasakan barang bagus meskipun tidak melebihi dari
punyanya anak bupati. Hehehe. Saya tidak minta semua orang harus setuju dengan
pendapat ibu yang mengatakan bahwa masalah penampilan juga terkait dengan masalah
harga diri. Tapi jangan pikir bahwa saya dapat meminta ini itu seenak jidat
saya. HELLOO!! Emangnya bokap lo presiden. Hehehe. It’s okay as long as it is still
logical dan ibu mampu untuk membelinya. Ibu adalah tipikal orangtua yang
tidak akan pernah langsung memberikan apa yang diingikan anaknya. Pasti ada jeda
antara keinginan dan pemenuhan itu dan disini sangat dituntut kesabaran dari
sang anak tapi setiap anak harus siap-siap dengan surprise yang datang secara tiba-tiba. Ya semacam right thing in the right time and everything will turn out right. Wkwkwkw. Kuncinya jika semakin
merengek, maka semakin tidak akan diberikan, tapi kalau diam (sok-sok nggak
butuh gitu lah), maka peluang dapatnya akan lebih besar. Hehehe. Disini ibu
mengajarkan kami bahwa tidak semua keinginan itu harus didapat meskipun pada
saat itu, saya yakin bahwa ibu saya sangat mampu untuk membelikan, but who’s know about human life?. Saya ingat
cerita ibu tentang kakak saya yang protes dengan uang jajan teman sebayanya
yang jauh lebih besar padahal sorry to
say, ayah kami memiliki profesi yang sama, bahkan ibu saya lebih hebat
karena ikut membanting tulang membantu perekonomian keluarga. Saat itu jawaban
ibu sangat sederhana, ‘Mama bisa berikan uang jajan 10ribu bahkan 20rb perhari
melebihi si Z, tapi apa kamu yakin kalau tiba-tiba papa sudah tidak ada, mama
bisa memberikan hal yang sama setiap harinya?’ Ya, itulah ibu saya, sosok yang
selalu menyadarkan kami bahwa meninggikan selera jauh lebih mudah daripada
menurunkan selera.
11.
The
other side of Malaikat Tanpa Sayap
Dalam poin
terakhir ini, saya akan mendeskripsikan beberapa sisi positif dari ibu. Saya
bisa katakan bahwa ibu adalah tipe orang perfectionist.
Mulai dari urusan pekerjaan hingga ke urusan rumah tangga. Ibu pernah
mendapatkan JUARA 1 LOMBA KEBERSIHAN di tingkat asrama, padahal saat itu kami
bertiga masih balita, pasti yang terbayangkan adalah bagaimana pecah belahnya
rumah dipenuhi dengan mainan yang berserakan atau hawa-hawa pesing yang tidak
mengenakkan layaknya rumah-rumah ibu rumah tangga dengan satu anak balita
kebanyakan. Disitulah letak supernya ibu saya, sekalipun di rumah ada tiga
orang anak balita, ini tidak menjadi exception
dalam mengurus dan menata rumah secara rapi dan bersih, bahkan ibu bisa
mengalahkan rumah lain yang notabene tidak ada anak balita di dalamnya. Gokil
kan? Wkwwkwk. Selain itu, ibu juga terkenal sebagai ahli pembukuan. Ibu punya
catatan untuk semua barang rumah tangga (beserta tanggal pembelian dan harga).
Ibu punya catatan untuk semua rincian biaya yang dikeluarkan saat perjalanan
baik keluar kota ataupun keluar negeri. Ibu punya catatan berapa biaya yang
dibutuhkan oleh ketiga anaknya saat kuliah s1 dan s2 termasuk rincian uang
jajan per bulan, it means biaya kami selama kurang lebih 4 tahun sewaktu s1 dan 2 tahun sewaktu s2. Ibu punya catatan
nama siswanya yang menjadi lulusan PMDK sedari beliau mulai mengajar tahun
1985. Bahkan lebih dari itu, sedari tahun 1985 itu juga, setiap bulan ibu
selalu tidak penah absen mengumpulkan amprah gaji hingga sekarang. Dan lebih
parahnya, ibu tidak pernah lupa mencatat periode jadwal bulan merah setiap
bulan. Hanya satu yang sangat saya sayangkan karena ibu tidak mencatat nama
mantan hahahaha. Lambat laun saya mulai mengetahui manfaat menjadi Mrs. Super
Duper Detail ini seperti agar kita tahu pasti apa yang telah dibeli, mengapa suatu
alat rumah tangga harus saatnya diganti, untuk apa biaya dikeluarkan, apakah
siklus hormon teratur atau tidak, dan lain-lain sebagainya. Ibu, ibu, ibu. Saya pun masih harus banyak belajar
menjadi ahli pembukuan sepertimu.
Okay, tibalah kita di penghujung cerita. Saya sudahi deskripsi saya mengenai Malaikat Tanpa Sayap ini. Satu hal yang pasti yaitu perihal anak bukanlah urusan
yang gampang seperti semudah membalikkan telapak tangan. Ketika diri kita sudah
mendapat panggilan sebagai seorang ayah atau seorang ibu, maka bersiaplah untuk
diminta sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah amanah yang harus diemban untuk
seutuhnya membesarkan, mendidik dan membentuk karakter seorang manusia. Dua
postingan saya hari ini dan sebelumnya mungkin memiliki pembelajaran yang bisa
dipetik manfaatnya. Untuk sesuatu yang sekiranya akan mendatangkan mudhorat,
silahkan ditinggalkan dan saya haturkan permohonan maaf akan hal itu. Tetaplah
menjadi orangtua yang keras dan tegas tapi elegan dalam mendidik seorang
titipan Tuhan. Diperlukan ibu yang cerdas untuk melahirkan anak yang
berkualitas. Salam dua anak :p
Izinkanlah tulisan ini saya buat
sebagai bentuk napak tilas saya menjadi anak seorang ibu.
‘Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?’ Karena kau
menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di
kemudian hari. (Mama, 84)
(Pramoedya Ananta Toer, Child of
All Nations)
Semoga tulisan ini tak lekang oleh panas dan tak lapuk
oleh hujan. Tulisan yang akan selalu menjadi jejak perjalanan yang menyelipkan kenangan dan mengukir catatan sejarah untuk diwariskan. Terimakasih ibu, sungguh lidah sayapun
kelu apakah saya sanggup membalas setiap air susu dan perjuanganmu untuk kami
anak-anakmu. Semoga Allah selalu memberikan limpahan rahmat, rezeki dan kesehatan kepada Ibu.
Aamiin allahuma aamiin.
![]() |
| Malaikat Tanpa Sayap :* |





