January 25, 2015

Satu Semester di Yogyakarta

Posted by Retya Elsivia at 2:39 AM

Bulan ini adalah bulan ke 5 aku berada di Yogyakarta. satu semester telah dilalui sebagai mahasiswa Pascasarjana Linguistik Universitas Gadjah Mada. Hidup di antara masyarakat yang  berbudaya dan berbahasa Jawa, it's really a good thing for me. disini aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi kaum minoritas, disini aku belajar tentang kemandirian, disini aku belajar banyak how's life without my parent yang tiap minggu biasanya selalu setia mengujungiku ke kota :")


if you ask me, is it difficult? 
the answer is yesssssss...
aku belajar pertama kali hidup berpisah beda pulau dengan orangtua, satu semester ini masih di penuhi dengan perasaan home sick yang terus melanda, tinggal di kamar 3x3 sendirian melepas penat selepas kuliah, duduk menatap jendela kamar yang berada di lantai 3, sambil melihat pesawat udara hilir mudik di angkasa, aku ingin sekali berada di dalamnya, dan tolong bawa aku menuju rumah ku di Sumatera. 

but, i believe tomorrow should be better, keep focus, keep pray, keep shoot the goal as the best gift for the parents :")

banyak sekali pengalaman yang dilalui selama satu semester ini. pastinya aku belajar cultural diversity, aku belajar mengenal teman-teman dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kendari, Makassar, Lampung, Jakarta, dan banyak lainnya. semua teman-teman 'unik' dengan budaya dan bahasa masing-masing. teman-teman yang memiliki satu visi, belajar menuntut ilmu dan kembali ke rumah sebagai Master of Arts serta mengabdi pada nusa dan bangsa.
taken in Prof Soepomo's Joglo. Tuesday afternoon as always here 

Happy Batik's day :)


disini aku benar-benar belajar linguistik dari linguis hebat Indonesia seperti Prof Soepomo, dosen pengampu mata kuliah Teori Linguistik, Prof I Dewa Putu Wijana, dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik, Dr. Inyo Yos Fernandez, dosen pengampu mata kuliah Linguistik Historis Komparatif, Dr. Suhandano, dosen pengampu mata kuliah Linguistik Umum. setiap dosen memiliki ciri yang mengajar yang unik dengan karakteristik masing-masing yang pasti akan selalu di ingat oleh mahasiswa.


 foto bersama bapak Dr. Inyo Yos Fernandez
 foto bersama bapak Dr. Suhandano 
 foto bersama bapak Dr. Lasiyo, dosen Filsafat Ilmu

satu hal yang aku rasakan disini adalah aku bener-bener merasakan how  should classroom environment. teman-teman yang aku banggakan yang semuanya memiliki satu visi denganku. tidak ada mahasiswa yang malas belajar, mengeluh tentang tugas atau bacaan yang banyak, kuis yang selalu datang tiap 2 minggu sekali dan sering di pending disaat kita semua telah ready to face it.
berhubung aku tipikal orang yang panikan dan gampang stress ketika dihadapi masalah khususnya masalah tugas, pernah waktu itu aku shock mendengar dosen yang akan memberi kuis dari satu buah buku which is consist of 6 chapters. aku bener-bener kesal karena aku takut untuk tidak dapat dapat menjawab degan baik. n how bout others? mereka hanya tersenyum menghadapinya, mungkin istilah sekarang woles wae. tapi setelah itu kita pun terbiasa untuk kuis dari 2 buah buku, 3 buah buku bahkan 7 lebih buah buku utk ujian semester. yeayyyy.....


dan pada kuliah pasca sarjana, setiap mahasiswa dituntut untuk aktif di kelas. biasanya akan ada persentasi pada hampir semua mata kuliah, yes it's absolutely depend on the lecturer right? ya, karena setiap dosen 'unik' dengan metode pengajarannya sendiri. dan pada selama perkualihan berlangung, kita bener-bener dituntut untuk menghasilkan lembaran-lembaran kertas yang indah yaitu paper berisi analisis atau tugas, apalagi di saat Ujian Akhir Semester, mostly kita ujiannya adalah take home, bikin sebuah paper, n it's look like mini thesissss. Oh Godddd, beberapa paper main kejar-kejaran untuk diselesaikan tepat pada waktunya. dan menariknya disini adalah dosen yang bersangkutan is kindly open to discuss with student. dosen bisa dihubungi saat mahasiswa memerlukan bantuan ataupun sekedar konsultasi. it's totally different with my previous collage.

how about the student? yesss, i learn a lot about  people character here, in the end of semester, i found many character changes from previously I met. hahahaha itu biasa. anggap saja semester ini adalah proses adaptasi untuk menemukan best mate ever yang memiliki satu visi dan enak di ajak bekerjasama. dan what should be to underline ialah pada saat UAS, tidak semua mahasiswa akan mencicil tugasnya dengan baik dari waktu minggu tenang yang kurang lebih berjarak 2-3 minggu dari UAS. temen-temen masih memilih menjadi last minute person, the deadliner yang selalu menyelasaikan tugas H-1, menjalankan SKS, sistem kebut semalam, dan pada saat malam H-1, teman-teman akan sibuk mengobrol di akun group kelas, membahas tentang preparation bahkan terkadang memilih begadang demi paper. hahahaha.  

everything always have unique side to remember. thankyou for coloring my semester 1 in Yogyakarta, n wait for the nexy story in the next semester yaa :)






Yogyakarta, Sunday, January, 25th, 2015 @my sweet boarding house



April 29, 2014

Posted by Retya Elsivia at 9:55 PM
Cerita Pengalaman Kuliah Kerja Nyata RETYA ELSIVIA (0910732036) di Nagari Cubadak, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, 04 Juni- 17 Juli 2012

Aku Suka “Cubadak”

Nagari Cubadak, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman.  Sebuah nama daerah yang cukup membuat ku shock saat pertama kali melihatnya. Tak pernah terbayangkan akan tinggal selama berhari-hari di daerah yang sangat jauh dari pusat kota ini, apalagi rumor yang selalu beredar dari tahun ketahun mengatakan bahwa Pasaman terkenal dengan magic-nya. Pikirankupun mulai bercabang saat membayangkan bagaimana kehidupan yang akan kujalani ke depannya nanti. Akupun mulai mencari informasi tentang daerah Cubadak baik dari situs internet, teman ataupun orang tua.  Kepanikanku bertambah saat mengetahui masyarakat Cubadak menggunakan bahasa Mandahiling sebagai bahasa utama mereka. Hanya pikiran negatif yang telintas di benakku hari demi hari ketika teman-teman di kampus mulai membicarakan tentang KKN.  Mahasiswa yang meninggal karena keracunan, mahasiswa yang di makan buaya, mahasiswa yang tak mau kembali pulang saat KKN telah berakhir, hanya itu yang menjadi topik pembicaraan saat teman-teman menanyakan tentang lokasi KKN-ku. “Cobaan apalagi ini !”, pikirku dalam hati.
04 Juni 2012 merupakan titik awal di mulainya kehidupanku sebagai mahasiswa yang siap untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Gambaran sebelumnya mengenai nagari Cubadak sudah lekat dalam pikiranku ketika kami telah melakukan observasi sebelumnya. Medan yang cukup berat dan menantang merupakan satu hambatan baru yang harus kami hadapi lagi. “Life is challenging” mulai menjadi moto penyemangat hidupku. Sebisa mungkin aku akan terus berjuang agar bisa menjadi mahasiswa yang berguna bagi masyarakat nagari Cubadak. Sambutan hangat dari masyarakat, khususnya bapak wali nagari dan kepala jorong sedikit demi sedikit mulai menghapus ketakutanku. Senyuman yang tidak akan pernah ku lupakan sampai kapanpun juga.
 Rasa sedih bercampur bahagia ku rasakan saat di minggu pertama pelaksanaan KKN. Saat itu aku mengetahui bahwa siswa-siswi Sekolah Dasar di jorong kami tinggal belum pernah di perkenalkan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Sungguh pemandangan yang sangat kontras ku rasakan dengan kehidupan kota dimana anak Taman Kanak-kanak di kota sudah mulai lancar berbahasa Inggris. Konon kabarnya, sekolah dasar ini belum pernah memiliki guru Bahasa Inggris yang profesional yang bisa mengajar. Saat itu kepala jorong memintaku agar secepat mungkin melaksanakan program kerja utamaku sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Bahagia rasanya saat programku menjadi kebutuhan prioritas masyarakat jorong Pambangunan. Besar harapanku selepas KKN berakhir nanti siswa-siswi Sekolah Dasar jorong Pembangunan mulai mengerti Bahasa Inggris lebih banyak lagi. 
Setelah meminta izin dari pihak sekolah, aku dan tiga orang temanku mulai mengajar Bahasa Inggris di jam pelajaran berlangsung. Semangat membara dan rasa antusias yang tinggi terlihat dari wajah polos siswa-siswi berseragam merah putih ini. Mereka memperhatikan setiap apapun materi yang kami ajarkan. Seringkali ku dengar  pelafalan kata yang salah dari mulut kecil mereka tapi itu semakin memacu tekadku agar bisa membantu mereka semampuku. Kami belajar di sekolah pada pagi hari dan di lanjutkan dengan belajar privat di sore harinya. Banyak anak-anak sekolah dasar yang memenuhi posko kami, meskipun agak berisik, tapi itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku ketika melihat mereka tertawa saat belajar sambil bermain dengan Bahasa Inggris. Tak tanggung-tanggung siswa-siswi sekolah dasar masih memintaku untuk mengajari mereka  Bahasa Inggris saat minggu ujian berlangsung. Sungguh semangat belajar luar biasa yang jarang ku temui pada anak-anak seusia mereka. Namun keterbatasan waktu membuatku hanya bisa mengajari Bahasa Inggris siswa-siswi sekolah dasar jorong Pembangunan pada tahap Bahasa Inggris permulaan saja seperti huruf, angka, warna, bagian tubuh, perkenalan diri, hari, bulan, binatang, buah dan kosa-kata sehari-hari lainnya. Di minggu-minggu berikutnya aku mulai di sibukkan dengan program kerja utama lain seperti mengajar Bahasa Inggris di dua jorong tetangga yaitu Lanai dan Tanah Putih. Selain itu aku juga mulai membantu teman-temanku untuk mengajar Matematika, kegiatan lomba dan perayaan Isra Mi’raj, rumah pangan mandiri, lomba class meeting, menghadiri perpisahan Paud yang hampir di semua jorong, kegiatan nagari SEHATI, dan berbagai kegiatan dari program-program kami lainnya. 
    Banyak suka dan duka yang kami lewati selama kurang lebih 40 hari menjalani Kuliah Kerja Nyata ini. Kami mahasiswa KKN nagari Cubadak terdiri dari 9 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Selain aku dari jurusan Sastra Inggris, ada Diah dari jurusan Kimia, Sara dari jurusan Sejarah, Selsi dari jurusan Peternakan, Fika dari jurusan Matematika, Yuni dan Ayu dari jurusan teknik pertanian, Eko dari jurusan Pendidikan Dokter, Gera dari jurusan Hukum, Anty dan Andres dari jurusan Agribisnis, Bima dari jurusan Hubungan Internasional, Jevi dari jurusan Teknik Sipil, Inyep dari jurusan Manajemen, Gantha dari jurusan Teknik Mesin dan terakhir Nova dari jurusan Kesehatan Masyarakat. Aku belajar untuk memahami karakter masing-masing karena setiap teman-temanku memiliki karakter yang sangat berbeda-beda, apalagi kami saja baru kenal pada saat KKN ini berlangsung. Kami sering melakukam perbincangan baik sekedar obrolan ringan ataupun serius agar bisa mengenal satu sama lain lebih dekat lagi. Tak jarang kami di beritahukan agar segera kembali pulang ketika rapat masih saja berlangsung pada malam hari. Adapun tujuannya adalah agar tidak menimbulkan gunjingan dalam masyarkat berhubung kami tinggal di rumah berbeda antara perempuan dan laki-laki. Disini kami belajar bagaimana mematuhi norma-norma yang ada pada masyarakat agar tidak di pandang buruk ataupun tidak menyenangkan oleh masyarakat setempat. Sebisa mungkin kami berusaha agar tidak memberikan pengaruh kehidupan kota yang buruk pada mereka. Dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa ku ambil ketika aku hidup bersama 15 orang temanku ini, seperti cara bekerja sama dalam kelompok, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah dan berbaur dengan masyarakat setempat.

But, Life must go on. Ketika aku sudah merasakan kenyamanan dan kesederhanaan hidup di nagari Cubadak, saat itu juga aku harus siap untuk kembali ke kehidupanku semula. Ingin rasanya lebih lama lagi tinggal di daerah asing yang sangat kutakuti dulu ini dan sejenak melupakan beban kuliah yang menunggu di tahun akhir ketika aku menjadi mahasiswa. Perpisahan yang semula ku pikir menjadi kebahagiaan setelah lepas dari kukungan neraka berubah menjadi kesedihan tak kunjung duka. Air mata seakan tak berhenti membanjiri pipiku ketika bus kampus yang kami naiki melewati sepanjang jalan kenangan KKN yang biasanya kami lewati sehari-hari. Lambaian tangan, salam perpisahan, air mata duka dari masyarakat nagari Cubadak turut mengantar kepergian kami. Tidak ada sedikitpun hal aneh yang terjadi saat masa KKN kami berlangsung dan aku menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang baik bagi setiap hambaNya selagi mereka masih terus melakukan kebajikan di jalanNya. Percayalah bahwa keburukan bisa saja terjadi pada siapapun dan dimanapun jika mereka tidak bisa menjaga. Cubadak tidak pernah memberikan kesan buruk sepanjang perjalanan KKN-ku. Tak heran jika aku suka Cubadak, teman. 


 A Time Gone, but Memories Remain, n this is US !!!!

 Memberikan kata sambutan untuk perpisahan PAUD

 Solidarity Forever, Could we? Allahu a'lam

 Tugu yang di buat dengan tangan sendiri. dari KITA untuk KITA. Dan biarkan ia terus berdiri gagah sebagai bukti anak manusia yang pernah menginjak tanah di atasnya.

 Life is never really same again :')

 Semoga ilmu yang kami berikan bermanfaat

pemandangan desa Lanai, semoga terus mengajari kita akan arti bersyukur dengan kehidupan 

November 04, 2013

Linguistics

Posted by Retya Elsivia at 7:53 AM
Language is the primary thing in human life. Human and language can not separate because language use as communication tool than can help human to interact each other. According to Chomsky, language is one characteristic that is unique to humans among all other living beings. Philosophy of language are the collection of results of philosophers’ minds about basic concepts of language that systematically arranged to be studied by using a particular method and also methods of thinking deeply, logical, and universal about the nature of language. Philosophy of language can be seen from two points of view. First, the philosophy of language is seen as a science and second, the philosophy of language is seen as a method. If viewed as a science, philosophy of language refers to the collection of the results of the minds of philosophers of language systematically arranged to be studied by using a particular method. If viewed as a method of thinking, philosophy of language refers to the method of thinking in depth, logical, and universal about the nature of language (Hidayat, 2009: 13). Philosophy of language is the combination of linguistic and philosophy.
Linguistics is the scientific study of language. This could solve the complicatedness of language such as form, function, meaning, value and ideology. According to Robin, there are four point of view of linguistics:
·         Descriptive Linguistics
Descriptive linguistics considered with the description and analysis of the ways in which a language operates and used by a given a set of speakers at a given time.
·         Historical Linguistics
Historical linguistics is the study of the developments in language in the course of time of the ways in which language change from period to period, and the course and result of such changes, both outside the language and within them.



·         Comparative Linguistics
Comparative linguistics is concerned with comparing from one or more point of view two or more different languages and more generally with the theory and techniques applicable to such comparisons.
·         Prescriptive Linguistics
Prescriptive linguistics is a grammar which states rules for what is considered the best or most correct usage.
There are three subdivision of linguistics which are microlinguistics, macrolinguitics, and applied linguistics. Microlinguistics deals with the internal structure of language like the structure of phonology, morphology, syntax, and lexicon. Meanwhile Macrolinguistics deals with the relation of the language with all the aspects beyond of the language itself. For example: social factors, psychology, anthropology, and neurology. Applied linguistics is the application of the concepts and findings of linguistics to a variety of practical tasks, including language-teaching.
There are some linguistics objects that include in microlingutics such as:
1.       Phonology. Phonology is the study of the sound systems of languages, and of the general or universal properties displayed by these systems. In phonology, there are concept like phonetics which is the study of the physical and physiological aspects of human sound production and perception; generally divided into articulatory, acoustic, and auditory branches.
2.      Morphology. Morphology is the branch of grammar that studies how words are formed from morphemes. In morphology, there are concepts like free and bound morpheme. Free morpheme is a morpheme which can stand alone to make a word by itself. Contrasts with bound morpheme which is a morpheme which cannot stand alone to make a word, but must be combined with something else within a word.
3.      Syntax. Syntax is the study of the rules governing the way words and morphemes are combined to form phrases and sentences. In syntax, there is concept like adjunct which is an optional element of a grammatical construction, whose removal does not affect the structural identity of the construction.
4.      Semantics. Semantics is the study of meaning in language; in generative grammar: how the meanings of words combine to form complex meanings of phrases and sentences. In semantics, there are concept like synonymy, hyponymy and opposites. Synonymy is the relationship between two expressions that have the same sense. Hyponymy is the relationship between expressions such that the meaning of one expression is included in the meaning of the other. Opposites is the relationship of being "opposite in meaning".
Contrast with microlingutics, macrolingutics also have object such as:
1.      Pragmatics. Pragmatics is the study of the use of language in context. In pragmatics, there is ethnography of communication concept proposed by Dell Hymes (1974) often used for describing context consist of setting (scene), participants, ends, act sequence, key, instruments, norms, genre.
2.      Sociolinguistics. Sociolinguistics is the study of the relationship between language and society. In sociolinguistics study, there are concept like dialect and variety. Dialect is a variety of a language used recognizably in a specific region or social by a specific social class. Variety is a term used to denote any identifiable kind of language.
3.      Psycholinguistics. Psycholinguistics is a branch of study which combines the disciplines of psychology and linguistics. It has been heavily influenced by the work of Noam Chomsky, and it mostly concerns with the encoding and decoding of meaning in speech. The concept is like language acquisition which is the process by which humans acquire the capacity to perceive and comprehend language, as well as to produce and use words and sentences to communicate.
In applied linguistics, there are object like translation and language-teaching in order of practical tasks. Translation is the process of transferring text from one language into another. In translation, the concept is like borrowing which is a translation procedure whereby the translator uses a word or expression from the source text in the target text unmodified.
References:

Hidayat, Asep Ahmad. 2009. Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Cetekan kedua. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Hymes, Dell. 1974. Foundations of Sociolinguistics: An Ethnographic Approach. Philadelphia: U of Pennsylvania P.
Introduction to General Linguistics, Winter term 2011/12.
Robins, RH. 1990. General Linguistics: An Introduction Survey. London: Longman.

 

LOVE THE LIFE YOU LIVE Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea