PENDAHULUAN
Bahasa
adalah sistem bunyi yang arbiter, konvensional yang digunakan oleh manusia sebagai
sarana komunikasi. Bahasa pertama yang
digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah bahasa ibu atau bahasa daerah. Bahasa
daerah merupakan bahasa pertama atau bahasa ibu yang digunakan dalam
kegiatan-kegiatan yang bersifat kedaerahan sesuai dengan kebudayaan daerah masyarakat
pemakainnya (Samsuri, 1991). Bahasa daerah adalah identitas sebuah bangsa yang
perlu dipelihara dan dilestarikan. Salah satu usaha untuk pelestarian bahasa
dapat dilaksanakan dengan penelitian terhadap bahasa daerah, karena dengan
demikian bahasa daerah akan tetap berkembang seiring perkembangan bahasa
Indonesia dan asing lainnya. Salah satu bahasa daerah di Nusantara adalah
bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau
adalah bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi oleh masyarakat Sumatera Barat
dalam kehidupan sehari-hari. Berpijak dari pentingnya kedudukan bahasa daerah, maka
kajian tentang bahasa Minangkabau perlu mendapat perhatian khusus, yaitu dengan
penelitian kajian morfologi.
Morfologi ialah ilmu yang mempelajari
hal-hal yang berhubungan dengan bentuk kata atau struktur kata dan pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap jenis kata dan makna kata (Yasin,
1988). Salah satu bentuk morfologis adalah afiksasi. Menurut Kridalaksana (2009),
afiksasi adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Sedangkan afiks
adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada
sebuah dasar dalam proses pembentukan kata (Chaer, 2012).Jadi proses afikasasi
merupakan suatu proses pembubuhan atau penambahan afiks pada bentuk dasar
sehingga menjadi bentuk kompleks. Bentuk dasar yang dimaksud bisa dalam bentuk
akar maupun frase, sedangkan proses afiksasi ini dapat berupa derivasi maupun
infleksi. Derivasi dan infleksi merupakan bagian dari proses morfologis yang
terdapat pada setiap bahasa dan sangat penting untuk dipelajari untuk melihat
pengkategorian kelas kata dan kekonsistensistenan proses tersebut di dalam
suatu bahasa.
Penelitian ini terbatas pada afiksasi
yang berderivasi. Katamba (1993:7) mengatakan bahwa derivasi berarti terdapat
perbedaan antara input (bentuk dasar)
dan output (bentuk jadian) sebagai hasil dari proses afiksasi. Perbedaan
yang dimaksud meliputi (i) kategori kata (ii) makna leksikal kedua yang
dimaksud. Sedangkan menurut Chaer (2012), pembentukan kata secara derivatif
membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan dengan
kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna,
sebab meskipun kelasnya sama, seperti kata makanan
dan pemakan, yang sama-sama berkelas
nomina, tetapi maknanya tidak sama. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa derivasi
adalah pembentukan kata dengan menambahkan afiks pada kata dasar sehingga
membentuk kata baru yang berbeda identitas leksikalnya.
PEMBAHASAN
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks
derivasi ba- pada N dapat menurunkan:
1.
Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + N tindakan à V tindakan
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks
derivasi ba- pada N akan menurunkan V
tindakan. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi tindakan. Hal ini
dinyatakan dalam bentuk rumusan berikut ini:
ba- + N tindakan à V tindakan
Afiks derivasi ba-
yang menurunkan V tindakan dari N tindakan (baik N dasar maupun N turunan)
adalah seperti berikut.
a.
Ndak tau nyo kalau awak bahutang banyak
(Dia
tidak tahu kalau saya punya banyak hutang)
b.
Kami sadang bapuaso
hari ko
(hari
ini kami sedang berpuasa)
c.
inyo pai barubek
ka rumah sakik patang
(kemaren
dia pergi berobat ke rumah sakit)
d.
iyo, si Ita lah bacarito
tantang masalah ko
(iya,
Ita sudah bercerita tentang masalah ini)
e.
tipenyo kalau bajanji
kancang
(dia
tipe orang yang suka cepat bikin janji)
Pada
contoh di atas terdapat V tindakan bahutang, bapuaso, barubek, bacarito,
bajanji. Proses afikasasi derivasi ini adalah pengimbuhan afiks derivasi ba-
pada N tindakan seperti hutang,
puaso, ubek, carito, janji. Pengimbuhan
afiks derivasi ba- pada N tindakan (baik N dasar maupun N turunan)
berfungsi menurunkan V tindakan atau verbalisasi tindakan (N tindakan à V tindakan). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan
N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik
oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR PROSES AFIKSASI VERBA
N tindakan V
tindakan
hutang (N) afiks derivasi ba- + N tindakan Bahutang (V)
puaso
(N) afiks derivasi ba- + N tindakan Bapuaso (V)
ubek
(N) afiks derivasi ba- + N tindakan Barubek
(V)
carito
(N) afiks derivasi ba- + N tindakan Bacarito
(V)
janji (N) afiks
derivasi ba- + N tindakan Bajanji (V)
Berdasarkan identifikasi
dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N tindakan menjadi V tindakan
(Ntindà
Vtind.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi leksem V. Pada contoh di
atas, afiks derivasi ba- mengubah
leksem N hutang, puaso, ubek, carito, janji
menjadi leksem V bahutang, bapuaso,
barubek, bacarito, bajanji.
2.
Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + N keadaan = V keadaan
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks
derivasi ba- pada N akan menurunkan V
keadaan. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi keadaan. Hal ini dinyatakan
dalam bentuk rumusan berikut ini:
ba- + N keadaan à V keadaan
Afiks derivasi ba-
yang menurunkan V keadaan dari N keadaan (baik N dasar maupun N turunan) adalah
seperti berikut.
a.
Banyak jalan nan lah balubang
(banyak
jalan yang sudah berlubang)
b.
Baa kok duduak bajarak
takah ko?
(kenapa
duduknya berjarak seperti ini?)
c.
Basaba
lah dulu yo, beko den carian
(sabar
dulu ya, nanti saya carikan)
d.
Rumah den bajauahan
jo rumahnyo.
(rumahku
berjauhan dengan rumahnya)
e.
Basiso sadonyo makanan
nan ado di rumah ko
(semua makanan
bersisa di rumah ini)
Pada contoh di atas terdapat V keadaan
balubang, bajarak, basaba, bajauahan, basiso. Proses afikasasi derivasi ini
adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N keadaan seperti lubang, jarak, saba, jauah, siso. Pengimbuhan afiks derivasi ba-
pada N keadaan (baik N dasar maupun N turunan) berfungsi menurunkan V keadaan
atau verbalisasi keadaan (N keadaan à V keadaan). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan
N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik
oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR PROSES
AFIKSASI VERBA
N keadaan V
keadaan
lubang (N) afiks derivasi ba- + N keadaan Balubang (V)
jarak
(N) afiks derivasi ba- + N keadaan Bajarak (V)
saba
(N) afiks
derivasi ba- + N keadaan Basaba (V)
jauah
(N) afiks derivasi ba- + N keadaan Bajauahan
(V)
siso (N) afiks
derivasi ba- + N keadaan Basiso (V)
Berdasarkan identifikasi
dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N keadaan menjadi V keadaan (Nkeaà Vkea.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi
leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N lubang,
jarak, saba, jauah, siso menjadi leksem V balubang, bajarak, basaba, bajauhan, basiso.
3.
Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + Nabstrak = V abstrak
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks
derivasi ba- pada N akan menurunkan V
abstrak. Proses derivasi ini merupakan verbalisasi abstrak. Hal ini dinyatakan
dalam bentuk rumusan berikut ini:
ba- + N abstrak à V abstrak
Afiks derivasi ba-
yang menurunkan V abstrak dari N abstrak (baik N dasar maupun N turunan) adalah
seperti berikut.
a.
Gambar kau ndak babantuak
baa ko
(gambarmu
tidak berbentuk seperti ini)
b.
Balam bawujuik
kahitaman.
(Balam
berwujud kehitaman)
c.
Alah lamo den ndak bahubungan jo Riri.
(sudah
lama aku tidak berhubungan dengan Riri)
d.
Wak ndak bamukasuik
bantuak tu tadi do
(aku
tidak bermaksud seperti itu tadi)
e.
Awak bamimpi
tantang carito yang dikecekan Uni patang
(saya bermimpi
tentang cerita yang Uni bilang kemaren)
Pada contoh di atas terdapat V abstrak
babantuak, bawujuik, bahubungan, bamukasuik, bamimpi. Proses afikasasi
derivasi ini adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N abstrak seperti bantuak, wujuik, hubungan, mukasuik, mimpi. Pengimbuhan afiks derivasi ba-
pada N abstrak (baik N dasar maupun N turunan) berfungsi menurunkan V abstrak
atau verbalisasi abstrak (N abstrak à V abstrak). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan
N (output) diketahui dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik
oposisi dua-dua seperti berikut ini.
DASAR PROSES
AFIKSASI VERBA
N abstrak V
abstrak
bantuak (N) afiks derivasi ba- + N abstrak Babantuak (V)
wujuik
(N) afiks derivasi ba- + N abstrak Bawujuik (V)
hubungan
(N) afiks derivasi ba- + N abstrak Bahubungan (V)
mukasuik
(N) afiks derivasi ba- + N abstrak Bamukasuik (V)
mimpi (N) afiks derivasi ba- + N abstrak Bamimpi (V)
Berdasarkan identifikasi
dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N abstrak menjadi V abstrak (Nabsà Vabs.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi
leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N bantuak,
wujuik, hubungan, mukasuik, mimpi menjadi leksem V babantuak, bawujuik,
bahubungan, bamukasuik, bamimpi.
4.
Proses Derivasi: Afiks derivasi ba- + N = V kepemilikan
Proses derivasi yang berupa pengimbuhan afiks
derivasi ba- pada N akan menurunkan V kepemilikan. Proses derivasi ini
merupakan verbalisasi kepemilikan. Hal ini dinyatakan dalam bentuk rumusan
berikut ini:
ba- + N à V kepemilikan
Afiks derivasi ba-
yang menurunkan V kepemilikan dari N adalah seperti berikut.
a.
Urang kayo tantulah baoto rancaknyo
(orang
kaya pasti bermobil bagus)
b.
Karajo den basawah
salamo ko
(kerja
saya bersawah selama ini)
c.
Ndak disangko kironyo inyo babini duo
(tidak
disangka ternyata dia beristri dua)
d.
Anak ketek baru lahia ko alun banamo
(anak
kecil baru lahir ini belum bernama)
e.
Abak suko bana basaluang
di muko rumah.
(ayah suka
sekali bersalung di depan rumah)
Pada contoh di atas terdapat V kepemilikan
baoto, basawah, babini, banamo, basaluang. Proses afikasasi derivasi ini
adalah pengimbuhan afiks derivasi ba- pada N seperti oto, sawah, bini, namo, saluang. Pengimbuhan afiks derivasi ba-
pada N berfungsi menurunkan V kepemilikan atau verbalisasi kepemilikan ( N à
V kepemilikan). Perbedaan kelas kata dasar (input) dengan N (output) diketahui
dengan tes keanggotaan kategorial kata dan teknik oposisi dua-dua seperti
berikut ini.
DASAR PROSES
AFIKSASI VERBA
N V kepemilikan
oto (N) afiks
derivasi ba- + N kepemilikan Baoto (V)
sawah
(N) afiks derivasi ba- + N kepemilikan Basawah (V)
bini
(N) afiks
derivasi ba- + N kepemilikan Babini (V)
namo
(N) afiks
derivasi ba- + N kepemilikan Banamo (V)
saluang (N) afiks
derivasi ba- + N kepemilikan Basaluang (V)
Berdasarkan identifikasi
dan oposisi kelas kata N turunan dengan D, afiks derivasi ba- berfungsi mengubah kelas kata N menjadi V kepemilikan (Nà Vkep.) dan berarti pula mengubah leksem N menjadi
leksem V. Pada contoh di atas, afiks derivasi ba- mengubah leksem N oto,
sawah, bini, namo, saluang menjadi leksem V baoto, basawah, babini,
banamo, basaluang.
REFERERENSI
1.
Chaer, Abdul.
2012. Linguistik Umum. Jakarta:
Rineka Cipta.
2.
Kamus Besar
Bahasa Indonesia [Online] Tersedia: http://kbbi.web.id/
3.
Kridalaksana, H.
2009. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
4.
Yasin, Sulchan.
1988. Tinjauan Deskriptif Seputar
Morfologi. Surabaya: Usana Offset Printing.