Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

January 05, 2017

Malaikat Tanpa Sayap *Part 2

Posted by Retya Elsivia at 12:07 AM
Well, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa bertemu lagi di tulisan saya kali ini. FYI, ini adalah tulisan kedua saya setelah Malaikat Tanpa Sayap *Part 1 cukup banyak mendapatkan respon positif termasuk dari sang Malaikat Tanpa Sayap yang hanya bisa mangguk-mangguk mengiyakan (bahkan beliau juga meminta agar tulisan tersebut dicetak :p) Terimakasih bagi yang sudah membaca dan yang bersedia kembali membaca lanjutannya disini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk kita semua. Semoga segala resolusi yang telah dituliskan di tahun 2017 berujung menjadi kenyataan. Aamiin. Di awal tahun ini, saya mendapat sebuah kutipan yang menarik dari @AhmadFauzi dalam  Inspirasi Islami.
Ada dua hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang.
Buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui.
Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. Bacalah banyak buku, temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat, orang-orang yang banyak melakukan perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi.
Sepakat? Okay, let’s start it. Meskipun ini bukan buku, tapi saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat dan mampu menjadi inspirasi :’) Inilah lanjutan cerita Malaikat Tanpa Sayap saya, so happy reading guys.

7.       Stand up for Children’s Rights
Hidup jauh dari ibukota tidak menjadi alasan bagi ibu untuk tidak dapat memenuhi hak anak-anaknya. Ibu selalu membiasakan kami dengan big city-mindset.  Ya setidaknya jangan sampai bermental kampung*n dan clingak clinguk mendengar cerita orang tentang kehidupan di kota. Hehehe. Salah satu bentuk kebiasaan yang diajarkan ibu adalah dengan sering mengajak kami ke kota Padang. Bagi anak kecil yang datang dari pelosok seperti saya ini saat melihat MATAHARI dan di dalamnya ada arena bermain TIMEZONE itu rasanyaaaaaa SUPERWOWWWW, membuat hati menolak untuk pulang. Ya, saya akui ayah dan ibu sering berdebat dalam hal ini. Prinsip ibu ketika kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Padang baik untuk sekedar belanja kebutuhan atau liburan sekolah, maka wajib hukumnya bagi setiap anggota keluarga untuk terpenuhi kepuasannya. Jadi kalau pas jalan pulang itu sama-sama enak, sama-sama senang dan bahagia gitu loh. Memang sedari kecil ibu membiasakan kami untuk selalu berbelanja di kota Padang, termasuk untuk hal kecil sekalipun. Sehingga saya sendiri pun sering bingung ketika ditanyakan toko baju di kota yang saya tinggali. Bukan sombong loh ya, tapi ini berbicara fakta. Wkkwkwk. Dengan segala keterbatasan libur yang dimiliki oleh ayah sebagai seorang abdi negara, lantas tidak mebuat ibu menyerah untuk dapat memenuhi hak-hak anak dengan semampu yang beliau bisa. Setiap libur sekolah kami selalu pulang ke kampung halaman di Payakumbuh (I stress the word SELALU). Liburan sekolah menjadi waktu yang sangat dinanti-nantikan karena bisa bermain di kampung halaman. Saya bisa menjamin bahwa liburan dengan suasana yang berbeda itu mampu menjadi suplemen ampuh penghilang stress. Setuju nggak? Selain itu dengan liburan, anak bisa terlepas dari beban pikiran belajar selama 3 bulan terakhir (maaf njih, zaman saya SD dulu sistem sekolahnya masih triwulan, bukan semester kayak sekarang :D). Meskipun di setiap libur sekolah itulah kami membutuhkan 5 jam perjalanan dari Painan ke Payakumbuh dengan dua kali mobil bus yang harus berganti di tengah padatnya arus terminal (tapi kalau nggak sibuk, biasanya akan diantar jemput oleh ayah, yaaa kayak ngedrop anak ke sekolahan gitu hahaha). Situasi seperti ini telah berlaku jauh sebelum kami bertiga duduk di bangku sekolah. Hanya dengan ibu saja? Ya, hanya dengan ibu saja beserta tiga orang anak kecilnya. Satu berada di dalam pangkuan, satu dipegang di sebelah tangan, dan satu lagi dibiarkan jalan lepas di depan. Bahkan ini juga terjadi pada saat liburan kami berempat ke tanah Jawa atau ke Pulau Batam. Saya tahu saking susahnya ibu dalam mengatur tiga orang anak ini, kakak laki-laki saya pernah hilang dari genggaman ibu ketika berada di kapal penyeberangan Merak-Bekhauni, atau kakak perempuan saya yang pernah diberi air dan terpaksa dibopong oleh orang lain karena tidak mau bangun saat perjalanan. Yes, that’s my superwoman J

8.       NO BREAKFAST = NO SCHOOL
Untuk hal ini sampai sekarang saya pun masih angkat topi dengan ibu. Mungkin rasa ini tidak akan pernah hilang sekalipun saya bisa melakukan hal itu nanti. Ibu tidak akan pernah mengizinkan anaknya untuk keluar rumah tanpa sarapan. Ya, termasuk untuk sekolah sekalipun. Ibu selalu menyediakan sarapan setiap pagi dengan menu yang berbeda. Jangan pikir ibu bisa melakukan hal ini karena jam kerja yang lebih longgar dari jam anak sekolah. Tidak sama sekali. Ibu adalah seorang guru SMA, jadi kami sekeluarga memiliki jadwal keberangkatan yang nyaris sama di setiap pagi (read: ayah bukan pergi sekolah, tapi pergi apel pagi yang jadwalnya lebih cepat dari kami). Entahlah terkadang saya heran jam berapa ibu harus bangun setiap harinya untuk membuat sarapan ini. Satu hal yang saya tahu, ibu tidak ingin jika anaknya tidak dapat fokus atau susah berkonsentrasi saat menangkap pelajaran di sekolah. Dan satu lagi, ibu tidak ingin malu jika anaknya jatuh pingsan saat pelaksanaan upacara bendera. Kebiasaan ini pun mendarah daging hingga saya  tidak lagi tinggal bersama ibu. Sebagai anak kost, saya harus berpikir keras setiap hari makanan apa yang bisa saya makan untuk besok pagi (yes i know it is truly lebay hahaha). Terimakasih ya bu karena sekarang saya pun tumbuh menjadi anak yang tidak pernah bisa keluar rumah tanpa sarapan :’)

9.       PENDIDIKAN adalah HARGA MATI
Dari judulnya agak ngeri-ngeri sadap ya. Hehehe. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sekarang kita hidup di zaman pendidikan dimana hal ini yang akan membuat kita dapat bertahan hidup. Mungkin idealisme seperti inilah yang tertanam dalam pikiran para orang tua termasuk ibu saya. Jarang sekali kita menemukan anak-anak yang menganggur selepas masa SMA, ya kalaupun menganggur itu pun bukan keinginan orang tua mereka, bisa jadi itu adalah faktor X dari si anak. Pendidikan adalah harga mati. Bisa dibilang itu juga berlaku dalam keluarga saya. Dalam rentang usia kami yang berselang 5 tahun, ibu pernah serentak menguliahkan 3 orang anaknya dalam beberapa tahun. Pastinya banyak keringat yang mengucur dan langkah kaki yang terseok-seok selama itu. Pada saat itu memang belum berlaku sistem UKT untuk pembayaran uang kuliah which means uang kuliah s1 kami masih murah tiga atau empat kali lipatlah dari uang kuliah anak zaman sekarang, tapi yang dipikirkan ibu tidak hanya seputar uang kuliah yang harus dibayar dalam satu kali enam bulan,  masih ada uang kos, uang jajan, uang buku, uang perlengkapan sehari-hari, dan segala uang-uang lainnya yang harus diberikan tiap bulan pada masing-masing anak (meskipun saya dan kakak sering mendapatkan uang ‘cekeran’ dalam bentuk beasiswa prestasi dari kampus, tapi itu diapresiasi ibu sebagai bonus dan lebih sering kami gunakan untuk menunjang kehidupan tersier, if u know what I means ;p). Semua perjuangan yang dilakukan ibu itu demi satu kata yang paling sakral, yaitu PENDIDIKAN. Orang Minang pernah mengatakan indak kayu, janjang pun den kapiang. Pepatah ini sering kali saya dengar dari ibu. Maksudnya kurang lebih seperti ini jikapun tidak ada kayu, tanggapun bisa dipotong-potong agar dapat dijadikan kayu. Jadi tidak ada yang tidak mungkin dalam pengorbanan seorang ibu dalam memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Hal ini jugalah yang berhasil mengantarkan kami bertiga sampai ke jenjang pendidikan magister. Sumber donaturnya tak lain dan tak bukan pastilah ibu dan ayah. Meskipun pada awalnya, saya menolak mentah-mentah ‘paksaan’ ibu untuk lanjut kuliah s2 (karena mimpi-mipi kuliah di luar negeri masih seperti angin segar tak layu). Saya masih ingat selepas s1 ketika berkas pendaftaran saya untuk menjadi CPNS dibalas dengan senyuman sungging saking ibu ingin semua anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini juga salah satu pesan dari almarhum kakek kepada ibu yaitu sebisa mungkin anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. That’s the point. Selama masa-masa perjuangan ini, ibu sangat banyak take part hingga akhirnya kami bertiga dapat sampai ke garis finish dan dengan bangga mengibarkan bendera merdeka. Banyak tantangan? Pasti. Salah satunya juga terjadi pada kakak laki-laki saya. Ketika itu, usianya sudah 26 tahun dengan status mahasiswa pascasarjana semester 6. Ini adalah titik dimana para mujahid ilmu sedang berjuang dengan tesis (meskipun ini cukup terlambat). Tapi, tesis menjadi prioritas nomor sekian bagi kakak saya dikarenakan aktivitas lainnya sebagai seorang pengusaha wangi-wangian a.k.a parfum. Dan saat itu juga terjadi kendala lain dimana sang kakak juga ingin menikah dan membina bahtera rumah tangga bersama wanita pilihannya. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga saya karena akan hadir seorang anggota baru pertama di dalam keluarga kami. Seharusnya momen ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu karena ayah dan ibu akan segera memiliki keturunan baru. Tapi bagaimana dengan respon ibu? It will shock u I guess. Ibu meresponnya dengan jawaban 'restu ibu akan didapat jika kakak berhasil menyelesaikan pendidikan s2'. Intinya tidak akan ada penikahan jika belum ada M.M (magister manajemen) di tangan (Ngeri nggak tuh?). Jadilah sang pejuang harus kembali berkutat dengan tesis dan harus sering nongkrong ke kampus demi oh demi melamar sang kekasih pujaan hati. Hahahaha. Alhamdulillah proses sidang ujian akhir hingga proses pernikahan sang kakak tidak berlangsung lama, mungkin hanya berjarak 2-3 bulan. Sesuai dengan janji ibu, maka tepat di hari ulang tahun kakak ke 27 tahun, keluarga saya officially memiliki anggota keluarga baru meskipun pada saat itu kakak saya belum officially lulus karena belum wisuda. Hehehehe. Saya yakin bahwa sekarang kakak saya pasti merasakan manfaat luar biasa dari sikap keras ibu, jika seandainya tidak ada pergejolatan seperti itu, pasti tesis akan tetap menjadi priotas nomor kesekian di tengah kesibukannya disana-sini plus tanggungjawab sebagai seorang suami. Dengan sikap keras ibu untuk memperjuangkan titel MM tersebut, kakak saya bisa diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di kota Padang. Well, I had the same thing happen to me. Pada akhirnya, saat ini dengan kehidupan yang sekarang, saya merasa bersyukur dengan ‘daulat’ ibu atas saya. Saya yakin setiap orang yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan master akan merasakan kehidupan yang lebih baik, baik dari segi ilmu, profesi ataupun finansial meskipun perjuangan hingga ke titik puncak tersebut harus berdarah-darah sekalipun. Perjuangan inilah yang sedang dijalani oleh ibu saat ini, setelah berhasil mengantarkan ketiga buah hatinya ke jenjang pendidikan master, sekarang ibu sedang mencoba mengantarkan dirinya sendiri ke puncak tersebut dalam usia 54 tahun (mungkin mahasiswa magister paling tua ya? hehehe).  Ibu yang tak pernah haus menuntut ilmu. Mahasiswa yang tidak ingin bolos sekalipun anak-anaknya sudah berubah menjadi syetan penghasut.  Hehehe.
Berbicara masalah pendidikan, honestly ibu tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar. Mungkin karena kami anak baik ya #tsahhhh. Tapi nggak juga sih, tapi nggak tau aja ya kenapa saya dan kakak bisa belajar dengan kesadaran sendiri, ya kalau ada PR di sekolah mbok ya diingat dan dibikin sendiri lah, kalau nggak dibikin kan konsekuensinya juga ditanggung sendiri kan ya :p Malah yang aneh adalah ibu sering mengingatkan kami untuk istirahat. Berhubung kakak perempuan saya adalah learner maniac, jadi ibu sering sekali berpesan bahwa ibu tidak rela kalau kakak harus belajar jika lewat dari jam 10 malam. Hahahaha. Ah ibu, andai dirimu tahu seberapa stressnya menghadapi tumpukan buku pascasarjana :P
Sebuah pemandangan di sudut rumah saya. Ini adalah salah satu karya ibu.
10.   Selera Ibu
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.
Selalu memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Penggalan lirik lagu tersebut sangat cocok untuk mendeskripiskan ibu. Ibu saya bukanlah wanita konglomerat dengan uang yang berlimpah, tapi ibu saya selalu berusaha memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa barang-barang yang diberikan ibu seperti sepatu, sepeda, baju, tas adalah rentetan barang bermerek. Ketika saya sudah besar seperti ini, terkadang saya pun masih harus berpikir ulang lagi dan lagi untuk membeli barang-barang dengan harga segitu di tengah gaji yang pas-pasan wkwkwkw.  Dengan sikap ibu seperti ini, saya dan kakak setidaknya bisa merasakan barang bagus meskipun tidak melebihi dari punyanya anak bupati. Hehehe. Saya tidak minta semua orang harus setuju dengan pendapat ibu yang mengatakan bahwa masalah penampilan juga terkait dengan masalah harga diri. Tapi jangan pikir bahwa saya dapat meminta ini itu seenak jidat saya. HELLOO!! Emangnya bokap lo presiden. Hehehe. It’s okay as long as it is still logical dan ibu mampu untuk membelinya. Ibu adalah tipikal orangtua yang tidak akan pernah langsung memberikan apa yang diingikan anaknya. Pasti ada jeda antara keinginan dan pemenuhan itu dan disini sangat dituntut kesabaran dari sang anak tapi setiap anak harus siap-siap dengan surprise yang datang secara tiba-tiba. Ya semacam right thing in the right time and everything will turn out right. Wkwkwkw. Kuncinya jika semakin merengek, maka semakin tidak akan diberikan, tapi kalau diam (sok-sok nggak butuh gitu lah), maka peluang dapatnya akan lebih besar. Hehehe. Disini ibu mengajarkan kami bahwa tidak semua keinginan itu harus didapat meskipun pada saat itu, saya yakin bahwa ibu saya sangat mampu untuk membelikan, but who’s know about human life?. Saya ingat cerita ibu tentang kakak saya yang protes dengan uang jajan teman sebayanya yang jauh lebih besar padahal sorry to say, ayah kami memiliki profesi yang sama, bahkan ibu saya lebih hebat karena ikut membanting tulang membantu perekonomian keluarga. Saat itu jawaban ibu sangat sederhana, ‘Mama bisa berikan uang jajan 10ribu bahkan 20rb perhari melebihi si Z, tapi apa kamu yakin kalau tiba-tiba papa sudah tidak ada, mama bisa memberikan hal yang sama setiap harinya?’ Ya, itulah ibu saya, sosok yang selalu menyadarkan kami bahwa meninggikan selera jauh lebih mudah daripada menurunkan selera.

11.   The other side of Malaikat Tanpa Sayap
Dalam poin terakhir ini, saya akan mendeskripsikan beberapa sisi positif dari ibu. Saya bisa katakan bahwa ibu adalah tipe orang perfectionist. Mulai dari urusan pekerjaan hingga ke urusan rumah tangga. Ibu pernah mendapatkan JUARA 1 LOMBA KEBERSIHAN di tingkat asrama, padahal saat itu kami bertiga masih balita, pasti yang terbayangkan adalah bagaimana pecah belahnya rumah dipenuhi dengan mainan yang berserakan atau hawa-hawa pesing yang tidak mengenakkan layaknya rumah-rumah ibu rumah tangga dengan satu anak balita kebanyakan. Disitulah letak supernya ibu saya, sekalipun di rumah ada tiga orang anak balita, ini tidak menjadi exception dalam mengurus dan menata rumah secara rapi dan bersih, bahkan ibu bisa mengalahkan rumah lain yang notabene tidak ada anak balita di dalamnya. Gokil kan? Wkwwkwk. Selain itu, ibu juga terkenal sebagai ahli pembukuan. Ibu punya catatan untuk semua barang rumah tangga (beserta tanggal pembelian dan harga). Ibu punya catatan untuk semua rincian biaya yang dikeluarkan saat perjalanan baik keluar kota ataupun keluar negeri. Ibu punya catatan berapa biaya yang dibutuhkan oleh ketiga anaknya saat kuliah s1 dan s2 termasuk rincian uang jajan per bulan, it means biaya kami selama kurang lebih 4 tahun sewaktu s1 dan 2 tahun sewaktu s2. Ibu punya catatan nama siswanya yang menjadi lulusan PMDK sedari beliau mulai mengajar tahun 1985. Bahkan lebih dari itu, sedari tahun 1985 itu juga, setiap bulan ibu selalu tidak penah absen mengumpulkan amprah gaji hingga sekarang. Dan lebih parahnya, ibu tidak pernah lupa mencatat periode jadwal bulan merah setiap bulan. Hanya satu yang sangat saya sayangkan karena ibu tidak mencatat nama mantan hahahaha. Lambat laun saya mulai mengetahui manfaat menjadi Mrs. Super Duper Detail ini seperti agar kita tahu pasti apa yang telah dibeli, mengapa suatu alat rumah tangga harus saatnya diganti, untuk apa biaya dikeluarkan, apakah siklus hormon teratur atau tidak, dan lain-lain sebagainya.  Ibu, ibu, ibu. Saya pun masih harus banyak belajar menjadi ahli pembukuan sepertimu.

Okay, tibalah kita di penghujung cerita. Saya sudahi deskripsi saya mengenai Malaikat Tanpa Sayap ini. Satu hal yang pasti yaitu perihal anak bukanlah urusan yang gampang seperti semudah membalikkan telapak tangan. Ketika diri kita sudah mendapat panggilan sebagai seorang ayah atau seorang ibu, maka bersiaplah untuk diminta sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah amanah yang harus diemban untuk seutuhnya membesarkan, mendidik dan membentuk karakter seorang manusia. Dua postingan saya hari ini dan sebelumnya mungkin memiliki pembelajaran yang bisa dipetik manfaatnya. Untuk sesuatu yang sekiranya akan mendatangkan mudhorat, silahkan ditinggalkan dan saya haturkan permohonan maaf akan hal itu. Tetaplah menjadi orangtua yang keras dan tegas tapi elegan dalam mendidik seorang titipan Tuhan. Diperlukan ibu yang cerdas untuk melahirkan anak yang berkualitas. Salam dua anak :p
Izinkanlah tulisan ini saya buat sebagai bentuk napak tilas saya menjadi anak seorang ibu.
Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?’ Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)
(Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations)
Semoga tulisan ini tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tulisan yang akan selalu menjadi jejak perjalanan yang menyelipkan kenangan dan mengukir catatan sejarah untuk diwariskan. Terimakasih ibu, sungguh lidah sayapun kelu apakah saya sanggup membalas setiap air susu dan perjuanganmu untuk kami anak-anakmu. Semoga Allah selalu memberikan limpahan rahmat, rezeki dan kesehatan kepada Ibu.
Aamiin allahuma aamiin.

Malaikat Tanpa Sayap :*



December 29, 2016

Malaikat Tanpa Sayap *Part 1

Posted by Retya Elsivia at 11:57 PM
Tulisan ini saya rangkai sebagai bentuk hormat pada seorang wanita yang telah berjuang untuk melahirkan dan membesarkan saya tanpa pamrih selama 24 tahun ini.
Saya yakin keberhasilan seorang anak tak luput dari doa restu dan didikan dari orangtua, terutama ibu. Saya yakin semua ibu di dunia ini pastilah ibu yang terbaik di mata anak-anaknya, ibu yang rela berjaga di malam hari ketika bayi mungilnya menangis, ibu yang rela bangun pagi demi menyiapkan sarapan anaknya, ibu yang rela menaggung letih dan penat demi mengurus rumah tangga, ibu yang rela bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, ibu yang rela bangun untuk sholat di malam hari demi kesuksesan anaknya. Sungguh teramat banyak pengorbanan malaikat tanpa sayap itu di dalam hidup kita. Saya menulis tulisan ini bukan bermaksud menggurui atau menganggap ibu saya adalah seorang yang sempurna (sekalipun itu benar di mata saya di tengah kekurangan yang dimilikinya sebagai seorang manusia). Mungkin lewat tulisan ini saya bisa berbagi pengalaman sebagai seorang anak yang berhasil dididik oleh seorang ibu yang memiliki kedisiplinan yang cukup tinggi. Dan besar harapan saya semoga tulisan ini dapat menjadi pembelajaran untuk para ibu dan calon ibu, termasuk saya. Ada beberapa poin yang masih melekat jelas di dalam memori ketika saya dilahirkan menjadi anak seorang ibu.


1.       Time schedule is a MUST
Salah satu bentuk kedisiplinan yang diajarkan ibu dimulai dari hal kecil ini. Ibu mengajarkan bagaimana setiap anak mampu mentaati jadwal hidup yang harus dijalani setiap harinya. Saya masih ingat ketika saya dan kedua kakak saya memiliki jadwal detail per waktu mulai dari pagi hingga malam, mulai dari hari Senin hingga Minggu. Kira-kira contohnya seperti ini:
HARI SENIN
05.00-05.05 : Bangun Tidur
05.05-05.15 : Sholat Subuh
05.15-05.30 : Membersihkan tempat tidur
05.30-05.45 : Mempersiapkan kebutuhan sekolah
05.45-06.00 : Mandi + Siap-siap
06.00-06.20 : Sarapan
06.30-07.00 : Berangkat sekolah
07.00-12.00 : Sekolah
12.00-13.00 : Sholat Dzuhur
13.00–13.30 : Makan siang
13.30–16.00 : Istirahat
16.00-16.30 : Mandi
16.30-18.00 : Bermain
18.00-18.30 : Sholat Maghrib
18.30-19.30 : Baca Al-Qur’an
19.30-21.00 : Belajar
21.00             : TIDUR
Itu hanya sebagai bentuk gambaran saja, karena saya pun sudah lupa setiap poin daritime schedule ini. Time schedule mulai diberlakukan oleh ibu sejak kami duduk di bangku SD dan itu ditulis dalam satu papan tulis besar yang ditempel di ruangan keluarga. Jadi setiap anak harus siap-siap kena tegur jika ada poin yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. HAHAHA. Namun sebenarnya jadwal ini tidak harus diberlakukan sedemikian strict seperti itu, kadang-kadang masih ada kelonggaran, namun intinya adalah time schedule ini membantu anak untuk menjawab pertanyaan “What I will do next?”

2.       ISTIRAHAT SIANG adalah KEBUTUHAN
Saya dilahirkan sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara. Ibu saya sudah memiliki tiga orang anak dalam waktu 5 tahun. Kebayangkan bagaimana repotnya memiliki 3 orang anak kecil yang jaraknya dekat-dekat? Karena saat beranjak dewasa dan memahami kehidupan seperti sekarang ini, dengan membayangkan 1 orang anak kecil saja sudah lelah rasanya. Kebetulan ibu juga seorang wanita karier, sehingga banyak hal lain yang harus diurus selain rumah tangga. Ketika masih kecil, kami dibantu oleh asisten rumah tangga yang selalu berbeda-beda dengan masalah yang juga berbeda-beda. Hehehe. Ketiga balita ini akan bergantian dimandikan ibu sebelum akhirnya kami lepas landas dan mendarat di tempat tidur. Seger-seger maknyussss ditambah hembusan kipas angin yang sepoi-sepoi.
Tadaaaaa... Beginilah suasana siang di rumah kami. RaRiRe (Rangga Rinda Retya) in action
Hal ini pun berlanjut hingga kami beranjak besar dan sudah memiliki banyak teman di sekitaran rumah. Oleh karena ayah adalah seorang prajurit negara, bertahun-tahun kami tinggal di kompleks asrama. Saya akui, kehidupan ini yang mebuat masa-masa kecil saya bahagia. Saya terlahir dari anak kolong, bukan anak pengusaha yang menjalani hidup di rumah gedongan. Kami bertiga memiliki banyak teman seumuran, dan kami bebas bermain apapun, sebut saja seperti main kelereng, main petak umpet, main gambar, main karet gelang, main badminton dan permainan-permainan lain (main dengan menggoda tahanan di dalam penjara pun sering :p). Saat bermain seperti inilah saya sering merasa kebebasan saya sebagai seorang anak direnggut oleh ibu. Jika sudah jadwalnya untuk istirahat siang, meskipun tengah asyik bermain sambil ketawa ketiwi hahaha hihihi sebesar-besarnya, ibu tak akan segan-segan menjemput kami ke lapangan dan menyuruh pulang. Disitu saya merasa sedih karena harus terlahir dari anak ibu. Saya hanya bisa melihat teman-teman yang terus lanjut bermain tanpa harus disuruh pulang oleh ibunya. Saya pun masih ingat ketika suatu hari dipanggil ibu untuk pulang dan saya disuruh istirahat siang, sebagai anak yang baik tentunya saya tetap mengindahkan peraturan itu, tapi alhasil selama jam istirahat siang, saya hanya pura-pura tidur karena pikiran saya yang masih melayang-layang dalam permainan.
Semakin besar, saya semakin mengerti bahwa sejatinya memang setiap anak perlu diberikan waktu untuk itirahat siang. Selain untuk membuat badan kembali segar, tentunya agar anak dapat belajar dengan pikiran yang fokus dan tenang di malam hari. Bahkan saat ini, ketika sudah mulai kuliah dan bekerja dan harus bertemu dengan jadwal padat dari pagi hingga sore, ingin rasanya saya kembali menjadi anak ibu, saya rindu dengan jam-jam istirahat siang dengan hembusan kipas angin yang membuat mata sejenak tidak ingin melihat dunia.

3.       Ibadah untuk HADIAH
Yah ini memang terdengar sedikit aneh, karena bagaimanapun semua ibadah yang dilakukan oleh manusia tentunya harus LILLAHI TA’ALA. Tapi pastinya anak usia balita atau balitu (batas usia 5 sampai 7) tidak terlalu paham dengan kewajiban sholat sebagai seorang umat muslim. Apalagi dulu anak balita tidak secerdas anak-anak sekarang yang bisa hafiz qur’an. Hehehe. Jadilah ini salah satu siasat ibu untuk mengajarkan perintah agama kepada anak-anaknya. Dengan hadiah? Yes it was. Kami memiliki tabel sholat dalam papan tulis lengkap dari sholat Subuh sampai Isya setiap hari. Bagi anak yang telah menunaikan sholat maka silahkan ceklis di dalam papan tersebut. Disini juga dilatih kejujuran masing-masing anak, karena bagi anak yang berhasil menunaikan sholat 5 waktu sehari tentunya akan mendapatkan hadiah dari ibu. Kalau saya tidak salah ingat, salah satu hadiahnya adalah uang. Lumayan bisa nambah jajan ke tetangga sebelah coyyyy. Didikan sholat yang diawali dengan iming-iming hadiah ini pun lama-kelamaan beralih menjadi kebutuhan. Yups, kebutuhan untuk menjalankan sholat sebagai tiang agama. Kebutuhan untuk mengisi relung jiwa. Jadi ibu tidak perlu repot-repot menggunakan kekerasan dalam menyuruh anaknya untuk sholat atau ibu tidak perlu khawatir dengan anaknya yang sudah besar tapi sering meninggalkan sholat. Alhamdulillah, sedari kecil kami bertiga tidak pernah sholat bolong-bolong. Ada satu cerita yang menarik terkait hal ini. Cerita ini tentang kakak perempuanku. Waktu itu sekitar tahun 2000, kami sekeluarga liburan ke Dunia Fantasi. Pasti tahu kan gimana hiruk pikuk taman bermain yang sangat hits di Indonesia bahkan sampai hari ini? Oleh karena banyak dan padatnya jumlah manusia di arena bermain tersebut, ibu memutuskan untuk tidak mengajak saya (umur 8 tahun) dan kakak (umur 11 tahun) dalam menunaikan sholat disebabkan oleh antrian yang sangat panjang. Saat itu mungkin ibu berpikir sangat situasional disebabkan kami berdua ceritanya masih anak bawang (belum baligh).But you know what gonna happen then? Selepas ibu kembali dari sholat, kakak perempuanku menangis tersedu-sedu. Kakak saya merasa sangat bersalah karena tidak sholat waktu itu. Oh God, four thumbs up for my mommy.
Hal ini juga berlaku ketika kami mulai beranjak dewasa. Tentunya sebagai umat muslim kita sangat menyadari bahwa apapun amalan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat, termasuk membaca Al-Qur’an. Sewaktu menjadi anak berseragam putih abu-abu, saya dan kakak sudah mendapatkan challenge dari ibu, siapa yang bisa qatam Al-Qur’an selama bulan Ramadhan akan diberi hadiah. Masih dengan uang? Jawabannya, iya. Dan ini jumlahnya lumayan untuk anak Anak Baru Gede seperti kami ini. Jadilah saya dan kakak selepas sholat fardhu atau sholat sunnah selalu berlomba-lomba untuk membaca Al-Qur’an. Saya sering bertanya “Sudah juz berapa kak?” Hahaha memang saya kepo sedari kecil ya  :P. 30 juzz dalam satu bulan memang sulit rasanya di tengah godaan yang banyak disana-sini. Dan saya akui ketika beranjak dewasa pun saya pun masih merasa tertatih dalam urusan ini (but no more present loh ya :D).
Memang terkadang dari iming-iming atau keterpaksaan itu, perlahan-lahan kita akan menemukan hikmah dan akhirnya hati kita menjadi ikhlas karenaNya.

4.       Ruang Tamu untuk Pacaran
Ketika baca ini, pasti akan bertanya-tanya kan? Memangnya saat sekolah diizinkan pacaran? Hahahaha. Kurang lebih seperti itulah. Saya dan kakak tidak pernah tertutup mengenai hal ini dengan orang tua. Jadi kami tidak pernah mengenal namanya backstreet saat menjadi anak sekolahan. Mungkin ibu saya berpikir bahwa perasaan saling suka dengan lawan jenis itu merupakan hal lumrah terjadi ketika anak sudah mulai beranjak dewasa. Eaaaaaa. Sederatan nama pacar, nama pedekate-an, atau nama mantan sudah tidak tabu lagi di keluarga kami. Bukannya sikap saling terbuka itu lebih indah? Dapat lampu hijau? Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu. Tapi jangan pikir saya dan kakak saya bisa pacaran dengan pulang pergi sebebasnya, karena ibu sudah memboikotnya dengan menyediakan ruang tamu untuk pacaran. Dengan kata lain, pacaran harus di rumah. Kalian bisa bayangkan anak sekolah pacaran yang biasanya masih identik dengan malu-malu kucing? Bisa bayangkan jika situasi itu terjadi di ruang tamu atau di teras rumah dimana ada ayah ibu atau tetangga yang lalu lalang. Oh men ‘___’ Ini salah satu bentuk proteksi ibu kepada anaknya terutama putri-putri beliau yang masih belia. Saya sangat menyadari bahwa tidak semua ibu di dunia akan setuju dengan sikap ibu saya. Hal ini disebabkan karena masih banyak orangtua yang berkeyakinan bahwa pacaran dapat menghambat proses belajar anak di sekolah. I have to say that it depends on the child.  Yang penting saya dan kakak masih berprestasi di sekolah, masih bisa mengharumkan nama orang tua dengan tidak pernah tereliminasi dari kelas unggul setiap tahunnya. Justru saat itu saya sangat bahagia dengan orangtua saya, karena saya tidak perlu merasakan seperti teman-teman lainnya yang harus berpisah dengan sang kekasih ketika sudah berada di ujung gang rumah. Hehehe. Peraturan-peraturan itu juga berlaku untuk kakak saya yang pertama. Sebagai laki-laki yang baru menginjak dewasa (tapi masih SMP sih), ibu sangat memahami bahwa sudah kodratnya sang kakak untuk ingin berkumpul bersama dengan teman-temannya yang lain. Alhasil ibu pasti selalu mengizinkan kakak saya untuk keluar di malam minggu dengan syarat harus pulang sebelum jam 9, jika tidak dipatuhi maka konsekuensinya adalah tidak akan ada jatah untuk keluar di malam minggu berikutnya. Jadi ceritanya pernah ada balada di malam minggu dimana sang kakak pulang lewat dari jam 9. Ibu saya sih masih selow-selow saja, setidaknya pintu masih dibukain kok, tidak harus tidur di teras. Hehehe. Tapi apa yang terjadi di malam minggu berikutnya? Ibu tetap kekeuh tidak mengizinkan kakak saya untuk keluar di malam minggu meskipun sudah nangis-nangis bombay berdarah dengan suara yang sudah mulai berubah menjadi bass. Yang namanya peraturan tetap peraturan sekalipun saya tahu bahwa setiap orangtua tidak akan pernah tega membiarkan anaknya seperti itu. Tapi ibu hanya butuh waktu satu kali untuk memgukuhkan hati dan mengajari tentang hal kedisplinan karena di malam-malam minggu berikutnya kakak saya selalu pulang ke rumah dengan sesak nafas ngos-ngosan sebelum jam 9. Keren kan? Iya donk, ibu saya. Hehehe.

5.       ‘BARU’ di tahun pelajaran BARU
Ya, ini adalah satu hal yang paling ditunggu-tunggu di setiap tahunnya. Ibu dan ayah sangat mengapreasiasi prestasi belajar setiap anak-anaknya. If I am not mistaken, angka-angka 9 di rapor akan dibeli oleh orangtua kami. Kami tidak diajarkan untuk matre loh ya, tapi uang memang selalu menjadi senjata ampuh untuk memboost spirit anak-anak (mungkin orang dewasa masih setuju dengan pendapat saya ini? :p) . Selain itu, sebagai bentuk apresiasi, ibu (tentunya dengan duit ibu + duit ayah) akan mengajak anak-anaknya ke ibukota Provinsi yaitu Padang (berhubung kami tinggal di kota Painan yang berjarak kurang lebih 77 km dari Padang) untuk membeli segala bentuk perlengkapan sekolah. Jadi setiap tahun pelajaran baru kami tidak pernah absen mengunjungi toko buku GRAMEDIA. Sebebasnya anak-anak diperbolehkan untuk memilih buku cerita, buku pelajaran, tempat pensil, pensil, pena penghapus, rautan, spidol, penggaris, tipe-X, dll. Toko buku ini berasa milik sendiri kali ya? Tinggal comot dan bayar. Wwkwkwk. Tidak lupa, ibu juga membelikan kami seragam, tas, sepatu, beserta sejumlah peralatan tetek bengek lainnya. Rutinitas ini selalu menjadi tradisi setiap tahun sedari kami SD sampai SMA. Punya buku warna warni? Pastinya. Punya banyak tas? Iya. Sepatu? Alhamdulillah. Saya sadar ini merupakan salah satu bentuk perhatian ibu kepada anak-anaknya. Dan saya yakin cara ini sangat ampuh untuk meningkatkan motivasi anak di awal tahun pelajaran sekolah. Ibu sering bercerita bahwa  biasanya seminggu sebelum sekolah, kami bertiga sudah sibuk dengan membungkus-bungkus buku pelajaran dan buku catatan sekolah sembari menggunakan seragam beserta tas dan sepatu baru. Aduh, udah nggak sabar pengen sekolahhhh mennn. Hahahaha.

6.       GAJIAN per bulan
Sejak kecil setiap bulannya saya selalu merasa seperti seorang pegawai. Bagaimana tidak, di awal bulan ibu akan memberikan amplop kepada masing-masing anakberisi sejumlah uang jajan yang diperlukan dalam satu bulan. Ini sudah berlaku ketika saya duduk di kelas 1 SD. Untuk melatih kesiplinan sedari kecil, ibu berinisiatif untuk tidak memberikan jajan perhari setiap pagi. You should believe in me, it is really hard. Anak kelas satu SD harus mengatur jajan selama sebulan sendiri?Yes, it is a must.Saya adalah satu-satunya anak yang sering kebablasan, saya sering berfoya-berfoya di awal bulan dan merana-rana di akhir bulan. Jajan selalu menjadi tidak cukup dan menjadi momok yang mengerikan di akhir bulan, guys. Pastinya ibu memiliki solusi dengan memberikan sejumlah uang yang diperlukan, namun dengan status PINJAMAN, jadi saya harus siap-siap mengembalikan di bulan berikutnya sewaktu gajian. Ya, ini salah satu bentuk kedisplinan dan keadilan yang diberikan ibu kepada anaknya. UANG JAJAN ANAK SAMARATA. Jangan harap ketika uang jajan habis dari ibu, saya bisa merengek-rengek minta tambahan jajan ke ayah. Jawabannya NOPE. Kebetulan dalam keluarga saya, masalah uang sepenuhnya diatur oleh ibu. Jadi jangan harap ayah akan kasihan, karena ibu dan ayah sangat kompak dalam masalah ini.Konspirasi yang sempurna. Hmm, baiklah.

Okeee, sekian dulu cerita malaikat tanpa sayap yang saya tulis hari ini yaa. Sebenernya masih ada beberapa poin lagi sih bagaimana cara ibu mendidik kami hingga kami bisa dikatakan berhasil seperti ini *uhuk. Tapi saya keep dulu di postingan berikutnya ya, biar lebih penasaran sama ibu saya hahaha. Terimakasih yang sudah mampir :)

Sudah tau kan kira-kira saya yang mana? Hehehe






December 18, 2016

Career in NGO, Why Not?

Posted by Retya Elsivia at 6:06 AM


Bulan ini sudah terhitung masuk bulan ke-empat saya bekerja. Yes, time flies so fast, n here I am. Alhamdulillahirabbilalamin sekarang saya sudah mendapat pekerjaan setelah saya sempat sedikit galau dengan aktivitas tidak jelas selepas wisuda pascasarjana. Even this is not my wishlist for future job, atau tak pernah sekalipun terpikirkan akan bekerja disini but one thing for sure, Allah take me in the right place. Saya selalu bersyukur dengan pekerjaan sekarang karena saya percaya bahwa akan selalu ada pembelajaran dari setiap pengalaman. Yes, saya bekerja sekarang di salah satu NGO/LSM internasional yang berasal dari negara Jerman. Sounds good, right? Ini di luar dari ekspektasi, di luar dari cita dan harapan kedua orangtua. Bahkan ketika saya mendapatkan offering letter, orangtua saya tidak merestui pekerjaan ini 100% (saya yakin sepertinya persentase itu 60:40 :D). Mungkin dikarenakan orangtua terlalu berharap agar saya bisa menjadi seperti yang diinginkan oleh mereka, atau mungkin karena kami belum akrab dengan dunia per-NGO-an sehingga orangtua saya (terutama ibu) sangat mengkhawatirkan profesi ini untuk saya ke depan (meskipun saya hanya pegawai kontrak untuk beberapa tahun :P).
Memang tidak ada yang salah dan menurut hemat saya sejauh ini, tidak ada yang perlu diragukan ketika Anda mendapat tawaran untuk bekerja di NGO. And that’s why I am writing about that here. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman (at least selama 4 bulan bekerja di dunia NGO internasional). Semoga ini dapat sedikit menjelaskan kekaburan yang mungkin sedang teman-teman rasakan sekarang.  


1. Job = A piece of cake
Sepertinya poin pertama ini memang agak sedikit lebay. Hahaha. Karena bagaimanapun tidak ada pekerjaan yang gampang untuk dilakukan. Setiap hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, isn’t it? Jangan berharap dapat hidup mewah dan makan enak kalau pekerjaan yang dilakukan hanya goyang-goyang kaki di depan meja. Poin pertama ini maksudnya adalah ketika bekerja di NGO, saya merasa pekerjaan itu bukanlah seperti momok yang menakutkan, karena saya sering sekali mendengar bahwa bangku kuliah lebih meng-asyikan daripada bekerja, atau  mungkin ungkapan-ungkapan yang mengatakan bahwa ‘kamu akan merasakan under pressure yang amat dahsyat ketika di dunia kerja’, atau mungkin ‘kamu harus tunduk dengan semua yang dikatakan oleh pimpinan/boss’. Nothing. Mungkin saya bisa katakan ini tidak berlaku di tempat saya bekerja sekarang (and I don’t know how about another NGO but I guess it would be similar). Saya malah merasakan bahwa ketika bekerja di NGO, maka kita akan melakukan hal yang sama atau hampir sama setiap harinya seperti harus buat laporan, harus sosialisasi, harus pelatihan dan segala macam. Ketika kita mulai merasa bosan, ya kita harus berkreasi semampu dan sebisanya, mungkin berkreasi dari segi teknik atau penyampaian. Ketika kuliah? Boro-boro akan seperti itu, deadline demi deadline menunggu, tugas kuliah, persentasi, kuis, ujian tengah semester, ujian semester. Dan tentunya tugas dan bahan kuliah sangat variatif :”) Apalagi bagi teman-teman yang sedang menjalani kuliah di tingkat pasca sarjana, yang harus dipikirkan adalah mini riset, penelitian demi penelitian. Biasanya pertanyaannya adalah apa yang harus diteliti? Tugas kemaren apa kabar? Buku mana yang harus dibaca? Yes, that’s life. 
2.  Flexible.
Ketika bekerja di NGO, kita merasa menjadi bagian yang lepas dan tidak terikat oleh segudang aturan-aturan yang biasanya berlaku di dunia kerja. Dari segi pakaian, you can wear everything what you want as long as it is still acceptable in your environment. Kamu tidak perlu takut masuk kantor di hari Senin karena seragam yang belum kering. Kamu tidak perlu malu nongkrong ke mall karena takut salah kostum. Dari segi pekerjaan, kamu bebas mau melakukan apapun yang kamu inginkan tanpa diatur harus begini dan begitu, asalkan pekerjaanmu beres dan boss hanya tinggal menunggu laporan. Dari segi waktu, kamu tidak diperlakukan dengan peraturan strict seperti jam istirahat mulai pukul 12.00-13.00. Kamu tidak boleh telat 5 menit atau harus kembali kantor tepat pukul 13.00 teng teng, jika tidak kembali dalam waktu yang ditentukan maka akan ada sanksi, SP atau bla bla sebagainya. BIG NO!!!!
3. Travelling
Sepertinya ini menjadi interesting point. Yes, it was. Saya sering ditanya kenapa pekerjaannya selalu terlihat jalan-jalan kesana kemari, saya sering ditanya kenapa pekerjaannya terlihat tidak jelas kareana tidak harus stay di kantor setiap hari. Yup, ketika bekerja di NGO, khususnya ketika menjadi tim program, kita akan sering turun ke lapangan, bisa langsung balik hari, menginap 2 hari atau bahkan 5 hari, dan pastinya kita akan menjelajah berbagai hal. Saya pribadi selama hidup saya belum pernah naik boat yang lumayan kecil untuk mengarungi samudera atau mungkin hanya sekedar muara (karena tidak bisa berenang :P), namun saya tidak menolak kesempatan itu, jadilah itu pengalaman pertama, kedua dan ketiga saya dengan judul ‘bermain dengan boat’.  Pekerjaan ini cocok untuk orang-orang yang menyukai tantangan dan ingin merasakan warna-warni dunia. Singkat kata, ketika bekerja di NGO, kita akan sering jalan-jalan. Kebetulan program NGO saya kali ini berada di wilayah pesisir, jadi saya selalu menikmati pemandangan berlatar pantai, laut, kapal dan ikan-ikan. Tapi siap-siap gosong yaaa, karena sun block sudah tidak ampuh memecahkan masalah ini. Wkwkwk. 
4.  Networking
Ketika bekerja di NGO, selain jalan-jalan, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang baru. Kita akan bertemu dengan semua lapisan masyarakat, dari mulai pejabat teras hingga masyarakat biasa di pelosok-pelosok negeri. Ketika bekerja di NGO, pastikan bahwa Anda siap untuk terjun ke kampung-kampung, berhadapan dan berinteraksi dengan semua orang tanpa memandang status mereka. Selain itu kita juga akan bergaul dengan semua usia, baik nenek kakek, bapak ibuk, muda mudi dan anak-anak.  Disitu kita semakin belajar bagaimana mengenal karakter manusia dan pastinya membangun hubungan persaudaraan dengan banyak orang. Bukannya membangun ukhuwah itu berpahala? 
5. Caring
Ketika bekerja di NGO, sebagian besar kita akan bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pekerjaan ini membuat kita untuk dapat lebih membuka mata. Disini kita belajar peduli dan memikirkan orang lain. Kita belajar memposisikan diri pada orang lain. Jika di zaman perkuliahan, kita mengenal bahwa salah satu dharma perguruan tinggi adalah pengabdian masyarakat, maka biasanya di tahun ketiga, mahasiswa siap-siap menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ketika bekerja di NGO, saya merasakan hal yang sama kurang lebih seperti itu saat  berada di lapangan. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata NGO memiliki visi untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Artinya kita membantu orang lain untuk berdaya atau mampu untuk bertindak sendiri. NGO tempat saya bekerja sekarang ini juga fokus pada penyadang disabilitas. Ini merupakan salah satu hal yang membuat saya selalu termotivasi dan merasa bersyukur ketika saya bersama dengan mereka. Tuhan menciptakan manusia itu unik, pasti ada sisi kelebihan dibalik sisi keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masingnya.

Finally, terlepas dari masalah salary yang lumayan, bekerja di NGO bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk teman-teman yang tertarik dengan poin-poin di atas. Mungkin masih banyak hal-hal lain yang belum terungkapkan karena ini hanyalah pengalaman pribadi yang saya rasakan selama 4 bulan bekerja, and this is my first real job after graduation. Ini hanyalah sedikit gambaran, namun ibarat yin dan yang, hitam atau putih, tentunya setiap pekerjaan memiliki sisi positif dan negatifnya, pastikan saja bahwa You DO what you LOVE and you LOVE what you DO. Dimanapun dan apapun pekerjaan kita sekarang, yakinlah bahwa Allah is the best planer, so what you need just wait and see.


 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea